Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/kaum-muda-klepu-rangkul-sesama-lintas-iman-dengan-hati-sukacita/

Kaum Muda Klepu: Rangkul Sesama Lintas Iman dengan Hati Sukacita

Salib AYD yang telah lama dinanti akhirnya singgah di Paroki Klepu sejak Jumat, 24 Februari 2017. Sejak jauh hari OMK Klepu mempersiapkan datangnya rangkaian acara estafet Salib AYD dengan penuh antusias. Segala kegiatan diselenggarakan untuk ikut menggaungkan semangat AYD salah satunya adalah sarasehan lintas iman yang dilaksanakan pada Senin, 27 Februari 2017 pukul 19.30 di aula pastoran Klepu.

Mengangkat tema sarasehan “Merangkul sesama dengan hati sukacita”, acara ini melibatkan OMK, karang taruna dan pemuda GKJ di sekitar Klepu serta komunitas lintas iman yaitu Komunitas Focolare. Menghadirkan pula 3 pembicara dari berbagai latar belakang yaitu Islam, Budha, dan Katolik untuk membagikan sudut pandang dan pengalamannya mengolah kekayaan keberagaman. Pembicara pertama adalah Pak Subkhi Ridho yang merupakan dosen FISIP di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan pegiat di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah pada isu demokrasi, HAM, kesetaraan gender, pluralisme-multikulturalisme, media, dan resolusi konflik. Pak Totok Tejamano, ketua pemuda Budhhis Theravada di Yogyakarta dan juga aktivis yang banyak berinteraksi dengan berbagai komunitas pecinta kerukunan menjadi pembicara kedua. Pembicara terakhir ialah Romo Martinus Joko Lelono, Pr dari paroki St, Maria Assumpta Gamping yang juga merupakan penggerak kegiatan lintas iman. Seluruh peserta larut dalam diskusi yang hangat dengan dibukanya sesi tanya jawab.

Umat di Paroki Klepu dari berbagai usia antusias untuk mengikuti sarasehan lintas iman

Dalam sarasehan ini, Pak Ridho mengobarkan semangat kaum muda untuk mengelola perbedaan dengan berjumpa, bergaul, mengakui keberadaan orang lain dan menjadi kooperatif untuk bekerja sama dengan siapapun. Keberagaman perlu terus dijaga untuk menjunjung tinggi tolerans demi menanggapi kasus-kasus intoleran yang sering terjadi oleh sekelompok kecil orang tetapi bersuara lantang. Ia berpesan kepada orang muda untuk tidak berhenti mengabarkan kebaikan. Jangan takut dianggap sombong kalau bersosialisasi, aktif di media sosial. Sekarangkan terkenalnya silent majority. Terus nggak mau nulis status. Kita harus speak up. Speak up itu bukan sombong.” ungkap Pak Ridho. Mengabarkan kebaikan dengan lantang itu mutlak untuk menjaga toleransi.

Selanjutnya, Pak Totok dari agama Budha melihat pentingnya merawat perbedaan dengan mengibaratkan sebuah orkestra. “Kalau main orkestra ya jangan sampai mblero. Berarti tiap orang harus menguasai keahliannya. Kita baru akan bisa bersinergi dengan yang lain ketika kita menguasai apa yang kita punya.” terang Pak Totok. Kaum muda diajak untuk sungguh mengimani keyakinannya dan memandang perbedaan sebagai suatu kolaborasi yang indah seperti sebuah pertunjukan orkestra. Jangan sampai belum menyelesaikan perang terhadap diri sendiri.

Peserta diskusi lintas iman

Romo Joko membagi keprihatinannya tentang semakin sulitnya merangkul yang lain. “Mengapa bersaudara menjadi masalah?”, “Mengapa tidak bisa yang lain menjadi berkat bagi saya?” Beliau mengundang kaum muda untuk tidak menjadikan agama sebagai pembatas berelasi tetapi sebagai misi bersama memperjuangkan kemanusiaan yang lebih baik. Berpegang pada sebuah ayat “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,  perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.(Mat 7: 12)”, Romo Joko mengingatkan untuk tidak pernah lelah berbuat baik kepada siapapun.

Acara sarasehan ditutup dengan ramah-tamah dan foto bersama sebagai wujud nyata merangkul sesama dengan sukacita.

Veronica Noviatri Indraswari