Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

http://asianyouthday.org/keuskupan-agung-semarang/

Keuskupan Agung Semarang

Semarang mempersiapkan diri sebagai Keuskupan Agung

Sejak periode awal masa pengabdian-nya sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata telah menghadapi masa-masa yang tidak mudah. Berakhirnya masa pendudukan Jepang yang berlangsung selama tiga tahun itu tidak serta menyelesaikan soal. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta bisa langsung diketahui oleh warga Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi berita gembira itu tersebar luas, Perang Kemerdekaan memasuki babak baru karena Belanda tidak menerima begitu saja proklamasi kemerdekaan Indonesia itu. Mgr. Soegijapranata selaku pimpinan Gereja dan sekaligus warganegara Indonesia dituntut keterlibatan dan posisi-nya yang jelas[27].
Sadar akan posisi Gereja yang sedikit masih “dicurigai” akan rasa nasionalisme-nya, tetapi juga pengetahuan umat akan iman Katolik yang masih minim, Mgr. Soegijapranata terus mengupayakan untuk melengkapinya sedikit demi sedikit. Untuk kedua hal ini beliau tidak hanya memikirkan umat Vikariat Semarang karena kondisi umat yang demikian merupakan kondisi umat Katolik di Indonesia. 100% Katolik dan 100% Indonesia hanyalah salah satu upaya beliau untuk mendewasakan umat[28]. Hierarki Gereja Katolik itu terdiri dari para imam, anggota kelompok ordo dan tarekat religus serta kaum awam. Lewat pelbagai publikasi dan juga Surat Gembala[29], Mgr. Soegijapranata menyapa mereka semua ini. Lebih dari itu Vikaris memanfaatkan kesempatan pertemuan-pertemuan umum untuk bisa bertatap muka secara langsung dengan umat.

Diumumkan-nya Gereja Katolik Indonesia sebagai Hierarki mandiri pada tahun 1961 tidak boleh dilepaskan dari peran Mgr. Soegijapranata yang mengajak rekan-rekan uskup di Indonesia untuk memperlihatkan bahwa Gereja Katolik di Indonesia memang sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa melupakan jasa dan warisan dari para misionaris yang telah meletakkan pondasi kuat kehidupan menggereja dan memasyarakat. Yang tidak boleh juga dilupakan bahwa dengan status itu, Gereja Katolik bisa terlibat aktif di dalam Konsili Vatikan II yang diadakan beberapa tahun stelah pengakuan itu[30]. Oleh karena itu pengakuan sebagai Gereja yang mandiri tidak terlepas dari perubahan baru di dalam Gereja Universal di bawah Paus Johannes XXIII yang mengakui peran Gereja-gereja Lokal di daerah yang sampai pada waktu itu masih disebut sebagai tanah misi.

Tabel berikut ingin memperlihatkan bagaimana Gereja Katolik di Indonesia memang layak disebut mandiri dan yang pada giliran-nya menjadikan Vikariat Semarang menjadi Keuskupan Agung Semarang[31]. Stasi/(Quasi) Parokiditampilkan untuk membantu menyusuri bahwa ada tempat yang telah lama memiliki tradisi kekatolikan dan bertahan menjadi sebuah paroki yang besar-berkembang, tetapi ada juga yang meredup dengan pelbagai alasan. Tahun berdiribisa jadi menimbulkan pertanyaan, tetapi begitulah dokumen yang ada mencatat. Lalu perkembangan umat dari tahun ke tahun. Antara tahun 1941 dan 1951 terjadi peristiwa amat penting di Indonesia yaitu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pergeseran umat pun terjadi. Orang Belanda meninggalkan Indonesia, dan itu dampaknya terlihat pada paroki-paroki yang memang banyak umat Eropa/Belanda-nya. Jumlah umat di tahun 1961 perlu diperlihatkan sekedar untuk mengetahui kondisi Gereja Katolik di Semarang pada saat Gereja Katolik di Indonesia dinyatakan sebagai Gereja Mandiri. Antara tahun 1961 dan 1971 juga perlu untuk ditampilkan karena antara dua rentang waktu itu terjadi peristiwa G30S/PKI. Dikatakan bahwa pada periode itu terjadi ledakan pertambahan umat Katolik. Apakah Tabel memang memperlihatkan data itu.

Penutup

Di samping imam-imam diosesan, pada akhir tahun 2015 tercatat ada 31 Lembaga Hidup Bakti berkarya di Keuskupan Agung. Jumlah umat sendiri sudah mencapai 395.529 orang yang tersebar di 88 Paroki, 4 Quasi Paroki, dan 8 Paroki Administratif[32]. Bila dilihat dari sisi pertambahan paroki dan umat sejak masa Vikariat tidak bisa disangkal bahwa Gereja Semarang mengalami perkembangan yang luar biasa. Bila dilihat dari sisi jumlah imam diosesan-nya –di atas 200, dan ini menjadi salah satu indikasi kemandirian sebuah Gereja Lokal- dan yang menjadi anggota hidup bakti (imam, bruder, suster) tidaklah berlebihan mengatakan betapa Gereja Keuskupan Agung Semarang ini memiliki kontribusi yang amat besar bagi Gereja Katolik di Indonesia. Tulisan singkat ini hanya membatasi diri menuliskan sebagian kecil peristiwa pada masa-masa awal. Masa-masa selanjutnya kiranya akan menjadi kajian yang lebih menarik dan bermanfaat apabila meneliti dan menganalisa faktor-faktor yang menjadikan Gereja Keuskupan Agung Semarang ini ladang yang subur. Bukan hanya ladang kerasulan-nya Lembaga Hidup Bakti tetapi juga ladang persemaian untuk mendapatkan benih-benih panggilan.

Kevikepan Semarang

Paroki St Perawan Maria Rosario (Katederal), Randusari, Semarang (1928)
Paroki St Yosef, Gedangan, Semarang (1809)
Paroki Keluarga Kudus, Atmodirono, Semarang (Agustus 1940)
Paroki St Maria Fatima, Banyumanik, Semarang
Paroki St Theresia, Bongsari, Semarang (1967)
Paroki St Athanasius Agung, Karang Panas, Semarang
Paroki St Fransiskus Xaverius, Kebondalem, Semarang (1956)
Paroki Mater Dei, Lampersari, Semarang
Paroki St Paulus, Sendangguwo Semarang (1992)
Paroki Hati Kudus Yesus, Tanah Mas, Semarang (1915)
Paroki Kristus Raja, Ungaran (1933)
Paroki St Stanislaus Kostka, Girisonta (1931)
Paroki St Yusuf, Ambarawa (1896)
Paroki Regina Pacis, Bedono (1966)
Paroki St Paulus Miki, Salatiga (1928)
Paroki St Martinus, Weleri (1954)
Paroki Adm. St Antonius Padua, Kendal
Paroki St Isidorus, Sukorejo/Weleri (1963)
Paroki St Petrus, Gubug
Paroki St Mikael, Demak
Paroki St Yohanes Penginjil, Kudus (1939)
Paroki Hati Yesus Mahakudus, Purwodadi (1952)
Paroki St Yosef, Pati (1932)
Kevikepan Kedu
Paroki St Ignatius, Magelang (1865)
Paroki St Maria Fatima, Magelang (1971)
Paroki St Mikael, Panca Arga, Magelang (1965)
Paroki St Yosef Pekerja, Mertoyudan (1952)
Paroki St Petrus, Borobudur (1968)
Paroki St Antonius, Muntilan (1894)
Paroki St Theresia, Salam (1965)
Paroki St Maria Lourdes, Sumber
Paroki St Petrus dan Paulus, Temanggung (1937)
Paroki Keluarga Kudus, Parakan (1983)
Paroki St Maria dan Yosef, Rowoseneng (1982)
Paroki Santo Kristoforus Banyutemumpang
Kevikepan Surakarta
Paroki St Perawan Maria Permaisuri, Purbawardayan, Surakarta (1961)
Paroki St Yosef, Baturetno (1956)
Paroki Hati Kudus Maria yang Tak Bercela, Boyolali (1961)
Paroki Hati Kudus Yesus, Simo (1967)
Paroki St Ignatius, Danan
Paroki St Yohanes Rasul, Delanggu (1959)
Paroki St Ignatius Loyola, Dirjodipuran, Surakarta (1972)
Paroki St Yosef Pekerja, Gondangwinangun, Surakarta
Paroki St Theresia, Jombor
Paroki St Pius X, Karanganyar
Paroki St Stephanus, Jumapolo
Paroki St Maria, Kartasura
Paroki Roh Kudus, Kebonarum, Klaten
Paroki St Maria Assumpta, Klaten (1923)
Paroki St Paulus, Kleco (1980)
Paroki St Maria, Palur
Paroki St Antonius, Surakarta/Purbayan (1859)
Paroki St Petrus Rasul, Surakarta/Purwosari (1940)
Paroki St Maria Fatima, Sragen (1961)
Paroki Hati Kudus, Sukoharjo
Paroki St Perawan Maria Bunda Kristus, Wedi (1948)
Paroki St Yohanes Rasul, Wonogiri (1967)
Kevikepan Yogyakarta
Paroki St Fransiskus Xaverius, Kidul Loji, Jogja (1812)
Paroki Kristus Raja, Baciro, Jogja (1963)
Paroki Keluarga Kudus, Banteng (1967)
Paroki St Yakobus Rasul, Bantul (1934)
Paroki St Yosef, Bintaran, Jogja (1896)
Paroki St Teresia Lisieux, Boro (1864)
Paroki St Maria Diangkat ke Surga Dengan Mulia, Gamping (1920)
Paroki Hati Kudus Yesus, Ganjuran (1930)
Paroki St Albertus Magnus, Jetis, Jogja (1965)
Paroki St Alfonsus de Liguori, Nandan, Sleman
Paroki St Perawan Maria Ibu Rahmat Ilahi, Kalasan (1930)
Paroki St Petrus dan Paulus, Babadan (1969)
Paroki St Petrus dan Paulus, Klepu (1930)
Paroki St Antonius a Padua, Kotabaru (1933)
Paroki Hati St Perawan Maria yang Tak Bernoda, Kemetiran, Jogja (1945)
Paroki St Yosef, Medari (1917)
Paroki St Petrus dan Paulus, Minomartani, Yogya
Paroki St Aloysius Gonzaga, Mlati (1936)
Paroki St Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda Asal, Nanggulan (1958)
Paroki St Perawan Maria Diangkat ke surga, Pakem (1921)
Paroki St Yohanes Rasul, Pringwulung, Sleman
Paroki Santa Maria Assumpta, Pakem (1956)
Paroki Penampakan Perawan Maria, Promasan (1959)
Paroki Hati Yesus yang Mahakudus, Pugeran Jogja (1934)
Paroki St Theresia Kanak-kanak Yesus, Sedayu (1930)
Paroki Yohanes Penginjil, Somohitan/Turi (1930)
Paroki St Perawan Maria Bunda Penasehat, Wates (1930)
Paroki St Petrus Kanisius, Wonosari (1920)
Paroki Yusuf, Bandung, Gunung Kidul

Kolese St. Ignatius, 14 Desember 2015
Fl. Hasto Rosariyanto, SJ

Catatan Kaki:
[1] M.P.M. Muskens, Sejarah Gereja Katolik Indonesia 1, KWI-Arnoldus, 1974, hlm. 59-60; Dalam bukunya Indonesianisasi, Huub Boelaars memberi konfirmasi dengan menunjuk pada Pertemuan Nasional Umat Katolik Indonesia, PNUKI, yang diadakan di Jakarta pada tanggal 8-12 Juli 1984 untuk merayakan 450 tahun kehadiran Gereja Katolik di Indonesia.
[2] Fl. Hasto Rosariyanto, Van Lith. Pembuka dan Pendidikan Guru di Jawa, Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2009, hlm. 14
[3] C.B. Boxer, Jan Kompenie, Jakarta: Sinar Harapan, 1983
[4] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm. 6-7
[5] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, h lm 17
[6] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm 24
[7] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm 25
[8] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm 25
[9] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm 28. Di bawah Prefek Apostolik yang ketiga inilah, sangat terasa bahwa relasi antara Gereja dan pemerintah tidak begitu baik. Pemerintah sering menuduh Prefek Apostolik suka bertindak di luar kewenangan yang dimilikinya. Pastor Scholten, di lain pihak, merasa bahwa pemerintah mempersulit tugasnya dengan tidak memberi subsidi untuk perjalanan dinas-nya sehingga ia terpaksa menjual apa yang dimilikinya untuk keperluan tersebut. Kehadiran freemansory kiranya melatarbelakangi keruhnya relasi di antara dua institusi ini.
[10] Rooms Katholieke Kerk en Armbestuur. G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun, hlm 30-31.
[11] Th. v. Swieten, “Het R.K. Weeshuis te Semarang,” in Sint-Claverbond, 1902/II, hlm 71-82; 1902/III, hlm 44-51
[12] G. Vriens, Honderd Jaar Jezuietenmissie in Indonesie, Jogyakarta: Kanisius, tanpa tahun , hlm 25; L. Hebrans, “Het Weeshuis en het Instituut der Zusters Franciscanessen te Semarang”, in Sint-Claverbond, 1869/II, hlm 16-29;
[13] Th. v. Swieten, “De Pastoors van Semarang,” in Sint-Claverbond, 1900/I, hlm 66-71; 1900/III, hlm 12-34
[14] Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Maumere: Ledalero, 20105, hlm. 25-26; NN, “Katholieke Scholen in Nederlandsch Oost-Indie, in Saint Claverbond, 1900/III, hlm. 76-78
[15] NN, “Katholieke Scholen in Nederlandsch Oost-Indie, in Saint Claverbond, 1900/III, hlm. 74
[16] “Diarium missionis”, 20 Desember 1898 sebagaimana dikutip dalam Fl. Hasto Rosariyanto, Van Lith. Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sanata Dharma, hlm 121
[17] Anton Haryono, Awal Mulanya adalah Muntilan, Yogyakarta: Kanisius, 2009 adalah hasil penelitian yang mengisahkan dinamika hidup Gereja Katolik di Yogyakarta dalam rentang waktu 1914-1940.
[18] Anton Haryono, Awal Mulanya…, hlm. 87-99
[19] Paulus Widyawan Widhiasta, Monsinyur Willekens, SJ,  Jakarta: Obor, 2009. Dalam Bagian I dan II dari buku ini, baik secara langsung atau tidak dikupas latarbelakang didirikannya dua Tarekat pribumi ini, tetapi juga perlunya pembinaan tenaga-tenaga gerejani pribumi.
[20] Ada banyak tulisan-tulisan ringan tanpa kehilangan dimensi histrois-nya yang mengisahkan sepak terjang awam pada periode yang tidak mudah ini termasuk bagaimana para seminari baik di Seminari Menengah maupun di Seminari Tinggi melanjutkan pendidikan mereka.
[21] Paulus Widyawan Widhiasta, Monsinyur Willekens, SJ,  hlm. 179-204
[22] Sebuah ensiklik yang ditulis sebagai refleksi atas akibatyang dimunculkan oleh Perang Dunia I. Pada waktu itu karya misi mengalami kesulitan besar khususnya dalam bidang finansial karena masih amat tergantung dari Eropa. Ensiklik kemudian menegaskan supaya di tanah-tanah misi mulai disiapkan tenaga-tenaga gerejani pribumi: imam, bruder, suster, tetapi juga biara-biara kontemplatif. Lebih dari itu ensiklik juga menegaskan perlunya Gereja menghargai budaya setempat supaya Gereja tidak diangga sebagai sesuatu yang asing.
[23] A. Hani Rudi Hartoko, Profil Paroki SJ, Yogyakarya: Kanisius, 2013, hlm. 123; Th. v. Swieten, “De Pastoors van Semarang,” in Sint-Claverbond, 1900/I, hlm 66-71; 1900/III, hlm 12-34
[24] Artikel 123 I.S. (Indische Staatsregeling) 1854 memperlihatkan Peraturan Pemerintah Kolonial yang tidak mengijinkan adanya dua gereja, zending (Protestan) dan missio (Katolik) hadir di wilayah yang sama. Dalam pemikiran Mgr. Vrancken, sekali zending Protestan masuk lebih dahulu ek suatu wilayah, tertutuplah kesempatan bagi missi Katolik ke wilayah itu. Inilah yang dikenal sebagai kebijakan dubbele zending.
[25] Buku Petunjuk Gereja
[26] Salah satu contohnya adalah sewaktu Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Vrancken, mengundang Jesuit untuk bekerja di Indonesia. Untuk konteks Keuskupan Agung Semarang, sewaktu Pastor Semarang, Mgr. J. Lijnen, meminta Suster-suster Fransiskanes (OSF) untuk bekerja di Semarang dengan tugas yang cukup spesifik: pendidikan anak-anak di Panti Asuhan. Atau juga di awal kehadiran Jesuit di Indonesia. Pelayanan yang mendesak adalah sakramental, sementara soal pendidikan anak juga tidak kalah penting. Tenaga Jesuit amat terbatas. Oleh karena itu diputuskan untuk mengundang Bruder-bruder CSA ke tanah misi untuk menangani karya pendidikan ini.
[27] Mengenai keterlibatan Mgr. Albertus Soegijapranata pada masa kemerdekaan ini telah diulas secara lugas lewat buku dan dokumentasi oleh Romo G. Budi Subanar dalam bukunya Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang,Yogyakarta: Galang Press, 2003
[28] F. Hasto Rosariyanto, “Gereja Katolik pada Saat-saat Kritis Sejarah Bangsa”, dalam Orinetasi Baru, No. 12/1999, hlm. 80-95
[29] Salah satu contoh bisa dibaca dalam Surat Gembala 1956
[30] V. Indra Sanjaya dan F. Purwanto (eds.), Mozaik Gereja Katolik Indonesia. 50 Tahun Pasca Konsili Vatikan II,Yogyakarta: Kanisius, 2013
[31] Buku G. Budi Subanar, Menuju Gereja Mandiri. Sejarah Keuskupan Agung Semarang di Bawah Dua Uskup (1940-1961)khusunya Bab III dan Bab IV membahasa pelbagai persitiwa dan kegiatan di sekitar masa-masa ini.
[32] Informasi ini diperoleh dari Sekretariat Keuskupan pada tanggal 14 Desember 2015.

1 2 3 4 5