Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

Sambung Hati, Inti Relasi

Kita hidup di dunia Internet, gadget, dan media sosial yang menawarkan cara berelasi yang berbeda dari masa-masa sebelumnya. Walaupun macam-macam teknologi informasi tersebut mendatangkan kenyamanan dalam berkomunikasi, pada waktu yang sama muncul pula tantangan baru terkait dengan bagaimana sungguh-sungguh mengalami relasi yang manusiawi dan memanusiakan.

Memburuknya perkembangan penggunaan Internet dipaparkan baru-baru ini misalnya dalam Majalah Time edisi 29 Agustus 2016. Di situ diungkapkan satu pernyataan yang menyimpan kegundahan, “Mengapa kita membiarkan Internet menjadi alat untuk membangun budaya kebencian.”

Terhadap arena baru yang mendua ini, Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sedunia ke-50 tahun 2016 dengan tegas menyatakan, “Jaringan-jaringan sosial mampu memfasilitasi berlangsungnya relasi-relasi dan mendorong kebaikan masyarakat, tetapi hal tersebut dapat juga menggiring ke arah perpecahan di antara individu dan kelompok.”

Di tempat lain Paus mengingatkan, “Tidaklah cukup hanya menggunakan kemudahan-kemudahan dunia digital, sebatas mudah ‘tersambung’; ketersambungan antarindividu perlu bertumbuh dari perjumpaanperjumpaan yang lebih dalam.”

Mengingat itu semua, selama bulan-bulan pre-event dari pelaksanaan AYD7 ini, kita sungguh ingin merefleksikan pengalaman-pengalaman komunikasi kita dengan aneka teknologi informasi dan berkehendak untuk membangun kedalaman dari perjumpaan-perjumpaan kita itu.

Pada tataran praktis, kita ingin menerapkan teknologi informasi sebagai sarana yang lebih bermakna, ‘anugerah dari Allah’, yang dapat menjadi media perjumpaan kekayaan berbagai pengalaman OMK di dalam menghidupi dan menghidupkan iman, harapan, dan kasih dalam konteks Asia yang multikultur.

Lewat sarana teknologi informasi itu, kita dapat saling belajar mengenai inisiatif-inisiatif dan usaha-usaha untuk menjawab panggilan menjadi murid Yesus pada zaman ini di dalam: melihat kondisi kemanusiaan di lingkup wilayah kita masing-masing, menyampaikan opini berkenaan dengan masalah-masalah yang ada, serta memulai langkah-langkah tindakan nyata untuk membangun keluarga umat manusia sebagai ‘suatu jaringan ketersambungan pribadi-pribadi, bukan semata jaringan kabel-kabel teknologi’.

Di dalam jaringan pribadi-pribadi berbela rasa dan berkomitmen yang menghidupi Injil serta berbagi kisah-kisah keterlibatan tersebut, kita belajar mengembangkan sensibilitas dan kelembutan hati untuk sungguh-sungguh menjalankan sikap: lebih memahami daripada minta dipahami. Di arena digital, kita menyadari sepenuhnya bahwa relasi yang jujur tidak ditentukan oleh teknologi melainkan oleh hati kita masing-masing dan oleh kemampuan untuk menjadi ‘sesama yang peka terhadap kebutuhan yang lainnya’.

Paus Fransiskus suatu kali menegaskan, “Bagaimana komunikasi dapat menjadi jalan terjadinya budaya perjumpaan yang jujur? … Saya menemukan satu jawaban pada Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, yang sesungguhnya adalah juga sebuah perumpamaan mengenai komunikasi. Semua yang menjalankan komunikasi pada akhirnya menjadi sesama bagi yang lainnya. Orang Samaria yang baik hati itu bukan hanya hadir lebih dekat dengan orang yang didapatinya sedang kelenger di jalan; dia mengambil tanggung jawab terhadapnya. … Hal ini sesungguhnya bukan hanya melihat sesama sebagai seseorang seperti diriku, melainkan kemampuan untuk membuat diriku menjadi seperti sesama.”

Penulis Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati adalah Santo Lukas. Pada bulan ini kita rayakan pestanya (18 Oktober). Melalui karya-karyanya – Injil Lukas dan Kisah Para Rasul – Santo Lukas berbagi kisah perjalanan dan upaya mempertautkan relasi-relasi dari berbagai orang dengan macam-macam situasinya – orang-orang kaya dan orang-orang miskin, yang sehat dan yang sakit, mereka yang terpinggirkan kembali bergabung dengan komunitasnya, dan sebagainya – sehingga semua orang sebagai satu keluarga umat manusia mengalami ‘tahun rahmat Tuhan’ (Luk 4:19; Yes 58:6)
 
Marilah kita mengikuti Santo Lukas di dalam menyampaikan kisah-kisah perjumpaan antarpribadi itu. Sebagai generasi masa kini yang berziarah di dunia digital, kita tergerak oleh aneka perjuangan umat manusia di depan mata serta dipanggil untuk lebih tanggap dan sambung hati terhadap kebutuhan sesama dalam membangun jaringan keluarga manusia. Kirimkan tulisan atau videomu mengenai pengalaman-pengalaman semacam ke hello@asianyouthday.org.

Pre Event Bulan ke-2 Asian Youth Day 2017
#Connected
Pesta St. Lukas, 18 Oktober 2016

Perikop:

Magnificat!

Lukas 1 : 39 – 56

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke sebuah rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabeth. Dan ketika Elisabeth mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang ada di dalam rahimnya dan Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai ke telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.

Tujuan:

  • Untuk merasakan dan mengalami kasih sayang Bunda Maria kepada Elisabeth yang merupakan kebutuhan dalam situasi tersebut
  • Untuk mendorong satu sama lain menyampaikan batasan dari hubungan sukacita Injil
  • Untuk mengakui kasih karunia Allah dan berbagi dengan orang lain

Kegiatan :

  • Memiliki pengalaman satu hari dengan seseorang yang kalian sebut “Mama/Ibu”
  • Sharing pengalaman indah kalian di OMK paroki, komunitas, dll.
  • Terinsipirasi oleh semua pengalaman indah tersebut, berbagi sukacita dengan ibu – ibu lain yang membutuhkan

Langkah praktis:

  • Memiliki pengalaman satu hari dengan seseorang yang kalian sebut “Mama/Ibu”
  • Carilah hari dimana hanya ada kalian berdua
  • Berbagi dan berdiskusilah dengannya mengenai:
    • Apa bagian pasang surut dalam kehidupan kalian?
    • Mengapa bisa terjadi pasang dan surut?
    • Bagaimana pandangan kaliah terhadap Bunda Maria yang menjadi pedoman hidup kalian?
  • Fotolah atau buatlah video dengan seseorang yang kalian sebut “Mama/Ibu” dan share ke sosial media kalian (facebook, twitter, dll.) dengan memberi #AdaywithMom #AYD7Indonesia
  • Bagikan pengalaman indah kalian di OMK paroki, komunitas, dll.
    • Mintalah 5 ata lebih OMK berkumpul di satu tempat untuk berbagi pengalaman masing – masing mengenai “Hari dengan Ibu”
    • Tindakan melayani untuk “Ibu” lain di sekitar kalian, misalnya: bersama – sama mengunjungi panti jompo, bertemu dengan ibu – ibu yang bekerja di tempat pelayanan publik seperti tukang sapu jalan, penjaga kereta api, dll. , bertemu penyandang cacat
    • Berdoa Rosario bersama untuk “Ibu”
    • Fotolah atau buatlah video pada kegiatan yang kalian lakukan tersebut di sosial media dengan memberi #actRosaryforMom #AYD7Indonesia
  • Terinsipirasi oleh semua pengalaman indah tersebut, berbagi sukacita
    • Jalankan rencana kalian untuk melayani ibu – ibu yang lain yang membutuhkan
    • Fotolah atau buatlah video pada kegiatan yang kalian lakukan tersebut di sosial media dengan memberi #loveforMom #AYD7Indonesia

Asian Youth Day 2017 #AYD7Indonesia

Social Media:
facebook: fb.com/asianyouthday
Instagram: asianyouthday2017
twitter: @ayd2017