Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/hai-orang-muda/

Sebuah Refleksi: Hai Orang Muda Tiadakah Waktu Berjumpa dengan-Ku?  

Selasa, 16 Mei 2017, pukul 12.00 salib Asian Youth Day tiba di tempat persinggahan kedua yaitu Kapel St. Robertus Bellarminus Mrican. Salib diserahkan oleh perwakilan Orang Muda Katolik Pringwulung kepada Fr. Antonius Dhimas Herjuna dan pihak Campus Ministry, Universitas Sanata Dharma di depan kampus II USD untuk diarak bersama menuju kapel. Perarakan salib diiringi lantunan lagu dari beberapa mahasiswa, OMK Pringwulung, dan staf Campus Ministry. Setibanya di dalam kapel, salib, bendera keuskupan, dan bendera Indonesia ditahtakan di depan altar. Kemudian Fr. Dhimas mengajak umat yang terlibat untuk berasama-sama mendoakan doa Litani Orang Kudus. Setelah doa dan ibadat singkat umat diperkenankan berdoa secara pribadi sebelum pukul 17.00 yang akan menjadi awal umat lingkungan mendoakan Doa Rosario. Doa Rosario diawali oleh lingkungan Paulus, dilanjutkan lingkungan Bonaventura, St. Maria Karmel, Emmanuel, dan Lingkungan St. Yusup Mrican hingga pukul 22.00.

Doc. Pribadi

Rabu (17 Mei 2017) pukul 05.45 misa harian dipimpin oleh Romo John, S.J. dengan intensi mendoakan penyelenggaraan Asian Youth Day pada bulan Agustus 2017 mendatang. Selanjutnya adalah sesi doa dari komunitas biarawan biarawati di sekitar wilayah Mrican yaitu, SCY, SPM, CMM, KYM, SFD, KSFL, OFM, dan SJ hingga pukul 11.00. Kemudian salib kembali dijemput OMK Pringwulung untuk diantar menuju Biara Susteran FDCC Kanossian.

Sepanjang rangkaian acara di Kapel St. Robertus Bellarminus Mrican diwarnai dengan sukacita sekaligus ironi. Sukacita bagi siapa saja yang mau meluangkan waktunya untuk berdoa pribadi maupun bersama di Kapel. Ironi, karena di tengah kampus dan orang muda, hanya sedikit saja yang mau peduli dan terlibat. Nyata bahwa doa tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan oleh kaum muda saat ini, melainkan sebagai sebatas formalitas dan kewajiban belaka. Salib AYD diletakan di tengah mahasiswa dan mahasiswi dengan harapan menyatukan serta menghangatkan suasana dalam lingkungan kampus, tetapi kesibukan duniawi lebih menarik bagi para kaum muda. Sebuah refleksi di mana saat ini kerapuhan Gereja Asia yang begitu besar, kaya, dan berkembang terletak pada sikap individualis dan egosentris kaum muda. Kaum muda yang harusnya mampu menjadi wajah segar gereja hanyut dalam formalitas kesibukan akademik. Marilah kita belajar menjadi lebih terbuka dan dekat pada Tuhan melalui doa. Bukankah Ia senantiasa menyertai langkah hidup kita dalam setiap tarikan nafas, maka sediakanlah waktu bagi-Nya.

 

Penulis: Layung Rahmawati