Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/penyaliban-yesus-sebuah-proses-institusional/

PENYALIBAN YESUS: SEBUAH PROSES INSTITUSIONAL

Kita akan mencoba merenungkan kisah penyaliban Yesus dari sudut pandang Injil Matius. Ada beberapa hal sungguh menarik dari Injil ini. Kita akan mencoba melihat “Kisah Penyaliban Yesus” dan “Kisah Kanak-Kanak Yesus” dalam satu perspektif “Perjalanan Hidup Yesus”. Kedua kisah ini dalam Injil Matius menemukan benang merahnya, di mana “Sengsara Yesus” dimulai sejak awal mula Ia datang ke dunia hingga Ia mati di atas kayu salib. Mari kita lihat bersama-sama satu per satu.

I. Kelahiran Yesus (Matius 2)

Hanya dalam Injil Matius kita dapat menemukan kisah tentang “Orang Majus dari Timur”; “Penyingkiran Yesus ke Mesir”; “Pembunuhan anak-anak di Betlehem”; dan “Kembali dari Mesir”.

Yesus dilahirkan di tanah Yudea, di Betlehem, pada zaman Raja Herodes. Orang-orang majus datang dari timur dan bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Ketika Herodes mendengar itu, terkejutlah ia dan “seluruh Yerusalem” (sebuah ungkapan yang ingin menunjukkan bahwa seluruh orang Yahudi terkejut). Sungguh menarik di sini, Raja Herodes kemudian mulai khawatir dan menunjukkan kemarahannya. Ia merasa tersaingi oleh kehadiran “bayi kecil” ini. Hal ini sungguh di luar nalar, tanpa rasio, dan tak dapat dijelaskan, “Bagaimana mungkin seorang Raja yang besar merasa tersaingi oleh kehadiran seorang bayi kecil yang tak bisa apa-apa, bahkan mungkin hanya bisa menangis di gendongan ibunya?” Inilah yang namanya kekhawatiran, kecemburuan, merasa tersaingi, kemarahan, dan seluruh emosi negatif pada diri seseorang yang kadang tak dapat dipahami. Ini yang terjadi pada Herodes. Dengan seluruh dorongan-dorongan (emosi-emosi) negatif ini pula, ia mulai menyuruh membunuh semua bayi di bawah umur 2 tahun, di Betlehem dan sekitarnya.

Hal inilah yang membuat Yoseph dan Maria membawa Yesus mengungsi ke Mesir – “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku”. “Bayi kecil” ini pun harus merasakan pula kesengsaraan, menjadi pengungsi bersama orangtuanya. Meninggalkan tanah kelahiran yang dicintai, pergi ke tanah asing tuk bertahan hidup – “lari dari kekuasaan yang membelenggu”. “Institusi Kekuasaan”-lah yang membuat-Nya menderita dan begitu banyak bayi yang tak berdosa menjadi korban.

Setelah Sang Raja mati, pergantian tahta pun terjadi. “Tongkat Estafet” pun berpindah ke tangan orang terdekat Sang Raja. Arkhelaus, anak Herodes, akhirnya menjadi penguasa baru di Yudea. Pergantian kekuasaan, menjadi sebuah harapan baru bagi keluarga Yoseph. Ia pun memberanikan diri tuk membawa Sang Putra dan istrinya kembali ke tanah asal mereka. Namun, Yoseph pun masih merasa takut karena kini yang berkuasa adalah anak dari penguasa sebelumnya. Ia pun memutuskan tak kembali ke Betlehem, melainkan pergi ke daerah Galilea, di sebuah kota yang bernama Nazareth. Dari sinilah asal-muasal mengapa Sang Putra kemudian disebut sebagai “Orang Nazareth”. [Pada abad-abad setelahnya, para pengikut-Nya sering disebut sebagai “Orang-Orang Nasrani” – Orang-Orang Pengikut Orang Nazareth itu. “Nasrani” adalah sebuah “olok-olokan” bagi para pengikut-Nya waktu itu  (Lih. Kis 24:5).]

“Bukankah hal ini masih terjadi di dunia kita dewasa ini?” Di mana banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan perang, yang seringkali diatasnamakan “demi perdamaian dunia”. Ada “kuasa” di sini, yang dipakai tanpa rasionalitas, melainkan oleh dorongan-dorongan emosi semata dan berusaha melihat “yang lain” sebagai sesuatu yang membahayakan “kuasa”-nya. “Demi perdamaian dunia”, orang-orang yang tak berdaya menjadi korbannya. Ternyata setelah 2000 tahun, “Herodes Sindrom” tetap ada dan bertahan sampai hari ini.

II. Kisah Penyaliban Yesus (Matius 26:14 – 27:66)

Kali ini Yesus kembali ke Yudea, namun bukan ke Bethlehem (tempat kelahiran-Nya), melainkan ke Yerusalem. Di sana, Ia akan menderita. Ia akan berjumpa dengan para penguasa, baik itu para penguasa sipil maupun agama. Begitu banyak intrik di sana-sini, bahkan murid-Nya sendiri “menjual”-Nya dengan “tiga puluh uang perak”.

II.1. Perjamuan Makan Malam      

Sebelum semua penderitaan itu terjadi, Ia makan malam bersama murid-murid yang dicintai-Nya. Sebuah malam perpisahan yang mengharukan. Hari itu hari yang penting. Sebuah pesta sedang dirayakan – Pesta Paskah, di mana mengenang Allah yang menyelamatkan orang-orang Israel dari bangsa Mesir. Namun, di sisi lain, Ia pun diselamatkan Allah di Mesir. Sebagian masa kanak-kanak-Nya dihabiskan di sana, dengan menjadi pengungsi. Jadi, ini adalah sebuah perjamuan makan malam yang tidak biasa – di balik itu semua, ada kata “Mesir”, yang menyatukan “penderitaan” dan “penyelamatan” dalam satu “keping mata uang”.

Pada saat yang sama, Yesus pun mengungkapkan bahwa di antara para murid-Nya ada yang akan mengkhianati-Nya. Semua sedih dan murid-murid pun berkata, “Bukan aku.. Bukan aku.. Bukan aku, ya Tuhan..”.  Namun Yudas tak seberani yang lain, masih ada keraguan dalam hatinya. Ia pun akhirnya hanya berkata, “Bukan aku, ya Rabi..”. Ia tak dapat melihat Yesus sebagai Tuhan, melainkan hanya sebagai Rabi semata.

Kemudian Yesus pun mulai mengambil roti dan anggur, mengucap berkat dan berkata, “Inilah tubuh-Ku.. inilah darah-Ku.. makanlah dan minumlah..”. Mereka makan dan minum dari roti dan anggur yang sama. Saling berbagi dalam kesedihan. Inilah yang terjadi dalam perjamuan malam itu.

II.2. Getsemani         

Setelah perjamuan itu, Ia pun berdoa di taman Getsemani malam-malam. Ia pergi bersama beberapa murid-Nya, namun Ia ditinggal tidur. Ia ditinggal seorang diri. Ia berdoa kepada Bapa, ada kesedihan yang sungguh mendalam saat itu, bahkan Ia merasa mau mati rasanya waktu itu. Sebuah kesedihan yang sungguh-sungguh mendalam. Dari hati yang terdalam pula, Ia berdoa kepada Bapa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin berlalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Ia tahu bahwa waktunya akan tiba, “Dia yang akan menyerahkan Aku sudah dekat.”

Kemudian muncullah salah satu murid-Nya, Yudas. Namun ia tidak sendiri. Ia datang bersama rombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung. Mereka datang disuruh oleh Imam-Imam Kepala dan Tua-Tua bangsa Yahudi. “Penguasa Agama” ada di balik ini semua. Yudas pun mencium Yesus. Ini bukan sebuah ciuman yang tulus, melainkan sebuah “ciuman yang penuh pengkhianatan”. Namun, Yesus pun hanya berkata, “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Seorang pengkhianat pun masih dianggap “teman” oleh-Nya. Selain itu, Yesus pun merasa heran, “Sangkamu aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.”

II.3. Kayafas dan Pilatus

Setelah ditangkap, Yesus dihadapkan kepada Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul pula ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Para “Penguasa Agama” sudah ada di rumah Imam Besar. Mereka berkumpul di sana untuk menyidangkan Yesus secara “agama” dalam Mahkamah Agama. Kesaksian-kesaksian palsu pun dihadirkan. Namun Yesus hanya diam saja. Lalu akhirnya, Imam Besar pun berkata, “Apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak?” Yesus pun menjawab, “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!” Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia.

Setelah itu, para pemuka agama ini membawa Yesus ke hadapan Pilatus, penguasa negeri. Mereka sadar betul bahwa mereka tak dapat menjatuhi hukuman mati bagi Yesus. “Penguasa Sipil”-lah yang memiliki kuasa itu. Kali ini pemimpin agama dan pemimpin sipil bertemu dalam satu kesempatan. Namun, kali ini sedikit berbeda. Jika di hadapan Mahkamah Agama, Yesus dituduh menghujat Allah karena mengakui diri-Nya sebagai Mesias – Anak Allah; kali ini di hadapan Pilatus, pertanyaannya menjadi sedikit berbeda, “Engkaukah Raja Orang Yahudi?” Pertama-tama murni persoalan agama (Mesias, Anak Allah), kali ini agak berkembang sedikit menjadi persoalan sosial-politik (Raja Orang Yahudi), walaupun tetap masih ada “aroma agama” di dalamnya. Pilatus dihadapkan pada dilema saat itu. Ia mencari cara tuk dapat “keluar” dari persoalan ini dengan “elegan”. Lalu, ia menyerahkan keputusan itu kepada orang banyak yang berkumpul pada saat itu, “Pilih Barabas atau Yesus yang dibebaskan?” (walaupun ia tahu persis bahwa Yesus tak memiliki kesalahan apa-apa yang setimpal dengan hukuman mati). Inilah kesempatan yang baik bagi para imam-imam kepala dan tua-tua tuk menghasut orang banyak. Dan ternyata mereka berhasil membebaskan Barabas dan Yesus dihukum mati.

Penutup

Sungguh menarik melihat kisah penyaliban Yesus ini: ada para “Pemuka Agama”, ada “Massa” yang berkumpul, dan ada pula “Penguasa Sipil”. Mereka semua memiliki peranan masing-masing dalam kisah penyaliban Yesus. Namun dari kisah ini, kita dapat menemukan bahwa “penyaliban ini adalah sebuah proses institusional yang melibatkan banyak pihak agar dapat dilegitimasi secara ‘hukum’, baik itu ‘hukum agama’ maupun ‘hukum sipil’.” Selain itu, sengsara Yesus dimulai sejak Ia lahir (datang ke dunia) hingga Ia mati di atas kayu salib. Di sana selalu ada “penguasa” dan “kekuasaan” yang berperanan.

Lalu, yang menjadi pertanyaan kita saat ini, “Apa artinya Salib Yesus bagi dunia kita saat ini.. dunia yang dipenuhi oleh berbagai macam intrik.. di mana penindasan ada di mana-mana.. kekuasaan dipakai tuk mengejar kepentingan kelompok masing-masing.. di mana ‘perdamaian’ ditempuh dengan cara perang dan kekerasan.. apa artinya Salib Yesus saat ini dan di sini..?”

Yang jelas, di antara Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas), hanya Injil Matius yang tidak mengisahkan tentang kenaikan Yesus ke Surga. Di akhir Injilnya, Matius menuliskan kata-kata Yesus yang terakhir, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20).” Jadi, percayalah bahwa Yesus selalu menyertai kita dalam hidup kita sehari-hari di dunia ini sampai akhir zaman. Betapa pun buruknya dunia kita saat ini, yang jelas.. Ia pun ikut menderita dengan kita hingga hari ini. “Salib kita menjadi salib-Nya pula..!”

 

Selamat Berpekan Suci!

Nikolas Kristiyanto, SJ