Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/bersatu-dalam-perbedaan/

Bersatu dalam Perbedaan

Berbicara soal keberagaman, jujur saja selama 22 tahun saya hidup, saya jarang bersinggungan dengan hal tersebut. Saya lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang menganut agama Katolik dan berasal dari ras yang sama: Batak. Sejak saya masih TK hingga saya kuliah pun, saya disekolahkan di institusi berlatar belakang agama Katolik. It’s boring, huh? Namun, bukan berarti saya tumbuh menjadi pribadi ‘berkacamata kuda’, alias hanya melihat sesuatu hal berdasarkan ajaran agama Katolik saja. Tinggal di perkampungan berjalan sempit dan dikelilingi tetangga yang sangat khatam agama Islamnya, memberikan saya kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan kelompok mereka. Dulu, saat saya masih kecil, saya punya geng dengan saya pemimpinnya. Saat itu, tentu saja kami masih belum tau perbedaan di antara kami kecuali pada saat masa Ramadhan, karena mereka harus menjalankan puasa setengah hari sedangkan saya tidak. Dulu, saya bahkan pernah ikut menyambangi rumah-rumah warga saat Lebaran untuk meminta angpao saat hari raya. Ketika masa puasa, pernah juga saya ikut menikmati hidangan buka puasa di salah satu rumah teman saya itu. Dulu, rasanya tidak ada tembok yang menghalangi perbedaan di antara kami itu.

Saya juga punya sahabat sejak SMP. Ia berasal dari keluarga Muslim yang taat. Namun ketakwaan keluarga dia dan saya dengan masing-masing agama yang dianut, tidak menghalangi kami untuk tetap bersahabat hingga sekarang. Bahkan kami menerapkan tradisi bersilaturahim saat hari raya Idul Fitri maupun Natal. Ya, walaupun mamanya ketika datang ke rumah saya pas Natal tidak pernah mengucapkan “Selamat Natal”—yang sampai sekarang saya tidak tahu alasannya kenapa—namun saya merasa amat bersyukur tradisi itu masih kami terapkan hingga sekarang.

Doc. Pribadi

Pernah suatu kali, saya menemani mama saya menghadiri acara temu kangen dengan teman-teman SMA-nya. Mama saya sebelas-dua belas lah dari saya. Sejak TK hingga kuliah di sekolah beragama Katolik. Namun, saat itu, saya menemui satu-dua orang temannya yang berhijab. Waktu itu saya pernah bertanya, seberapa banyak temannya yang non-Katolik saat SMA dan ternyata jumlahnya cukup banyak. Luar biasa! Lebih luar biasanya lagi adalah ketika mereka membuka acara temu kangen itu dengan berdoa yang dipimpin oleh dua orang, satu beragama Kristen dan satu lagi adalah Muslim. Saya sempat berdecak kagum saat itu, karena tidak ada satu orang pun yang protes saat orang beragama lain sedang mengucapkan doa dengan caranya. Justru mereka turut menundukkan kepala, tanda menghormati.

Perbedaan itu ternyata luar biasa, kan? Sayang, dewasa ini banyak pihak-pihak yang menyalahgunakan perbedaan itu untuk menjatuhkan kelompok lain. Melihat apa yang terjadi belakangan ini di pelbagai tempatTanah Air, saya menyadari bahwa dalam menyikapi perbedaan dibutuhkan pikiran yang bebas dan terbuka lebar. Menurut saya, kesalahpahaman yang terjadi di antara keberagaman itu sebenarnya karena kemalasan kita untuk membuka pikiran dan mencoba melihat suatu perkara dari sudut pandang lain: agama, ras, suku, dan budaya. Bayangkan jika setiap orang di tengah keberagaman menerapkan pemikiran, “bagaimana ya kalo menurut pandangan mereka?” Saya rasa, keberagaman justru akan menjadi kekuatan yang semakin memperkuat relasi antar manusia.

Kita mungkin berbeda. Sejak awal mula diciptakan, manusia yang satu dengan yang lainnya tidak ada yang serupa. Bahkan anak kembar pun, pasti memiliki perbedaannya tersendiri. Maka sebenarnya, perbedaan itu sudah biasa. Namun, akan jadi luar biasa ketika kita bersatu dalam perbedaan tersebut. Sebagai salah satu orang muda Katolik yang dihadapi oleh tantangan keberagaman di masyarakat, saya ingin melepaskan kacamata kuda. Saya ingin melepaskan tempurung yang telah menyelebungi pikiran saya selama ini. Dan saya ingin menantang kamu untuk melakukannya juga! Sanggupkah?

 

Penulis: Veronica Gabriella

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Jakarta