Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/romo-asal-sleman-dan-juga-ahli-hukum-gereja-itupun-akhirnya-menjadi-uskup-semarang/

Romo Asal Sleman dan juga Ahli Hukum Gereja itupun Akhirnya Menjadi Uskup Semarang

Jumat, 19 Mei 2017 tepatnya di Lapangan Bhayangkara AKPOL Semarang adalah saat yang dinantikan umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Akhirnya umat di Keuskupan Agung Semarang memiliki seorang Uskup baru “Mgr Robertus Rubiyatmoko”

Sejak tanggal 18 Maret 2017 tahta Keuskupan Agung Semarang sebagai metropolit Provinsi Gerejani dipegang oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Dengan terpilihnya Mgr. Rubi adalah sebuah hadiah yang istimewa untuk Keuskupan  Agung Semarang setelah mengalami tahta lowong kira-kira kurang lebih satu setengah tahun (16 bulan) setelah meninggalnya Mgr. Johannes Pujosumarto tanggal 10 November 2015 silam.

Jumat sore tepatnya  pukul 16.00 WIB di lapangan Bhayangkara AKPOL Semarang sekitar 32 uskup se-Indonesia; Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi; Kardinal Julius Darmaatmaja, SJ; ratusan imam, dan  18.000an umat perwakilan dari 100 paroki yang ada di Keuskupan Agung Semarang datang untuk mengikuti serta mendukung tahbisan uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Puncak dari acara Tahbisan ini adalah penumpangan tangan yang dipimpin oleh Mgr. Ignasius Suharyo (Keuskupan Jakarta), dan didampingi oleh Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin (Keuskupan Bandung) dan Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan (Keuskupan Malang) yang kemudian diikuti oleh para uskup yang lain.

Setelah acara penumpangan tangan dari para uskup, lantas Mgr. Rubi mendapat ucapan selamat dari berbagai kalangan dan tamu undangan diantaranya: biksu, wakil walikota Kota Semarang, Walikota Kota Solo, Perwakilan  dari TNI, dan masih banyak tamu undangan yang turut memberikan ucapan selamat pada Mgr. Rubi.

             Mgr. Rubi mendapatkan ucapan selamat dari umat lintas agama

Setelah acara penumpangan tangan dari para uskup yang hadir, Mgr. Suharyo selaku ketua KWI  mengucapkan selamat pada umat di Keuskupan Agung Semarang sekaligus mengajak seluruh umat untuk turut mendukung dan mendoakan Mgr. Rubi agar mampu menjalankan tugas penggembalaannya dengan baik. Bahkan  dalam sambutannya Mgr. Haryo sempat nyeletuk kalau selama beliau menjadi seorang uskup, baru kali ini beliau mendapatkan pertanyaan tentang kumis dari Mgr. Rubi.  Apakah harus dipotong atau dibiarkan saja. Dan menurut beliau itu adalah salah satu bentuk penyerahan diri Mgr. Rubi dalam mengikuti dan menjawabi panggilan Yesus.

Lalu sesudah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi mengucapkan selamat pada umat keuskupan Agung Semarang atas hadirnya uskup baru kemudian beliaupun membacakan surat yang ditulis dari Paus Fransiskus yang menyatakan bahwa menunjuk Mgr. Robertus Rubiyatmoko menjadi uskup Semarang.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari uskup terpilih Mgr. Rubi. Beliaupun menceritakan kalau sejak kecil beliau hanya ingin menjadi seorang imam projo biasa yang selalu dekat dengan umat. Beliau pun tidak pernah bercita-cita menjadi seorang uskup. Beliau menceritakan  bagaimana  ketika ia mendapatkan amanat menjadi uskup. Sabtu , 4 Maret 2017 sebuah pesan singkat masuk ke gadget Rm Rubi dari Duta Besar Vatikan untuk Indonesia yang berisi “I need to meet you asap”. Secara spontan Rm Rubi bergejolak kuat sekali.

“Ada perasaan gelisah karena mencekam ketakutan dan kekuatiran kalau undangan ini berarti menunjuk Rm Rubi menjadi uskup. Sejak tanggal 4 Maret sampai dengan tanggal 10 Maret 2017 saat saya bertemu dengan Nuncio, saya selalu berdoa: Tuhan, singkirkan cawan ini dari padaku dan jangan sampai kekuatiran dan ketakutan ini menjadi kenyataan” ucap Mgr. Rubi.

Karena berbagai macam kesibukan Mgr. Rubi baru bisa bertemu dengan Nuncio pada Jumat 10 Maret 2017. “Paus Fransiskus memilih anda menjadi Uskup Agung Semarang.” Kata Duta Besar Vatikan pada Rm Rubi. Rasanya seperti disambar petir lalu dengan spontan Rm Rubi menjawab “ questo che io non voglio (ini yang saya tidak mau)”. Beliaupun merasa sangat mencekam dan tidak mempunyai kekuatan. Sebagai orang hukum, beliau sadar betul makna dari penunjukkan ini. Apalagi ketika Nuncio bahwa ini bukanlah suatu pilihan tapi adalah sebuah keharusan. “ Sebagai seorang manusia yang memiliki banyak kekurangan , ketidakmampuan, dan kelemahan. Saya menyadari ketidakpantasan diri saya mengemban tugas perutusan yang sangat mulia dan agung ini.” Kata Mgr. Rubi.

Rm Rubi memohon izin untuk berdoa dan berdiskresi di hadapan Tuhan Yesus yang tersalib dan bersemayam di dalam tabernakel di Kapel Nunciatura. Dan satu jam lebih berdoa serta bertanya pada Tuhan.

“Tuhan kalau Engkau memang menghendaki hambaMu ini menjadi gembala umatMu, buatlah hambaMu ini berserah pada kehendakMu dan berilah hambaMu ini kebijaksanaan, kerendahatian, dan semangat untuk melayani demi keselamatan kawananMu.” Doa ini diulang secara terus menerus sebelum akhirnya demi ketaatan suci – saya menyatakan bersedia menerima penunjukkan ini sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang oleh Bapa Suci, Paus Fransiskus. Kata Mgr. Rubi.

Sejam berlalu, Rm Rubi pun kembali menghadap Nuncio Duta Besar Vatikan berkata, “Kalau Tuhan   menghendaki kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berserah diri pada Dia.” Kata-kata dari Nuncio itu ternyata  telah menguatkan Rm. Rubi.

Untuk meneguhkan hatinya, Rm Rubi kemudian menelpon Mgr. Suharyo uskup Keuskupan Jakarta mengatakan “nderek bingah” (ikut bahagia) dan mengatakan “Rumiyin kula, sakniki jenengan. Pun mlampah mawon, ngeli mawon. “ (Dulu saya, sekarang Anda. Sudah dijalani saja, mengalir saja.”

Keteguhan dan kemantapan untuk menerima panggillan sebagai uskup semakin kuat dirasakan Rm Rubi setelah menjalani  retret dalam bimbingan Bapa Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ pada tanggal 3-8 April  2017 di Girisonta. Dalam pendampingannya Mgr Rubi dibantu untuk mengenali dan mengamini kehendak Tuhan atas dirinya. “Inilah saat pertama kali saya merasa lega dan gembira sejak menerima kabar panggilan tanggal 4 Maret 2017” ucap Mgr Rubi yang tersenyum lebar.

 

Siapakah Mgr. Rubi itu?

Mgr. Robertus Rubiyatmoko lahir di Sleman, Jogjakarta pada tanggal 10 Oktober 1963.  Beliau adalah putra ke-4 dari 5 bersaudara dari pasangan Stanislaus Harjopartono (alm) dan Elizabeth Harjopartono (alm).

Mgr. Rubi memulai panggilan imamatnya di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang pada tahun 1980-1981. Karena kecintaanya pada Keuskupan Agung Semarang itulah yang membuatnya memilih menjadi calon imam diocesan Keuskupan Agung Semarang.Dan memulai dengan masuk di Pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR Sanjaya Jangli Semarang) tahun 1984-1985.

Kemantapannya menjadi calon imam diocesan KAS. Fr. Rubi pun kemudian melanjutkan Pendidikan filsafat dan teologi di Fakultas Wedhabakti Universitas Sanata Dharma Jogjakarta dan tinggal di Seminari Tinggi Kentungan Jogjakarta. Tahap itu kemudian berlanjut hingga akhirnya menerima tahbisan imam dari Bapa Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ pada tanggal 12 Agustus 1992.

Ketika menjadi imam Rm Rubi menjani tugas pelayanannya sebagai pastor pembantu di Paroki St. Maria Assumpta Pakem tahun 1992-1993. Kemudian Bapa Uskup Kardinal Julius Darmaatmadja memberikan tugas untuk studi lanjut mengenai hukum gereja di Roma, Italia.

Rm. Rubi pun menerima gelarnya sebagai Doktor Ilmu Hukum Gereja di Universitas Gregoriana di Roma dari tahun 1993-1997.  Setelah mendapatkan gelar sebagai Doktor Hukum Gereja. Beliau pun kemudian menjadi dosen di Fakultas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma. Sekaligus mejadi staff Seminari Tinggi Kentungan (1998-2017)serta menjalani tugas di tribunal/pengadilan gereja KAS (1998-2017). Tak hanya itu saja, beliau pun juga diangkat  menjadi Vikaris Yudisial (Ketua Pengadilan Gereja) KAS.

 

Quarere  et Salvum Facere

Quarere et Salvum Facere adalah Motto yang dipilih oleh Mgr.Robertus Rubiyatmoko sebagai Uskup Agung Semarang ke- 6.

Lambang Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko adalah perisai yang terbagi menjadi 3 bagian: dua bagian di atas , kiri, dan kanan, dan satu bagian besar di bawah.

Di bagian atas sebelah kiri, dengan latar belakang biru adalah sebuah gunung yang berwarna putih dan sebuah bintang bersudu 6 berwarna kuning keemasan pada bagian atas. Gunung ini melambangkan tempat kelahiran dari Mgr. Rubi, di sebuah daerah yang subur dengan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara. Dan gambar bintang yang terletak di atas gunung yang melambangkan Allah pencipta alam semesta.

Pada bagian atas sebelah kanan dengan latar belakang merah  adalah sebuah neraca yang berwarna kuning keemasan. Yang melambangkan profesi hukum yang merupakan keahlian dari Bapa Uskup.

Pada bagian bawah perisai dengan latar belakang warna kuning keemasan adalah Anak Domba Paskah berwarna putih yang berdiri menghadap ke kiri dengan kepala menoleh ke kanan. Di bagian kepala Anak Domba Paskah ini terdapat lingkaran kemuliaan warna putih dengan salib warna merah di tengahnya. Sang Anak Domba mengapit dengan kaki kanan depannya sebuah  tiang berujung salib dengan bendera Salib St. Gregorius warna merah di atas kain warna putih.

Anak Domba Paskah yang mengapit bendera ini adalah laambang Kristus yang telah mengalahkan maut dan bangkit dengan jaya untuk menyelamatkan manusia. Anak Domba Allah yang kudus ini  juga adalah lambang dari iman, ketidakberdosaan , keberanian, kelembutan, kemurnian, dan dengan semangat yang teguh.

Pada bagian atas terdapat sebuah galero atau topi khas klerus yang berwarna hijau dengan 10 jumbai pada masing-masing sisinya.

Di bagian tengah belakang perisai adalah sebuah salib pancang yang berwarna kuning keemasan dengan 2 palang mendatar. Galero hijau dengan 10 jumbai berikut salib pancang dengan 2 palang mendatar merupakan pananda bahwa sang empunya lambang ialah seorang uskup agung.

Akhirnya,di bagian bawah perisai terdapat sebuah pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan motto dari penggembalaan Mgr. Rubiyatmoko yang Bahasa Latin “Quarere et Salvum Facere” yang berarti “Mencari dan Menyelamatkan” (Luk 19:10)

 

Maria Febri Kristina (Ria) – OMK Paroki St. Paulus Sendangguwo Semarang.