Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/rosa-dahlia/

Rosa Dahlia: ‘Santa’ Anak Papua

Namanya kali pertama saya lihat terpampang di papan reklame di samping kampus saya–Sanata Dharma. Rosa Dahlia dinobatkan sebagai salah satu perempuan penembus batas karena karya sosial yang ia lakukan di ketinggian Gunung Lanny Jaya[1], Papua.

Rosa disebut sebagai perempuan penembus batas karena dedikasinya sebagai seorang pengajar di daerah terpencil di Lanny Jaya, bernama Kampung Lualo. Kampung Lualo sendiri berjarak 6 jam perjalanan dengan menggunakan mobil 4WD dari kota Lanny Jaya, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri gunung, lembah, dan sungai selama kurang lebih 3 jam karena tidak ada akses jalan untuk transportasi bermotor.

Nona manis yang November tahun ini genap berusia 30 tahun sudah mengabdikan diri bagi pendidikan anak-anak Papua sejak medio tahun 2013. Perjalanannya ke tanah Papua diawali dari terpilihnya Rosa sebagai salah satu dari 60 petualang program Aku Cinta Indonesia yang diadakan tahun 2011, silam. “Saya dikirim ke Pulau Seram, Provinsi Maluku, untuk eksplore pariwisata di sana, terutama di pariwisata di Gunung Binaiya,” Katanya.

Namun, dari hasil reportasenya itu, Rosa malah menemukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menarik keprihatinannya begitu mendalam ketika mendapati fasilitas pendidikan anak-anak di sana yang sangat minim. Berbekal hasil reportase inilah ketika kembali ke tanah Jawa, Rosa bersama sebuah komunitas bernama 1 Buku untuk Indonesia kembali ke Maluku dengan membawa lebih dari 1000 buku yang berhasil ia galangkan untuk anak-anak di Bianiya.

Rosa tak ubahnya seorang suluh bagi anak-anak di Binaiya, susah payah datang kembali demi pendidikan di sana, dengan harap bahwa anak-anak di sana lebih mengenal dunia[2].

IMPIAN YANG TERLAKSANA

Nona yang memiliki nama lengkap Teresa Rosa Dahlia Yekti Pratiwi ini pernah bermimpi untuk bisa menjadi guru di Papua dan melihat suatu saat nanti semua anak di daerah Papua bisa mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak di luar Papua, di Jawa misalnya. Secercah mimpi ini kemudian menjadi semakin nyata ketika pada tahun 2013, Rosa lolos seleksi program mengajar di pedalaman yang diadakan oleh pemerintah kabupaten Lanny Jaya yang bekerja sama dengan yayasan SURE[3]─yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan pemanfaatan teknologi. Rosa kemudian ditempatkan di salah satu distrik bernama Tiom.

doc. Rosa

Sebagai orang Jawa yang tinggal di Papua apalagi mengajar di pedalaman, tentu membuat Rosa mengalami kendalanya sendiri. Selain dari adat-istiadat dan kebiasaan yang berbeda, salah satu kendala yang dihadapi oleh Nona ini adalah ketika ia harus membiasakan untuk menerima barang dan bersalaman dengan tangan kiri. “Di sini, tangan kanan dan kiri itu sama ciptaan Tuhan. Sama-sama bagus, jadi tidak ada masalah mau pakai tangan kanan atau kiri” ucapnya.

Posisinya sebagai guru juga membuatnya mengalami beberapa kendala seperti dalam penggunaan Bahasa Indonesia.

1 2 3