Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/bangkit-merajut-kebhinnekaan/

Bersama Kristus, Bangkit Merajut Kebhinnekaan

Sahabat muda yang terkasih, kita sudah lelah dan jenuh mendengar berita kekerasan yang beredar. Dari berbagai daerah, orang-orang menumpahkan darah sesama manusia sembari menyerukan nama Allah. Ironis bukan? Allah yang adalah Sang Pemberi Kehidupan justru dicatut Nama-Nya untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang memusnahkan kehidupan. Benih kebencian ditabur di mana-mana dengan menggunakan sentimen suku bangsa, ras, dan agama. Bagaimana orang muda bisa menemukan sukacita dalam situasi seperti ini?

Bersama Kristus, Menyusuri Jejak Bangsa

Sebagai bangsa Indonesia, kita memiliki identitas “Bhinneka Tunggal Ika” – berbeda-beda tapi tetap satu jua, namun identitas kebhinnekaan ini telah dikoyakkan oleh kebencian. Orang muda Katolik Paroki St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta, mengangkatnya dalam Ekaristi Paskah Kaum Muda (EPKM), 15 April 2017, pk 23.00. Dengan mengusung tema “Bersama Kristus, Bangkit Merajut Kebhinnekaan”, EPKM ini hendak mengajak orang-orang muda untuk merefleksikan karya keselamatan Allah yang senantiasa hadir dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Berdasarkan renungan keselamatan Allah, janganlah kita hanya membatasi diri pada peristiwa historis 2000 tahun silam di mana Yesus Kristus menderita sengsara, wafat, dan kemudian dibangkitkan oleh Bapa dalam kemuliaan. Keselamatan telah dihadirkan Allah sejak semula dengan Allah menciptakan dunia kehidupan ini sungguh amat baik (Kej 1:1,26-31a) – termasuk kehidupan kita yang sekarang, ada di tanah Indonesia bumi kita pertiwi. Kita patut bersyukur bahwa tanah air Indonesia ini diciptakan dengan alam yang begitu indah serta beragam.

Keindahan alam dan keragaman manusia Indonesia ini memancarkan semarak kemuliaan Allah. Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa. Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” menuntun umat kepada rasa syukur.

Allah tidak hanya menciptakan di awal, tapi Allah senantiasa menyertai perjalanan umat manusia. Perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji (Kel 14:15-15:1) adalah proses pembentukan bangsa, di mana suku-suku Israel dipersatukan menjadi satu bangsa. Ribuan tahun kemudian tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemudi Indonesia dari berbagai daerah berkumpul dan menyatakan sumpahnya untuk mempersatukan Indonesia. Mereka membangun hasrat dan merintis usaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Penyalaan Lilin Paskah adalah simbol Yesus Kristus, Cahaya Sejati yang mengalahkan kegelapan maut dan dosa. Sebagaimana tiang api dan tiang awan menuntun bangsa Israel melewati Laut Merah, Yesus Kristus menuntun bangsa kita menuju pintu gerbang kemerdekaan. Hal ini disimbolkan dengan perarakan Lilin Paskah, lambang Sang Cahaya bersama dengan Sang Saka Merah Putih, lambang perjuangan bangsa Indonesia.

“Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanahnya sendiri, mereka menajiskan tanah itu dengan tingkah laku mereka” (Yeh 36:17). Allah begitu murka karena bangsa Israel mencemarkan tanah terjanji yang dikaruniakan Allah dengan menyembah berhala. 71 tahun telah berlalu sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, bangsa kita justru mencemari kemerdekaan itu dengan memandang rendah dan melukai saudara-saudari sebangsanya yang berbeda suku, agama, dan cara pandang. Kita justru berkelahi dan membangun tembok pemisah.

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati. Air matanya berlinang, mas intannya terkenang. Nyanyian lirih “Kulihat Ibu Pertiwi” mengiringi visualisasi orang-orang muda membangun tembok karena tak sanggup menerima sesamanya yang berbeda.

Akan tetapi, Allah tidak tinggal diam. Kasih-Nya jauh lebih besar daripada dosa dan pelanggaran kita. Ia terus berkarya membebaskan manusia dari kepicikan hatinya. “Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri; Aku akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (Yeh 36:24). Hal ini digambarkan dengan visualisasi orang-orang muda berpakaian daerah masuk dan merangkul mereka yang bertikai. Tembok dirobohkan! Puing-puing tembok dikumpulkan dan disusun kembali membentuk satu semangat “Beragam tak harus Seragam.”

Karya agung keselamatan ini mencapai puncak-Nya, ketika Tuhan kita Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal, beralih dari kematian menuju kehidupan. Lewat pembaruan janji baptis, kita diingatkan bahwa kita telah di¬kuburkan bersama-sama dengan Dia oleh pembaptisan dalam ke¬ma¬ti¬an, supaya, seperti halnya Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup da¬lam hidup yang baru (Rm 6:4). Kebangkitan Yesus Kristus yang kita kenangkan ini adalah undangan untuk merayakan kehidupan baru yang telah dianugerahkan kepada kita karena kasih-Nya.

Bersama Kristus, Meruntuhkan Tembok Pembatas

Apa tanggapan kita terhadap undangan kasih Allah tersebut supaya kita tidak menghambakan diri lagi kepada dosa (Rm 6:6)? Sebagai manusia baru, kita ingin bangkit bersama Dia dan merajut kembali kebhinnekaan bangsa kita. Lantas, konkretnya apa? Paus Fransiskus mengatakan: “Orang yang berpikir hanya mengenai membangun tembok, bukanlah orang Kristiani.”

Oleh karena itu, kita harus meruntuhkan tembok di hati kita yang membuat kita menciptakan sekat-sekat dengan sesama. Dan ketika kita mampu meruntuhkannya dan membangun kerjasama dengan sesama, kita akan menemukan sukacita. Rm. Koko Siswijayanto, SJ yang memimpin EPKM merangkumnya secara manis tapi tajam: “Kau (Allah) ciptakan manusia dalam kebhinnekaan, kurajut perbedaan menjadi keharmonisan kehidupan.”

Sedikit berbagi pengalaman dalam mempersiapkan EPKM ini, kami juga merasakan penyertaan Allah sehingga EPKM ini sungguh-sungguh menjadi proses yang mendobrak sekat-sekat perbedaan diantara penyelenggaranya. Sebagai tim kerja Ekaristi Kaum Muda (EKM), kami merasa tidak mudah mencari orang-orang yang mau membantu pelaksanaan EPKM tengah malam dan baru selesai dini hari. Namun berkat usaha mau menyapa kelompok-kelompok lain, EPKM ini bisa terlaksana sebagai hasil kolaborasi tim kerja EKM Kotabaru bersama dengan Mudika Kotabaru, tim tari, paduan suara Con Affeto, lektor, Putra-Putri Altar, dan tim-tim kerja lainnya.

Kami juga mengapresiasi umat yang mau hadir dalam jumlah cukup besar di EPKM ini. Seorang umat berkomentar bahwa baru kali ini ia merasa sungguh dilibatkan dalam Ekaristi dan bukan hanya menjadi penonton Imam dan pelayan liturgi. Bukankah ini juga berarti tembok pembatas diruntuhkan supaya umat makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri? “Jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif” (Sacrosanctum Concilium, 48).

Maka, sebelum menerima berkat dan pengutusan, seluruh umat yang sudah berkobar-kobar hatinya karena hidup baru yang dianugerahkan Kristus, mengikrarkan Sumpah Pemuda bersama-sama.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Inilah kebangkitan! Inilah sukacita Paskah!

Penulis: Adrianus Riswanto, SJ