Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/dari-sriwijaya-hingga-senja-di-jembatan-ampera/

Dari Sriwijaya Hingga Senja di Jembatan Ampera

Keuskupan Agung Palembang menjadi salah satu keuskupan tempat dilaksanakannya Days In Diocesan (DID) dalam rangkaian acara Asian Youth Day 2017. Keuskupan ini meliputi wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Sebagai daerah yang terletak di pulau besar paling barat di Indonesia ini, Palembang dan sekitarnya memiliki berbagai kekayaan budaya yang wajib dieksplorasi apabila sempat berkunjung ke daerah ini. Banyak hal dari sekitar Palembang yang bisa dijadikan cerita oleh-oleh setelah acara AYD nanti.

Kota Palembang merupakan kota tua, bahkan tertua di Indonesia, terbukti dari sejarah yang ada yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Kota ini berdiri pada tahun 683 Masehi pada masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Pada saat itu kota Palembang merupakan kota dagang yang besar, pusat pemerintahan dan pusat pendidikan khususnya agama Budha.

Selain Jembatan Ampera dan empek-empek kekhasan kota Palembang adalah budayanya. Budaya Palembang terpengaruh oleh budaya Melayu, Jawa, Tionghoa dan Arab.  Bahasa sehari-hari yang dipakai di Kota Palembang disebut baso Palembang atau baso sari-sari. Bahasa  ini mengandung unsur kata bahasa Melayu dialek o seperti apo, cakmano, kemano,s iapo dengan unsur kata bahasa Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Atap rumah limas rumah adat Palembang hampir mirip dengan rumah joglo di Jawa Tengah. Pakaian pengantin Palembang model aesan gede merupakan percampuran budaya Melayu, Cina dan Jawa. Di Palembang ada juga wayang kulit yang mirip dengan wayang di Jawa. Akulturasi budaya di tanah Palembang sudah sedikit berbeda dengan daerah Sumatera bagian utara karena banyaknya pendatang yang turut menyebarkan budaya. Tentunya transformasi budaya ini melalui cerita historis yang panjang, sejak masa kerajaan.

 

Kuliner

Bab makanan menjadi hal wajib ketika berkunjung ke suatu daerah, terlebih lagi jika daerah tersebut memiliki icon makanan khas. Palembang dan sekitarnya masih kental dengan masakan khas Asia, yang identik dengan santan, rempah-rempah dan cita rasa yang kuat.

  1. Pempek

Source: tokopedia.com

Pempek adalah identitas Palembang yang tidak boleh dilewatkan. Kuliner yang satu ini adalah hal yang paling umum ditemukan di berbagai warung daerah Palembang. Pempek berbahan dasar ikan dan kuah cuko. Cocok untuk cemilan di siang atau sore hari.

  1. Pindang

Source: wiranurmansyah.com

Masih serba ikan, namun kini diolah dengan santan. Masakan pindang mirip seperti Tom Yum – masakan khas Thailand. Pindang patin hangat ditambah nasi adalah menu makan siang yang paling tepat saat berada di Palembang.

  1. Laksan

Source: wiranurmansyah.com

Masih seputar santan, laksan adalah pempek lenjer yang direbus dan diberi kuah santan. Inti dari makanan ini adalah ikan dibalut dengan tepung beras serta diberi kuah kari.

  1. Tempoyak

Source: wiranurmansyah.com

Pecinta durian wajib mencoba tempoyak! Tempoyak adalah sejenis sambal yang dibuat dari fermentasi durian. Rasanya asam, dan ada aroma durian.

 

Selain itu, Palembang menyimpan salah satu jenis tekstil terbaik di dunia yaitu kain songket. Kain songket Palembang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan di antara keluarga kain tenun tangan kain ini sering disebut sebagai Ratunya Kain. Hingga saat ini kain songket masih dibuat dengan cara ditenun secara manual dan menggunakan alat tenun tradisional. Sejak zaman dahulu kain songket telah digunakan sebagai pakaian adat kerajaan. Warna yang lazim digunakan kain songket adalah warna emas dan merah. Kedua warna ini melambangkan zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya dan pengaruh China pada masa lampau. Material yang dipakai untuk menghasilkan warna emas ini adalah benang emas yang didatangkan langsung dari China, Jepang dan Thailand. Benang emas inilah yang membuat harga kain songket melambung tinggi dan menjadikannya sebagai salah satu tekstil terbaik di dunia.

Source: Pinterest

Selain kain songket, saat ini masyarakat Palembang tengah giat mengembangkan jenis tekstil baru yang disebut batik Palembang. Berbeda dengan batik Jawa, batik Palembang nampak lebih ceria karena menggunakan warna – warna terang dan masih mempertahankan motif – motif tradisional setempat.

 

Wisata

Berkeliling Palembang untuk melihat tempat wisata dan napak tilas kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa lalu tentu tidak cukup dalam waktu satu hari. Namun tiada salahnya untuk merunut wisata yang saling berdekatan, utamanya di daerah Sungai Musi. Beberapa tempat ini mampu menjadi refleksi atas kejayaan Sriwijaya sekaligus mengabadikan kenangan indah di Palembang.

 

  1. Sungai Musi

Source:
dyazafran.wordpress.com

Sungai Musi menjadi icon tersendiri bagi Kota Palembang. Sungai yang memiliki sejarah peradaban bagi masyarakat sekitarnya. Ada yang mengatakan bahwa Musi, berasal dari kata Mu Ci, yang berarti ayam betina. Suatu simbol keberuntungan bagi penduduknya dan yang berkunjung pada tempat tersebut.

Sungai yang terpanjang di pulau Sumatera ini memiliki air yang tidak terlalu deras dan tidak ada batuan yang terjal, sehingga menjadi tempat yang cocok untuk arum jeram. Dahulu sungai ini menjadi sarana transportasi utama di Kota Palembang. Di tepi sungai terdapat restoran terapung, kampung Arab, dan Benteng Kuto Pesak. Di tepi sungai Musi terdapat wisata kuliner, karena tersedia berbagai macam olahan masakan penuh citarasa.

  1. Kampung Kapitan

Source: jalan2.com

Kampung Kapitan berada di kawasan tepian Sungai Musi. Dari atas jembatan Ampera, Kampung Kapitan ini sudah bisa terlihat. Kampung Kapitan sebagai kampung pertama warga keturunan Tionghoa menetap di Palembang.

 

  1. Jembatan Ampera

Source: widzies.wordpress.com

Jembatan Ampera ini terbentang melintasi Sungai Musi dengan menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Jembatan Ampera dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pembuatan jembatan sendiri berasal dari hasil rampasan perang Jepang. Ketika masyarakat Palembang memberi nama Jembatan Bung Karno, beliau menolaknya dan memilih nama Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Ampera atau Amanat Penderitaan Rakyat merupakan jargon pada tahun 1960-an.

  1. Benteng Kuto Besak

Source: palembanggalo.wordpress

Benteng Kuto Besak, merupakan benteng keraton Kuto Besak. Kuto Besak sendiri merupakan keraton yang menjadi pusat kesultanan Palembang pada abad ke-17. Gagasan mendirikan Kuto Besak beserta bentengnya diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh Sultan Mahmud Bahauddin, tahun 1776-1803.

Cerita historis daerah Palembang menyimpan banyak kenangan sekaligus menjadi cikal bakal budaya di Palembang saat ini. Meski ditinggali oleh berbagai suku, Palembang menjadi tempat yang aman dan tentram. Menjadi sebuah keberuntungan apabila bisa mengikuti DID di sana.