Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/sant-egidio-jogja/

Benih yang Jatuh di Pinggir Jalan

“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.” (Lukas 8:5)

Cerita perumpamaan seorang penabur di atas termasuk salah satu favorit saya dalam kisah-kisah kitab suci. Pasalnya, saya menghabiskan masa remaja saya di Seminari. Seminari sendiri berasal dari kata bahasa Latin yakni Seminarium yang berarti tempat persemaian benih. Saat ini, oleh Sang Penabur, benih ini jatuh di pinggir jalan. Mengapa saya mengatakan demikian? Cerita ini bermula ketika sebagai seorang muda yang sedang mencari identitas diri, saya bertemu dengan Komunitas Sant’Egidio.

Komunitas Sant’Egidio lahir dari spiritualitas Katolik, yang tumbuh dari semangat Andrea Riccardi – pendiri komunitas Sant’Egidio—yang melihat orang miskin sebagai sumber inspirasi untuk memaknai kehidupan yang lebih manusiawi pada tahun 1968 di Roma.

Terbentang ribuan kilometer jauhnya, di jalanan Jogja, kalian akan bertemu dengan beragam manusia, yang baik dan yang jahat di mata manusia kebanyakan. Bayi sampai lansia, pengamen, pengemis, pemulung, waria, dan lain-lain, semuanya ada di sana. Dengan berbekal semangat Andrea, beberapa anak muda di Jogja dari pelbagai latar belakang yang berbeda mendedikasikan diri mereka sebagai sahabat bagi sesame, bagi mereka yang terlupakan, bagi mereka yang tidak diperhatikan, seiring dekat kencangnya lajur tumbuh kembang Jogjakarta. Mereka adalah Komunitas Sant’Egidio Jogja.

doc. Pribadi

Apa yang komunitas ini coba lakukan? Pertama komunitas menawarkan sebuah persahabatan yang tulus dengan mereka – orang yang terlupakan oleh tumbuh kembang kota. Mereka merupakan benih-benih yang berharga. Sebuah persahabatan yang tulus akan menimbulkan sebuah ikatan keluarga. Dalam sebuah ikatan keluarga, kita akan tahu apa yang harus kita lakukan kepada anggota keluarga kita ini.

Tinggal dan menjalani kehidupan di jalanan bukanlah cara hidup pilihan mereka, tetapi karena keadaan dan kondisilah yang membuat mereka di sana. Kalau pun disuruh untuk memilih, pastilah sebagai manusia mereka tidak akan mau memilih kehidupan ini, mereka juga pasti mau untuk hidup layak dan menjalani kehidupan yang lebih baik sama seperti saudara-saudaranya yang jatuh di tanah yang subur.

Berada dalam keluarga yang demikian, apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota keluarga itu? Pilihan pertama, memindahkan ke tanah yang subur dan yang kedua, menyuburkan tanah di pinggir jalan tersebut.

Pilihan pertama kebanyakan dipilih oleh orang-orang, hal ini memang tidak membutuhkan waktu yang banyak di mana bisa dilakukan dengan cepat, tapi hal ini juga akan menimbulkan banyak resiko. Resiko selain akarnya bisa tidak tercerabut semua dan juga proses adaptasi bisa membuat benih tanaman tersebut mati. Komunitas Sant’Egidio memilih pilihan yang kedua yakni menyuburkan tanah di pinggir jalan tersebut.

Di Komunitas Sant’Egidio ibaratnya kita belajar menjadi petani. Dengan menjadi petani kita diajari untuk sabar terhadap proses pertumbuhan dan juga bagaimana menyuburkan tanah tersebut..

Lalu, sebagai petani, apa yang bisa kita lakukan untuk menyuburkan tanah tersebut? Komunitas Sant’ Egidio berdasarkan pengalamannya membentuk Sekolah Damai, di kompleks lapak Wonocatur, sebagai sebuah tempat untuk anak-anak belajar dan bertumbuh. Ini adalah sebuah tempat persemaian benih sehingga anak-anak bisa bertumbuh tanpa terganggu akar-akar kekerasan.

Harapannya, dengan melihat anak-anaknya bisa bertumbuh dengan baik akan membuat kehidupan dalam keluarga masing-masing bisa berubah menjadi lebih baik. Dari anak-anak, akan membawa perubahan bagi orang tua mereka. Setelah kita menyirami benih-benih ini dengan air, sekarang tugas kita adalah memberikan pupuk. Pupuk itu adalah pupuk sanctitas, pupuk sanitas, pupuk scienta, pupuk sapienta, dan pupuk socius.

Apa itu pupuk sanctitas? Pupuk ini adalah pupuk yang mengandung nilai-nilai kekudusan. Tidak ada yang memilih untuk terlahir dalam keluarga yang penuh lumpur dosa dan kejahatan, tapi setiap orang bisa bisa memilih untuk melakukan kebiasaan yang baik. Seorang anak ketika mempunyai kebiasaan yang baik, meskipun ketika dikelilingi kejahatan dan dosa dia tetap tidak akan lupa untuk melakukan hal baik.

Kebanyakan orang tua karena dari kecil ataupun lahir tidak mendapatkan bimbingan rohani yang baik membuat kehidupan religiusnya hanya sekedar identitas. Mayoritas keluarga di jalanan Jogja beragama Islam, kami sedikit mengalami kesulitan. Beruntung saudari-saudari dari Pondok Pesantren Nurul Umahat membantu dan akhir-akhir ini dibantu juga oleh saudara-saudari dari HMI UIN Kalijaga. Saudara-saudari kita ini mengajarkan melafalkan Iqro’ dan mengajari cara sholat, saudara-saudari yang beragama Katolik dan lainnya biasa membantu mengingatkan adik-adik ketika waktunya untuk sholat.

Apa itu pupuk sanitas? Pupuk ini adalah pupuk untuk kesehatan jasmani, di mana dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat – begitu kata peribahasa. Tumbuh di pinggir jalan secara tidak langsung sudah membuat tubuh benih-benih ini memiliki antibodi terhadap lingkungannya. Hal pertama yang bisa kami lakukan adalah dengan mengajarkan dan menjaga kebersihan diri.

Memperhatikan kebersihan diri sendiri adalah hal paling utama, selain sebagai teladan hidup,hal ini juga menjaga agar kita tidak mudah terserang penyakit. Kebersihan adik-adik harus diperhatikan, membuat peraturan ketika datang ke ruang perpustakaan dan ruang kelas seperti mengharuskan mereka memakai sendal jepit sebelum datang ke kelas; mengharuskan mereka mandi sebelum mulai kegiatan; memotong kuku; juga menjaga kebersihan pakaian.

Sant’Egidio juga berusaha mengajak teman-teman yang sedang kuliah di bidang kesehatan untuk datang membantu memberikan penyuluhan tentang kebersihan. Selain itu, bila punya waktu luang kami mengadakan kegiatan olahraga dengan bermain permainan anak-anak, meskipun terkadang permainannya terbatas karena sempitnya lahan tempat anak bermain.

Bila ada yang sakit kami berusaha untuk cepat mengantarkan mereka untuk diperiksa di puskesmas terdekat. Bila menghadapi sakit yang kritis dan membutuhkan biaya besar dan bagi mereka yang tidak punya surat-surat dan BPJS, kami bisa menghubungi Dinas Sosial untuk membantu.

Kesehatan, rasanya memang menjadi masalah pelik ketika tinggal di komplek jalanan. Namun, bersama pemilik lapak di Wonocatur, Jogja, kami sedang berusaha mengajak LSM yang bergerak di bidang kesehatan dan pihak-pihak terkait untuk ikut turun tangan mengatasi masalah kesehatan bagi warga yang tinggal di jalanan ini.

Pupuk scienta. Ini merupakan pupuk yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu pengetahuan. Benih ini kami bantu untuk dapat mengakses ilmu-ilmu pengetahuan di sekitarnya.

Yang Komunitas Sant’Egidio lakukan yakni membantu adik-adik itu, benih-benih itu, agar bisa belajar sesuai dengan pelajaran yang ada di sekolah dan juga membuat sebuah perpustakaan buat mereka. Dengan dibantu LKS Rumah Impian, adik-adik yang tidak sekolah dan sudah melewati umur untuk didaftarkan ke PKBM Reksonegaran agar mereka bisa mengejar ketinggalan mereka dengan Paket A.

Mengisi hari-hari benih ini dengan bermain dan belajar membantu mengurangi waktu mereka untuk tidak ikut turun ke jalanan. Kami berusaha untuk menjadi kakak buat adik-adik ini. Yang kami inginkan dari mereka adalah mereka bisa mempunyai impian, cita-cita, dan segala hal baik lainnya untuk hidup mereka nantinya. Dan, kami mulai itu semua dari memberikan pondasi mengenai pentingnya pendidikan itu.

Selanjutnya, pupuk sapientia. Ini merupakan pupuk kebijaksanaan, pupuk yang berasal dari kompos kehidupan. Sisa daun-daun yang jatuh dan sampah kotoran di sekitar benih-benih bisa kita jadikan pupuk kompos.

Benih-benih itu semenjak dalam kandungan sudah berada dan ikut terlibat dengan masalah-masalah yang ada di sekitar mereka. Hal ini menyebabkan mereka lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak-anak seusiannya, dari kecil mereka sudah hidup dalam kehimpitan dengan sudah harus mencari uang dan juga pergaulan yang sangat bebas turut andil di dalamnya. Masalah-masalah di sekitar mereka ini bila tidak diolah secara baik akan membawa dampak buruk buat mereka.

Komunitas Sant’Egidio hadir sebagai saudara yang mendengarkan suara mereka, dengan menjadi pendengar bagi adik-adik kita juga bisa banyak belajar. Kami juga berusaha bersama-sama mereka mengolah masalah yang mereka alami, membantu mereka mencari nilai-nilai di baliknya dan mencari solusi yang baik. Mengolah benih-benih kehidupan ini membutuhkan akal pikiran dan perasaan yang kuat yang berjalan bersama. Dengan memiliki itu, komunitas yakin ini dapat membantu keluarga tersebut untuk bertumbuh dengan lebih baik.

Apa itu pupuk socius? Ini merupakan pupuk yang sangat penting karena ini adalah pupuk jiwa yang harus disertakan bersama pada pupuk-pupuk yang lainnya. Pupuk ini menjiwai dalam kehidupan sosial mereka, di dalamnya terkandung juga solidaritas. Dengan membuat persemaian Sekolah Damai di Wonocatur, Komunitas Sant’Egidio menanamkan nilai ini pada jiwa adik-adik di jalanan. Harapannya kehidupan sosial adik-adik bisa bertumbuh dengan baik.

Jika pupuk ini disertakan bersama nilai kekudusan maka dampaknya adalah selain membantu kehidupan dalam keluarga masing-masing, keluarga-keluarga ini bisa masuk dalam kehidupan sosial rohani di sekitar tempat tinggal, mereka jadi mudah ketika bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dengan sholat berjemaah di masjid sekitar.

Jika pupuk ini disertakan bersama nilai kesehatan jasmani, maka dampaknya adalah adik-adik bisa mulai memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar, saling menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya.

Jika disertakan bersama nilai pengetahuan, maka akan berdampak adik-adik nantinya akan memiliki keahlian dan pengetahuan yang bisa mereka gunakan untuk membantu sesamanya dalam bertumbuh.

Dan apabila disertakan bersama nilai kebijaksanaan, maka adik-adik ini, benih-benih di pingir jalan ini, bisa mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari kehidupan mereka, mereka bisa belajar kebijaksanaan dari para lansia yang telah hidup lama di jalanan. Adanya nilai solidaritas membantu mereka bisa saling menjaga impian dan harapan mereka bersama-sama.

“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.” (Lukas 8:11-12)

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi Pertumbuhan.” (1 Korintus 3:7)

 

 

 

Penulis:

Aloysius Do Carmo Sobak

Penyelaras Tulisan:

Cahyok

 

 

Komunitas Sant’ Egidio kini sedang aktif menjadi teman di beberapa tempat pelayanan seperti:

  • Melakukan bimbingan belajar pada Sekolah Damai di Wadas, Sleman dan Rumah Pelita Harapan – Beo, Demangan Baru
  • Melakukan kunjungan secara rutin ke Panti Wreda Rindu Padudan – Klitren dan ke para Romo yang telah purna karya dan sakit di Domus Pacis, Pringwulung
  • Menjadi sahabat dengan anak-anak dan orang tua yang tinggal di bawah Jembatan Babarsari dan Penampungan Pemulung Janti,
  • Dan, aktif melakukan kunjungan ke Lapas Cebongan, Sleman

 

Narahubung Komunitas Sant’ Egidio

Sham (0852-2890-1533)

Facebook: Sant’ Egidio Yogyakarta

Website: Sant’ Egidio Yogyakarta