Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/megawati-candraningrum/

Bangga dengan Jalan yang Dijalani

Namaku Mega, aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ibuku seorang Katolik sedangkan bapakku menganut kepercayaan Jawa Sapta Dharma. Bapakku adalah orang yang keras. Beliau ingin aku beribadah mengikutinya, namun aku lebih senang menjadi orang Katolik. Ini adalah pengalamanku dengan apa yang kuyakini sebagai seorang Katolik.

Saat itu aku kelas 2 SMK dan akan melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Purwokerto selama 3 bulan bersama lima orang teman. Kami berlima PKL di stasiun tv lokal dan aku satu-satunya yang beragama Katolik. Sebelum keberangkatanku, aku menuliskan sebuah surat untuk bapak karena aku tidak berani bicara langsung.

Surat itu tertulis demikian:

 

“Bapak, maaf Mega tidak berani bilang langsung. Mega takut bapak marah. Pak, Mega sudah besar. Biarkan Mega memilih jalan Mega sendiri. Maaf pak, Mega tidak bisa ikut seperti bapak, Mega ingin menjadi orang Katolik sepenuhnya. Di sini Mega bisa kenal Tuhan Yesus. Di sini Mega belajar untuk tetap mengasihi dan mengampuni orang lain. Pak, Mega harap Bapak juga bisa mengampuni mereka yang sudah menyakiti kita.”

 

Selama 1 bulan pertama PKL, aku tidak berani pulang ke rumah walaupun itu adalah hari libur. Aku takut pada bapak. Bapakku tidak punya handphone dan beliau bukan orang yang bisa berkomunikasi menggunakan handphone. Aku hanya bisa berkirim sms dengan ibu. Ibuku bilang Bapak menangis ketika membaca surat dariku.

Bulan kedua PKL, tiba-tiba saja teman-teman menjauhiku. Sebut saja mereka Ani, Bia, Caca dan Dila (bukan nama asli). Berawal dari masalah sepele, aku tidak sengaja menginjak kaki Bia dan tidak meminta maaf padanya. Bia marah padaku dan memengaruhi teman-teman yang lain untuk marah juga padaku.

Selama PKL, kami berlima memang hanya memesan dua kamar kos. Karena kejadian tersebut, aku tidur sendiri di kamar kos. Teman-temanku yang lain rela tidur berdesakan di kamar satunya, dibanding tidur sekamar denganku. Hampir satu bulan itu aku sendiri, di kota asing, tanpa orang tua, dan dijauhi teman-teman. Ketika aku sendiri, dengan siapa lagi harus mengadu? Hanya dengan Tuhan Yesus aku menceritakan seluruh keluh kesahku. Terkadang di saat kita sedang sendiri, Tuhan sebenarnya hadir bersama dengan kita. Setidaknya aku belajar mengambil hal positif dalam kesendirianku, yakni aku merasa sangat dekat dengan Tuhan dan dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.

Tuhan Yesus sangat baik. Puji Tuhan di bulan ke-3, hubunganku dan teman-teman sudah mulai membaik. Namun, ada yang aneh. Mereka kembali dekat denganku tapi menjauhi Ani. Hingga suatu malam, mereka tidur di kamarku, membawa kasur dan meninggalkan Ani tidur sendiri hanya beralaskan tikar saja. Aku pikir itu keterlaluan. Aku menegur mereka tapi mereka menjawab, “Biarlah, ngapain kamu baik sama dia? Toh dia juga sudah jahat sama kamu. Dia yang paling sering menjelek-jelekanmu.”

Aku hanya diam. Hati kecilku mengatakan bahwa aku tidak boleh memusuhi Ani. Aku tahu rasanya sendirian dan dijauhi teman. Beruntungnya, dulu aku tidak diperlakukan untuk tidur beralas tikar saja. Aku tidak mau orang lain merasakan hal sama seperti yang aku alami karena rasanya sangat tidak enak.

Kataku pada mereka, “Di sini sempit sekali. Tidak nyaman kalau kita harus tidur berempat di kamar kecil segini. Aku mau pindah saja tidur sama Ani. Kalian tidur aja di kamarku.”

Mereka menanggapi, “Tapi di sana tidak ada kasur.”

“Tidak apa-apa, aku juga gerah karena panas. Jadi tidak apa-apa tidur di lantai dingin” jawabku.

Aku masuk ke kamar Ani dan tidur di sampingnya.

 

Tiba-tiba saja aku merasa bangga menjadi Katolik. Bukan bermaksud menjadi pahlawan, tetapi kalau aku melakukan hal yang sama seperti mereka, lalu apa bedanya aku dengan mereka? Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan untuk selalu mengasihi. Walaupun aku tidak bisa membawa kasur Ani kembali ke kamarnya, setidaknya aku bisa menemaninya agar tidak merasa sendiri. Beruntunglah kejadian itu tidak berlangsung lama. Lama-kelamaan hubungan kami kembali seperti semula. Kami dapat kompak mengerjakan Tugas Akhir untuk pembuatan film dokumenter tentang pengalaman kami selama PKL.

Akhirnya aku pulang ke rumah dan bertemu lagi dengan bapak. Bapakku bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata. Tapi aku tahu dia sudah membiarkanku memilih jalanku sendiri sebagai orang Katolik. Tidak ada lagi larangan untuk aktif dalam kegiatan gereja. Aku sangat bersyukur Tuhan Yesus itu sangat baik. Pengalaman 3 bulan lalu dan kepercayaan akan keyakinan menjadi orang Katolik, membuatku belajar menjadi lebih dewasa lagi.

 

Tuhan Memberkati.

 

Penulis: Megawati Candraningrum

Paroki St. Stephanus Cilacap, Keuskupan Purwokerto