Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/blog/topan-putra/

iCare So iShare

Pada Hati yang Tertambat Sesama, Ilmu Tak Mungkin Membisu.
(Tema Perayaan Ekaristi Pembukaan TA 2010/2011 di Universitas Sanata Dharma
– Rm. In Nugroho, SJ)

Saya menyelesaikan pendidikan di Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma pada tahun 2012. Setelah lulus dan wisuda, saya memutuskan untuk pulang kampung. Dengan semangat membara, saya ingin menjadi seorang guru di kampung halaman. Pada saat itu, program Indonesia Mengajar sedang booming dan menjadi perbincangan di mana-mana. Saya sempat ingin mendaftar menjadi salah satu pegajar muda, tetapi mengurungkan niat tersebut. Saya lebih memilih untuk pulang ke kampung halaman dan mengajar di daerah saya sendiri.

Saya tinggal di Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sandai memiliki beberapa sekolah; beberapa SD Negeri; beberapa SMP Negeri; satu SMA Negeri; satu Madrasah Aliyah; dan satu SMK Negeri.
Saya mengenyam pendidikan wajib 12 tahun—SD sampai dengan SMA—di Sandai. Hal ini yang membuat saya sangat mengetahui seluk-beluk sistem pendidikan dan kualitas sumber daya manusia yang ada di sana. Saya sangat mengetahui kualitas dan kinerja guru hingga sepak terjang mereka di dunia pendidikan.

Saya merasa sangat berterima kasih kepada mereka yang sudah mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjadi guru di Sandai. Namun, ada beberapa hal dari sikap dan kinerja mereka yang menurut saya tidak akan memberikan dampak apa-apa kepada anak-anak Sandai, bahkan—bisa dikatakan—akan merusak generasi muda Sandai ke depannya. Saya tidak tahu bagaimana cara mengkritik mereka yang berbuat demikian. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk mengubah itu adalah dengan bergabung dalam dunia pendidikan di Sandai—yang kacau—untuk memperbaikinya. Idealisme itulah yang akhirnya membawa saya menjadi guru di Sandai.

Topan bersama murid-muridnya. doc: pribadi

Semangat yang menyala-nyala dan optimisme yang membuncah mengiringi perjalanan saya menjadi guru. Saya menjadi guru Bahasa Inggris di SMA N 1 Sandai dan diberi tugas untuk mengajar anak-anak kelas XI. Masa-masa awal mengajar menjadi masa-masa yang sangat menguras emosi. Pasalnya baik silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun sesuai dengan kurikulum harus dikesampingkan terlebih dahulu karena kemampuan mereka yang masih jauh dari standar.

Praktis, dalam semester pertama, saya hanya bisa mengajarkan tata bahasa tingkat pemula dan beberapa kali memberikan materi untuk speaking dan listening. Materi itu pun merupakan materi yang sangat dasar seperti penggunaan ‘TO BE, HAVE/HAS, CAN/CANNOT’.

Kenyataan yang pahit memang. Belajar Bahasa Inggris selama 3 tahun di SMP dan 1 tahun pada kelas X tidak memberikan bekal apapun kepada mereka. Benar-benar tidak ada. Sama sekali nol.

Can you imagine this?

1 2