Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/imanku-adalah-rasa-senang-ketika-orang-lain-mengingatku/

Imanku adalah Rasa Senang ketika Orang Lain Mengingatku

Pada pre-event III diceritakan sebuah ilustrasi tentang Tina dan Tinus yang memaknai gereja menurut versi mereka. Tina, seorang yang saleh, mendefinisikan gereja sebagai sebuah bangunan di mana orang yang datang akan menemukan Tuhan melalui saripati kitab suci dalam bentuk kata dan dogma. Tinus sendiri berpikir bahwa gereja bukanlah sebuah bangunan beton berpagar, melainkan sebuah upaya membela hak-hak kaum teraniaya serta membantu dalam kepayahan.

Kedua orang ini berdiri di atas gerejanya masing-masing, tidak ada yang sepenuhnya salah atau benar di antara mereka. Gereja memang tidak dapat dimaknai dari satu sisi saja, baik sisi Tina maupun Tinus. Gereja adalah apa yang mereka berdua kerjakan dan jalankan.

Namun, pada kenyataannya disparitas antara Tina dan Tinus ini memang ada di lingkungan sekitar kita. Tak jarang kita melihat sosok kawan muda yang begitu aktif di pelbagai kegiatan gereja, namun absen saat ada sesamanya yang membutuhkan. Pun, juga sebaliknya.

Oleh karena itu, redaksi berusaha menemui seorang kawan muda Katolik yang berusaha memberikan pandangannya sendiri bahwa gereja merupakan paduan dari dua hal yang dilakukan oleh Tina dan Tinus secara berimbang.

Sativa Eka Sari Dewi Koeswojo atau yang akrab disapa Tiva ini, merupakan salah satu kawan muda yang akan berbagi sedikit pengalamannya kepada kawan muda semua. Berikut sebagaimana yang berhasil dikutip tim redaksi.

 

20160802_152956-01

 

Lagi sibuk apa akhir-akhir ini?

Selain lagi sibuk untuk menyelesaikan skripsi, sekarang juga lagi sibuk untuk merintis usaha di bidang kuliner dan juga budidaya lele.

Apa kamu sudah tahu tentang Pre-Event III dari Asian Youth Day?

Iya, sudah.

Kalau menurutmu, Pre-Event III itu mengenai apa?

Pre-Event III itu menyoal tentang keseimbangan antara keaktifan di lingkungan sosial dan di gereja atau dengan kata lain masuk ke ranah lingkungan rohani.

Soal lingkungan rohani, kamu punya pengalaman berkegiatan apa saja di gerejamu?

Mulai tahun 2007 di Paroki Mlati, Sleman, aku aktif di pelbagai kegiatan gereja di antaranya pernah menjadi kakak pendamping PIA dan juga anggota Lektor. Kegiatan itu masih aku lakukan sampai tahun 2012 sebelum akhirnya agak berkurang karena kegiatan kuliah yang lumayan padat.

Namun, lewat KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) aku masih berusaha mengikuti segenap perayaan yang diadakan gereja, walau intensitasnya jauh berkurang dibandingkan sewaktu masih di paroki.

Lalu untuk ranah kegiatan sosial?

Per tiga tahun lalu, aku mulai aktif di pelbagai kegiatan pendampingan sosial. Aku tercatat sebagai salah satu sukarelawan di Perkampungan Sosial Pingit. Perkampungan Sosial Pingit sendiri adalah sebuah organisasi non profit yang kepedulian utamanya adalah soal tunawisma dan tunakarya yang ada di daerah perkotaan, khususnya Kota Jogja.

Mereka – para tunawisma dan tunakarya, yang sudah punya keluarga lengkap; ayah, ibu, dan anak, diberi tempat tinggal cuma-cuma di daerah Pingit selama dua tahun. Selama kurun waktu itu mereka akan diajari untuk mampu mengelola sirkulasi keuangan mereka dengan baik. Kami para sukarelawan di sana juga berusaha membekali mereka dengan pelbagai macam keterampilan seperti merangkai bunga, bercocok tanam, dan lain-lain, yang ke depannya nanti kami harap akan berguna untuk kehidupan mereka.

Aku punya concern soal keluarga. Jadi, aku ingin berusaha membantu keluarga-keluarga dampingan itu agar tidak kembali hidup di jalan.

Lalu, aku juga punya beberapa gerakan yang sifatnya pribadi.

Gerakan pribadi seperti apa?

Aslinya terinspirasi dari apa yang aku lakukan di Pingit, aku menjadi tergerak untuk melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi untuk lebih bisa membantu orang-orang di sekitarku yang kurang terekspos selama ini.

Apa yang membuatmu mau melakukan semua ini?

Rasa peduli. Hal ini rasanya menjadi penting untuk dilakukan karena hal ini urgent. Kalau bukan dimulai dari diriku sendiri lalu siapa lagi yang mau peduli sama mereka?

Pemerintah setempat?

Buktinya, program-program pemerintah yang sudah ada kurang mampu menyentuh mereka sampai dalam. Bahkan sampai sekarang.

Bagaimana caramu membangun komitmen untuk selalu setia pada hal yang kamu kerjakan?

Aku mulai melakukan ini sejak awal 2012 dan sampai sekarang masih aku lakukan karena aku merasa belum ada perubahan signifikan untuk mereka. Kalau aku mengistilahkan, mereka masih dalam taraf  “gawat darurat” belum menjadi “siaga” atau “aman”. Pokoknya, selama aku masih punya tenaga dan pikiran untuk melajutkan ini, aku akan melanjutkan.

Kalau menurut kamu, gereja itu apa?

Secara sederhana, gereja itu adalah rumah tempat di mana kita bisa pulang, berlindung, dan berbagai kasih. Karena menurutku, seseorang itu dikatakan imannya lengkap ketika ia bisa memimpin gerejanya sendiri. Memimpin rumahnya.

Maka dari itu, orang-orang yang kebanyakan aku bantu adalah sebuah keluarga, karena aku mau keluarga itu selalu menjadi keluarga walaupun di tengah kekurangan yang sedang mereka alami.

Pegangan apa yang kamu gunakan untuk selalu bisa setia dengan karyamu ini?

Ada banyak pegangan yang bisa dipakai, sebenarnya. Tapi aku selalu berpegang pada, “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang paling hina, kamu melakukannya untuk Aku (Mat 25:40)”

Lalu, pengalaman apa yang paling berkesan untukmu?

Dulu aku pernah menolong sebuah keluarga untuk menemukan tempat tinggal. Selama dua tahun lebih aku tidak pernah ketemu mereka, hingga pada suatu hari kami bertemu dan ternyata mereka masih ingat namaku dan memanggil-manggil namaku.

Selain itu, ketika ada anak-anak dari keluarga yang aku bantu merasa minder untuk datang ke sekolah karena tidak punya tas sekolah dan kaos kaki yang layak, juga menjadi hal yang paling berkesan.

Waktu itu lewat blog,  aku berusaha menggalang bantuan untuk mereka hingga pada akhirnya setelah cukup bantuan terkumpul anak-anak itu mau sekolah lagi dengan percaya diri. Aslinya itu hanya hal-hal sederhana sih, tapi itu rasanya ngena banget. “Seneng rasanya bisa diingat sama orang lain itu hehehe…”.

 

Penulis             : Cahyok

Narasumber    : Sativa Eka Sari Dewi Koeswojo
Mahasiswa tingkat akhir, Prodi Ilmu Hukum, UGM
Twitter            : @tivakoeswojo
Instagram       : @tivakoeswojo
Blog                 : sukacitaberbagi.wordpress.com
Gambar koleksi pribadi dari Sativa.