Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/keuskupan-agung-semarang/

Keuskupan Agung Semarang

Di Semarang sendiri, di bawah kegembalaan Pastor Mouriks, aktivitas Gereja Katolik di Semarang menampakkan geliat kehidupan. Adanya Panti Asuhan di bawah Yayasan Pelayanan Gereja dan Papa Miskin[10] (PGPM) memperlihatkan buah dari aktivitas tersebut. Boleh dikatakan bahwa untuk waktu cukup lama pelayanan sosial tersebut merupakan satu-satunya bentuk dan bukti keterlibatan kaum awam dalam kehidupan Gereja[11]. Sayang, gembala yang baik, energik dan amat aktif itu meninggal pada usia yang amat muda, 34 tahun, pada tanggal 1 April 1832. Baru pada bulan Juni datang gembala baru, Pastor Arnoldus Grube. Sayang bahwa cara hidup pastor ini terlalu sering bertentangan dengan Prefek Apostolik dan juga disiplin hidup pribadi-nya juga tidak terpuji. Tidak mengherankan bahwa akhirnya dia diskors dan dipulangkan ke Belanda.

Setelah sempat mengalami kekosongan gembala, Pastor Jan Sanders ditugaskan untuk bertugas di Semarang. Selain menangani “paroki” Pastor Sanders juga menjadi Direktur Panti Asuhan. Pada tahun 1858, Pastor Sanders cuti ke Belanda dan diganti oleh Pastor Josef Lijnen yang sejak datang di Indonesia bertugas di Padang. Beliau inilah yang mengundang Suster-suster Fransiskanes (OSF) pada tahun 1870 untuk berkarya di Semarang, terutama untuk memberi perhatian bagi pendidikan anak-anak di Panti Asuhan[12]. Atas pengabdian-nya yang cukup lama di tanah misi, sejak tahun 1865 beliau mendapat gelar kehormatan monseigneur. Mgr. J. Lijnen pulalah yang merintis dibangun-nya sebuah gereja permanen. Bangunan gereja paroki seperti yang tetap dipertahankan hingga sekarang ini diberkati oleh Pastor J. Lijnen pada tanggal 12 Desember 1875.

Jumlah imam diosesan yang datang untuk berkarya di Indonesia semakin sedikit. Secara bertahap para Jesuit mulai mengambil alih karya misi yang sudah dimulai oleh imam-imam diosesan. Imam-imam Jesuit pertama yang tinggal di Gedangan adalah Romo Petrus Jacobus van Santen (1878-1882), Cornelius Le Cocq d’Armandville (1880-1881), Petrus Maria Bonnike (1882-1886). Sewaktu Mgr. Josef Lijnen meninggal pada tanggal 10 Juni 1882, mulai saat itulah Semarang dipercayakan kepada imam-imam Jesuit. Memasuki tahun 1900 perkembangan karya misi di antara orang pribumi mengalami dinamika yang cepat, dan semuanya dikendalikan dari Gedangan; di Pulau Jawa belum ada pembagian wilayah-wilayah gerejani. Selain Suster-suster OSF, dalam konteks Semarang Tarekat lain yang mulai terlibat dalam dinamika ini antara lain Bruder-bruder St. Aloysius (CSA). Keduanya menangani Panti Asuhan dan sekolah-sekolah. Sebagai pusat-pusat pelayanan yang kemudian akan berkembang sebagai paroki atau bentuk karya lain bisa disebut Ambarawa, Muntilan, Solo[13]. Sewaktu di Jawa Timur didirikan Prefektur Apostolik Malang (tahun 1927), Surabaya (tahun 1928), dan di Jawa Tengah bagian Barat berdiri Prefektur Apostolik Purwokerto (tahun 1932), wilayah di Jawa Tengah yang tersisa akan menyusul menjadi Vikariat Semarang (tahun 1940). Di Jawa Barat didirikan Prefektur Apostolik Bandung (tahun 1932).

Sekedar untuk memberi ilustrasi bagaimana Gereja Katolik “menggerakkan” suasana hidup di Semarang di akhir abad XIX, berikut ditampilkan bagaimana pada Tahun Ajaran 1899 Suster-suster Fransiskanes Gedangan (OSF) sudah memiliki karya pendidikan dengan jumlah yang siswa yang tidak sedikit. Dari perhatian yang bersahaja untuk anak-anak miskin di Panti Asuhan, pelayanan itu berubah menjadi salah satu contoh yang baik tentang apa yang kelak menjadi sarana utama dari gerakan misi: pendidikan yang baik. Di samping memajukan sekolah Panti Asuhan, para suster juga membuka sekolah untuk anak-anak Eropa. Guna menarik murid Eropa dari kelas yang lebih tinggi, para suster “terpaksa”  menghapus kewajiban untuk mengikuti pelajaran agama[14].

Selain menampilkan pelayanan pendidikan dan jumlah murid yang dilayani oleh para Suster Fransiskanes, Saint Claverbond juga menyimpan informasi data umat di tahun 1899. Khususnya untuk kita yang hidup di abad XXI, data ini tidak kalah penting untuk diketahui supaya kita memiliki gambaran lebih baik mengenai ketersebaran dan keberagaman umat Katolik yang ada di wilayah Semarang dan sekitarnya pada waktu itu[15]. Gereja Katolik masih amat berwarna Eropa kalau menilik kewarganegaraan para pemeluknya. Dan di antara pemeluk pribumi yang tercatat, mereka itu bukan hanya dari suku Jawa melainkan Manado atau Ambon.

1 2 3 4 5