Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/fkt-kulon-progo/

FKT Kulon Progo: Tiada Sekat bagi Apresiasi Seni Tradisional

Seni adalah bahasa, pemersatu antar bangsa, seni adalah mulia suci murni tiada dosa.

Penggalan lirik lagu berjudul “Seni” dari musisi Roma Irama menjadi sebuah refleksi bahwa seni adalah bahasa yang universal. Menjadikan seni sebagai pemersatu ialah hal yang  dicita-citakan oleh Orang Muda Katolik Rayon Kulon Progo, Yogyakarta. Sebagai langkah perwujudan cita-cita ini mereka memprakarsai Festival Kesenian Tradisional (FKT) dengan keterlibatan kaum muda sebagai tonggak utama. Tepatnya mulai tahun 2009, dengung alunan FKT mulai berkumandang di antara perbukitan Menoreh – bukit yang menaungi wilayah Kulon Progo. Festival ini sukses terhelat hingga tahun ke 8, dan akan terus dipertahankan hingga tahun-tahun berikutnya.

Menurut Yohanes Adventody, selaku orang muda perintis penyelenggaraan FKT, acara ini bertujuan untuk melestarikan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia melalui kaum muda. Festival ini juga dilatarbelakangi oleh banyaknya seni tradisi yang dimiliki Kulon Progo yang berakar dari budaya lokal. Dengan mencoba mengangkat dan memfasilitasi orang muda dalam berkesenian tradisional, secara tidak langsung akan mengenalkan orang muda dengan hal-hal baik yang ada dalam seni tradisional dan memberi makna atas budaya sesuai konteks zaman. Melalui ajang FKT ini, orang muda diajak untuk terus menerus mengeksplorasi budaya lokal dan menampilkannya dalam sebuah pementasan.

doc. Panitia FKT

FKT menjadi sebuah pendobrak pikiran sempit atas apresiasi seni tradisional di kalangan orang muda. OMK Rayon Kulon Progo memiliki keyakinan besar bahwa orang muda masih memiliki kepedulian dengan seni tradisional. Terbukti, dengan diadakannya FKT, banyak orang muda yang bangga mengenakan busana daerah, tampil dengan bahasa daerah dan menampilkan kesenian daerahnya. FKT menjadi wadah multifungsi, apresiasi atas seni tradisional dan apresiasi kepada orang muda yang peduli pada seni tradisional.

Kesadaran para OMK akan seni dan budaya juga tak lepas dari peran pastor-pastor di wilayah Kulon Progo yang selalu menantang para OMK untuk selalu guyub dan melestarikan budaya sebagai identitas masyarakat. Ragam tari-tarian, lagu daerah, busana daerah dan cerita rakyat yang melegenda adalah kekayaan budaya yang menjadi penanda suatu masyarakat.  Antusiasme FKT terasa di setiap paroki di Rayon Kulon Progo, bahkan makin tahun gaungnya makin menyebar dan melibatkan orang muda di luar Kulon Progo.

Kejayaan FKT tentunya tidak serta merta hadir begitu saja. Membuat gebrakan bagi orang muda di tengah situasi seni tradisional yang dianggap kuno dan terus dibalap dengan kehadiran budaya tandingan dampak globalisasi tentu tidak mudah. Yohanes Adventody awalnya kurang yakin untuk  menyelenggarakan acara ini. Pria yang akrab disapa Mas Tody mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan karena Rayon Kulon Progo memiliki jumlah  paroki yang tidak sedikit. Butuh usaha ekstra untuk melakukan koordinasi dan merangkul orang muda seluruh Rayon Kulon Progo untuk terlibat aktif. Letak geografis antar wilayah yang tidak dekat juga turut menjadi batu sandungan untuk mengadakan koordinasi. Mengingat pada masa di awal FKT diinisiasi, peran teknologi untuk berkomunikasi belum sepraktis saat ini.

doc. Panitia FKT

Acara ini pada awalnya didesain khusus dari OMK untuk OMK. Akan tetapi meskipun sasaran kegiatan ini adalah OMK, dalam persiapan dan pelaksanaannya selalu melibatkan banyak pihak di luar OMK, mulai dari anak-anak, orang tua, bahkan juga mengajak partisipasi saudara yang berbeda keyakinan. Kepedulian dan keterlibatan untuk berkarya tersebut diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk kesenian yang ditampilkan. Drama kolosal dan sendratari yang menceritakan lakon-lakon tradisional dan dilatarbelakangi oleh cerita rakyat terkemas dalam pentas yang sungguh memukau. Terbukti tiap tahun lapangan tempat terselenggaranya FKT selalu penuh bak helatan pesta rakyat besar, mendatangkan masyarakat baik dari Kulon Progo maupun luar Kulon Progo. FKT mampu menjadi hajatan bersama bagi seluruh masyarakat Kulon Progo. Tiada lagi sekat agama, baik pemeran maupun penonton lebur dalam bingkai budaya tradisional.

FKT dapat dikatakan sebagai perjumpaan keberagaman yang dikemas dalam apresiasi kesenian tradisional. Kaum muda diberi ruang untuk berekspresi dan berkarya, hingga berbuah manis menghasilkan ekspresi luar biasa dari kesenian-kesenian yang ditampilkan. OMK diajak bergerak bersama dengan wadah yang jelas dan menjadi ajang menyalurkan ekspresi dengan melestaikan budaya yang telah diwariskan. Semoga acara ini dapat terus berlanjut dengan semangat yang terus membara.