Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/literasi-digital/

Bertanggung Jawab, Berliterasi Digital!

the-internet

Pernah tidak menghitung berapa lamanya kita terhubung (connected) dengan internet? Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2014 mengasilkan 80% Netizens atau Internet Citizens Indonesia secara frekuentif terhubung dengan internet hampir sehari sekali. Dalam satu hari itu 37% Netizens sekitar 1-3 jam terhubung dengan internet. Netizens Indonesia ternyata 49 % atau hampir separuhnya berusia 18-25 tahun.

Fakta yang terbeber mengungkap betapa kita sudah saling terhubung satu sama lain. Dengan gawai-gawai (gadgets) yang selalu digenggam, kita terhubung. Dengan media sosial (social media) seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, LINE, BBM, Path, dan lainnya, kita terhubung. Sejauh kuota data internet mencukupi, sinyal data kuat, atau mendapat paparan Wi-Fi, kita terhubung.

Masing-masing memiliki intensi atau motivasi beragam untuk terhubung. Ada yang demi menjalin silaturahim kembali dengan handai taulan, kerabat, sahabat, dan teman yang dulu pernah dikenal. Beberapa juga terdorong untuk terhubung untuk dapat memperoleh kenalan baru. Dua aspek ini menunjukkan ciri dan aspek sosial dari pribumi digital yang terhubung. Aspek lain seperti mencari informasi, bertransaksi, hiburan, dan motif lainnya dapat dibantu dengan terhubung melalui internet. Untuk terhubung kita hanya perlu sentuhan jari saja!

Dua Sikap: Distopian VS Utopian

Lahirlah dua sikap mengenai kondisi rekan-rekan muda pribumi digital yang selalu terhubung ini. sikap pertama ialah kaum distopia yang melihat bahwa internet menghadirkan sesuatu yang buruk. Tentu pendapat mereka ini dapat kita tunjuk. Bagi kaum muda yang senang ngobrol (chatting), mereka kerap melalukan cyberbullying sederhana. Sadar atau tidak posting-an di laman Facebook misalnya dapat memancing permusuhan.

Cara berbahasa yang menggunakan teks, gambar, dan suara yang kebablasan dengan meme dapat memunculkan kesalahpahaman. Belum lagi bila mereka yang berbelanja online mengalami penipuan, atau bahkan akun bank mereka dibobol sehingga uang simpanan lenyap begitu saja. Masih ada lagi kasus pornografi dan prostitusi baik dewasa atau di bawah umur melalui media sosial. Santapan berita negatif berkat internet seperti ini semakin menguatkan posisi kaum distopia yang curiga dengan internet, dengan kondisi kita yang terhubung ini.

Gambaran sikap kedua berkebalikan. Kelompok utopian mewakili mereka yang antusias dengan keterhubungan diri ini. Mereka yakin banyak hal semakin dimudahkan dengan internet. Komunikasi dan relasi yang selama ini terkendala jarak dapat dipermudah dan dipermurah. Kendala akibat harus bekerja, menuntut ilmu entah di luar kota atau pun luar negeri, atau pun kaum urban yang harus berkomuter pergi-pulang dari tempat tinggal ke tempat kerja/belajar selama sekian jam tiap harinya menemukan bahwa internet membawa harapan di tengah tantangan hidup yang nyata.

Kesibukan dan kelelahan menembus kemacetan memaksa beberapa pihak untuk menghemat energinya dengan menggunakan jasa belanja online atau bahkan pelayanan transportasi dan pengiriman serta pesan sesuatu online. Internet di mata kaum utopis amat menggembirakan dan melegakan di tengah himpitan kesulitan hidup yang sudah berat.

Di antara keduanya, manakah dirimu berada, kawan muda? Apakah kamu distopian atau utopian? Saya pribadi lebih melihat keduanya sebagai hal yang faktual ada di internet. Lebih mudah untuk berucap, internet itu kan netral, sarana saja, tergantung dari siapa yang menggunakannya.

Ucap dan sikap demikian hanya mengerdilkan masalah yang jauh lebih penting dari sekadar memberi penilaian baik dan buruk. Saya yakin situasi diri dan masyarakat yang sudah saling terhubung (connected) ini menjadi suatu yang inheren atau apa adanya pada jaman ini. Bersikap tutup mata dan sama sekali tidak terhubung hanya akan menyusahkan diri sendiri. Sebaliknya bila terlalu bertindak mana suka dengan berbuat dan berucap apa saja di internet juga ujungnya mengantungi kerugian bagi diri sendiri.

1 2