Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/gropesh/

Gropesh: Upaya Merawat Ibu Kita

Gropesh

Bermula dari Temu Aksi Peduli Sampah yang diadakan Panitia Gerakan Hidup Bersih yang dicanangkan oleh Keuskupan Agung Jakarta pada 25 Maret 2007 silam terbentuklah kumpulan orang muda yang menaruh ketertarikannya pada sampah yang mulai berserakan di Jakarta. Menamai diri mereka sebagai Gerombolan Peduli Sampah yang kemudian berganti nama menjadi Gerakan Orang Muda Peduli Sampah, mereka memulai aksi kampanye peduli sampah dari sekolah-sekolah, komunitas, kelompok, dan lembaga yang punya concern yang sama.

Wujud kampanye peduli sampah yang dilakukan orang muda yang tergabung dalam Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh) ini adalah kampanye 3R + (Reduce, Reuse, Recycle+replant). Dengan kampanye ini setidaknya harapan untuk Jakarta yang lebih bersih bisa dapat tercapai, begitu tutur Sakura Indah Sari salah satu orang muda yang ikut berproses bersama Gropesh sejak awal.

“Gropesh hanyalah sebuah locus, sebuah wadah yang dibuat untuk mewujudkan sebuah komitmen untuk memelihara bumi dengan lebih baik melalui gerakan kampanye untuk menyuarakan kepedulian dan mengajak orang peduli sampah”, tutur Xaxa, sapaan akrabnya.

Menyinggung soal komitmen bersama, Br. Dieng Karnedi, SJ, menjelaskan bahwa Gropesh masih setia pada hal yang ia kerjakan sampai sekarang karena punya landasan spiritualitas yang sama. “Hampir semua anggota Gropesh kebetulan adalah Orang Muda Katolik (OMK) dan memiliki nilai-nilai spiritualitas kristiani yang dihayati bersama. Salah satu adalah di mana kita diajak untuk peduli dengan lingkungan hidup di mana manusia dan makhluk lainnya tinggal”.

Aksi Peduli sampah Gropesh

Peduli Menjadi Kunci

Lebih lanjut Br. Dieng, SJ menuturkan bahwa rasa peduli menjadi kunci segala bentuk kegiatan di Gropesh. “Kita ingin menghayati kepedulian itu sebagai roh yang menghidupi”. Itulah yang membuat Gropesh masih setia dengan hal yang dilakukannya sampai usia kesembilannya ini.

Pengalaman lewat kepedulian terhadap sampah juga dirasakan oleh Xaxa, yang bercerita bahwa dengan berdamai dengan sampah ia dipertemukan dengan banyak orang dari banyak latar belakang yang berbeda; baik agama, suku, pendidikan, maupun status sosial. “Sebagai sama-sama penghuni bumi, kita punya kewajiban untuk merawat rumah kita. Merawat Ibu kita”.

 

Penulis: Cahyok

Narasumber: Br. Dieng Karnedi, SJ dan Sakura Indah Sari (Xaxa)

 

GROPESH (GeRakan Orang muda PEduli SampaH)
Jln Kramat VI No. 22 Jakarta Pusat
Website: www.gropesh.wordpress.com
Milis : peduli_sampah@yahoogroups.com
Email & Facebook : gropesh@gmail.com
Twitter : @gropesh
Instagram: @gropesh_