Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/banyumasan-kota-kesederhanaan/

Banyumasan Kota Kesederhanaan

Keuskupan Purwokerto termasuk dalam salah satu daftar keuskupan yang nantinya menjadi tempat terselenggaranya Days in the Dioceses pada Asian Youth Day ke-7 tahun ini. Keuskupan ini merupakan sufragan Keuskupan Agung Semarang yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Batang, Brebes, Kebumen, Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Purworejo, Tegal, Cilacap, dan Wonosobo.

Daerah-daerah yang tercakup dalam wilayah keuskupan purwokerto ini sebagian besar masuk dalam wilayah karesidenan banyumas yang memiliki bahasa jawa khusus dan sedikit berbeda dengan bahasa jawa jogja ataupun solo. Perbedaan yang paling kentara adalah pelafalan huruf a yang dibaca tetap ‘a’ bukan ‘o’ seperti dalam bahasa jawa jogja maupun solo, contohnya pada kata sega /sega/ bukan sega /sego/. Bahasa ngapak ini sangat mewakili sifat apa adanya dan kesederhanaan warganya sampai-sampai ada ungkapan ora ngapak ora kepenak (tidak banyumasan tidak nyaman) yang menunjukkan kebanggaan warga setempat terhadap bahasa tersebut.

Sebagian besar umat yang berdomisili di Keuskupan  yang saat ini dipimpin oleh Administrator Diosesan, R.D. Tarcisius Puryanto, ini adalah petani, maka pemandangan sawah yang asri nan hijau sangatlah mudah ditemukan di wilayah keuskupan ini. Tidak hanya itu, wisata alam seperti curug atau air terjun dan pantai yang masih bersih dan indah juga cukup mengundang untuk dijelajahi.

Salah satu wisata air alami yang paling terkenal adalah pancuran tujuh yang terletak di kawasan wisata Baturaden, tetapi curug-curug lain di sekitar karesidenan Banyumas juga tak kalah menarik. Ada curug bayan, curug nangga, curug jenggalan, dan masih banyak lagi.

Dan dewasa kini, pemerintah daerah di wilayah kabupaten Kebumen sedang giat-giatnya untuk membuka kawasan wisata baru di pesisir pantai. Beberapa pantai yang patut untuk dikunjungi yaitu pantai menganti, pantai watu bale dan pantai lampon yang masih terhubung dalam satu jalur.

Tentunya, mengunjungi daerah keuskupan purwokerto tak lengkap bila belum mencoba kuliner khas saerah ini yaitu tempe mendoan. Tempe ini berbeda dengan gorengan tempe di kota lainnya karena berukuran lebih besar dan dimasak dengan campuran tepung, bumbu kunir dan daun bawang yang diracik secara khusus.

Selain mendoan, makanan khas yang patut dicoba ketika berkunjung ke daerah ini adalah soto sokaraja. Soto khas daerah yang terkenal sebagai pembuat kerajinan genting ini menggunakan santan pada kaldunya dan babat sapi sebagai bahan utamanya, ditambah taburan bawang goreng dan kerupuk, hidangan ini pun menjadi semakin nikmat dinikmati hangat-hangat.

Kesederhanaan penduduknya tidak hanya nampak dalam keseharian mereka, tetapi juga terlihat pada makanan khas daerah yang terbuat dari bahan sederhana seperti singkong. Ciwel  adalah salah satu contoh jajanan yang diolah dari bahan dasar singkong dan dicampur dengan aci atau pati kanji lalu ditaburi kelapa serut. Contoh lain makanan yang berbahan dasar singkong adalah cimplung dan gethuk goreng. Keduanya sama-sama diberi bumbu gula jawa sehingga menghasilkan rasa manis nan legit yang membuat rindu, tetapi cimplung disajikan utuh dan berkuah sedangkan gethuk goreng ditumbuk halus terlebih dahulu sebelum digoreng sampai renyah.

Tempat wisata rohani yang paling terkenal di Keuskupan Purwokerto adalah Goa Maria Kaliori kecamatan Kalibagor, Banyumas. Goa Maria ini cukup luas dan nyaman dipandang karena pohon-pohon rindang yang ditanam. Suasana tenang, damai dan angin-angin sejuk membuat berziarah semakin khusyuk ketika berdoa pada patung Bunda Maria yang telah diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II. Mungkin karena suasana nyaman dan kesederhanaan yang disuguhkan alam dan warganya inilah yang membuat Keuskupan Purwokerto memiliki pesonanya tersendiri.

 

Foto: doc. goggle

Penulis: Claudia Caa