Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/berimajinasi-bersama-samaria-yang-baik-hati/

“BERIMAJINASI” BERSAMA SAMARIA YANG BAIK HATI

Injil Lukas terkenal sebagai Injil yang penuh dengan belas kasih. Perumpamaan tentang “Samaria yang Baik Hati” ini (Lukas 10:25-37) merupakan salah satu contoh yang dapat menggambarkan rasa belas kasih itu sendiri.

Mari kita lihat setahap demi setahap:

[1] Bagian I

 

25   Seorang Ahli Taurat mencobai Yesus, katanya:

“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

26   Jawab Yesus kepadanya:

“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?”

27     Jawab orang itu:

“(a) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,

dan (b) kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

                        28   Kata Yesus kepadanya:

“Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian,

maka engkau akan hidup.”

Dari struktur sederhana ini, mari kita lihat dinamika yang ada di dalamnya.

  1. Seorang Ahli Taurat bertanya tentang “Hidup yang Kekal”
  2. Jawab Yesus, “Apa yang tertulis dalam Hukum Taurat?”

Hal ini sangat menarik. Yesus tahu benar bahwa yang bertanya adalah seorang “Ahli Taurat”, maka jawaban-Nya pun sederhana (seperti yang kita lihat di atas), jika ingin dibahasakan dengan lebih sederhana, “Dalam ‘bidang keahlian’-mu itu apa yang kamu tahu..?” Jawaban Sang Ahli Taurat pun tepat – sesuai  dengan keahliannya – bahwa memang di dalam Taurat, inti dari begitu banyaknya hukum dan aturan adalah “Mengasihi Tuhan dan sesama”. Maka Yesus pun hanya menggarisbawahi, “Jawabmu itu benar.” Namun tidak hanya berhenti di situ saja, Yesus masih menambahkan lagi, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Ini sungguh menarik.

Yesus ingin menekankan, bahwa (1) hanya “Tahu” saja itu tidak cukup. Mengetahui sesuatu yang baik perlu juga untuk diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari, maka “perbuatlah!”. Lalu, (2) yang menarik dari jawaban Yesus, Ia bicara mengenai “hidup”. Padahal yang ditanyakan oleh Sang Ahli Taurat adalah “Hidup Yang Kekal” (hidup setelah kematian), tidak hanya sekadar “Hidup” di dunia ini. Di sini tampaknya Yesus ingin mengatakan, sesuatu yang sederhana, “Tidak perlulah terlalu memikirkan ‘hidup yang kekal’ (hidup setelah kematian). Hal itu urusan Yang Ilahi, yang pasti kekalan dan keabadian itu dimulai ‘di sini dan saat ini’, bukan nanti setelah mati. Jadi sebagai manusia, pointnya yang terpenting adalah ‘Bagaimana aku dapat hidup dengan sungguh-sungguh sebelum Tuhan memanggilku?”

Maka tidak mengherankan jika Yesus menjawabnya, “Perbuatlah.. maka engkau akan hidup!” Di dalam teks aslinya (Yunani), kata perintah “Perbuatlah!” ditulis dalam bentuk “present” (saat ini dan di sini). Jadi jelas sekali, perintah Yesus bagi kita, “Perbuatlah itu..!! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.. sekarang juga.. saat ini dan di sini..!”

Lalu, tampaknya Sang Ahli Taurat ini tak mau berhenti di situ saja. Ia mencoba untuk mengetest lagi. Lalu ia bertanya lagi pada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Di sini kita masuk pada Bagian II.

1 2 3