Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Joyful Asian Youth!

Pre-Event IV: Act To Care

Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ungkapan tersebut menjadi PR semasa kita Sekolah Dasar dulu, pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal tersebut bukanlah tanpa dasar, manusia memang tidak bisa hidup sendiri, maka Tuhan Allah memberikan Hawa untuk Adam agar saling melengkapi. Saat ini, manusia tidak hanya Adam dan Hawa – seluruh umat manusia memiliki peran masing-masing untuk kelangsungan hidup bersama. Tetapi, benarkah hidupmu untuk kelangsungan hidup sesama manusia?

Pertanyaan tersebut mengingatkan akan sabda Allah mengenai permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes. Berdasarkan dari Injil Matius kita diajarkan untuk melayani dalam kasih – tanpa mengharapkan balasan. Yesus sendiri berkata bahwa banyak pemimpin bangsa-bangsa yang memerintah rakyatnya dengan semena-mena. Namun, harapan Yesus adalah tidak berlaku demikian, melainkan memberikan pelayanan yang terbaik. (Matius 20:25-28).

Injil tersebut berharap kita menjadi orang yang rendah hati untuk tolong-menolong. Karena semua yang ada di dunia tidaklah sempurna, hanya Tuhan Allah yang Maha sempurna – maka kita hadir untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Mengisi kekosongan dan kekurangan satu sama lain.

Seperti halnya Tia dan Nia, dua sahabat yang memiliki karakter berbeda. Ketika Tia memiliki karakter pemarah, sedangkan Nia memiliki karakter yang tenang dalam setiap masalah. Kali ini, Tia dan Nia dituduh mencontek karena mereka kawan sebangku saat ulangan Biologi.

“Aku sudah belajar mati-matian! Tapi mereka bilang kita nyontek segala macem. Besok kita dipanggil kepala sekolah segala.”
“Tia, gapapa. Tinggal buktikan saja ke kepala sekolah kalau kita memang benar berusaha pada ujian biologi kemarin.”
“Aku gak terima!”
“Aku juga gak terima dibilang mencontek. Padahal jawaban kita tidak sama persis.”
“Aku malas ke kepala sekolah!”
“Jangan begitu. Kita beli es krim dulu yuk, kan ketemu kepala sekolah masih besok.”

Tokoh Tia dan Nia merupakan gambaran sederhana dalam memenuhi kekurangan dan kelebihan dalam hidup. Nia yang begitu penyabar berusaha membuat Tia meredam emosinya. Ia tidak membalas kekesalan yang sama atas tuduhan mencontek, malah Nia berusaha agar Tia tenang dan makan es krim bersama agar masalah tersebut teralihkan sejenak.

Di antara kita tentunya ada yang masih bisa menikmati internet, tidur dengan nyenyak di kasur, makan makanan yang bersih, memiliki teman, memiliki penghasilan, dsb. Tapi masih banyak manusia yang hidup tanpa kepastian. Makan dan minum yang bersih mereka belum bisa mendapatkan. Berangkat sekolah mereka tidak bisa karena seragamnya sudah lusuh.

Lalu kita yang memiliki kelebihan dibandingkan mereka, apakah kita hanya diam? Tentunya tidak. Injil Matius 20:26-28 menyadarkan kita bahwa kita harus melayani orang di sekitar kita. Contoh kecilnya adalah Tia dan Nia, namun dunia ini tidak hanya sahabat kita. Masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Sebagai contoh peran pemuda Islam NU di Mojokerto Indonesia pernah berupaya mengamankan bom dari umat saat malam natal, namun tewas seketika. Kemudian seorang relawan bernama Rosa Dahlia yang rela ke Papua untuk mengajar ke wilayah terpencil. Malala Yousafzai dari Pakistan, perempuan pejuang pendidikan bagi 57 juta anak-anak putus sekolah – yang berusaha mengetuk PBB untuk memberikan bantuan buku dan sarana belajar. Dari Hongkong, seorang remaja bernama Joshua Wang berperan dalam revolusi payung – sebuah gerakan perjuangan hak demokratis.

Tentunya kita juga bisa menjadikan diri kita pelayan bagi lingkungan kecil kita. Memberikan kelebihan kita kepada kekurangan orang lain, tanpa berharap balasan. Karena inilah hidup, tidak ada yang sempurna.

Tokoh Santo Yohanes, Rasul dan Penginjil

Mari kita tengok riwayat Santo Yohanes, Rasul dan penginjil (diperingati setiap 27 Desember). Ia termasuk murid Yesus yang menjadi saksi dari beberapa peristiwa penting seperti pembangkitan Puteri Yairus (Mrk 5:37), perubahan rupa Yesus di Gunung Tabor (Mrk 9:2), dan peristiwa sakaratul maut dan doa Yesus di taman Getsemani (Mrk 14:33). Ia juga seorang Maha uskup di Efese. Dalam kitab Wahyu diterangkan bahwa ia dibuang di Patmos karena agama dan ajarannya. Sepulang dari Efese, Santo Yohanes menulis injil yang merupakan buah refleksi dan ajaran teologis mendalam tentang Yesus dan ajaran serta karya perutusan-Nya. Pada akhir-akhir masa hidupnya ia sering berkhotbah dengan wejangan-wejangan sederhana, yakni “anak-anakku, cobalah kamu saling mencintai”; wejangan sederhana tersebut didasari atas perintah dan hukum utama yang diajarkan Yesus kepada kita, (Matius 22:34-40).
Kisah Santo Yohanes, rasul dan penginjil, dapat membantu kita untuk lebih berefleksi: sejauh manakah kita ini mencintai dan peduli kepada sesama? Sejauh manakah kita bersedia menjadi pelayan untuk orang lain, seperti ia yang senantiasa melayani Yesus dan Bunda Maria serta para jemaat Gereja Perdana? Apakah kita telah membangun relasi yang baik kepada orang disekitar kita sehingga kita mampu meninggalkan jejak manis seperti Santo Yohanes yang meninggalkan refleksi imannya akan Yesus Kristus kepada umat manusia?
Santo Yohanes telah memberikan kepada kita suatu teladan untuk berani mengenal dan mencintai sesama, dengan membangun relasi yang baik dalam setiap pelayanannya. Marilah kita hidupi kabar sukacita Yesus Kristus dalam setiap pelayanan kita di tengah masyarakat secara umum. Jika kawan-kawan mempunyai pengalaman tentang bagaimana beriman dan bermasyarakat dapat berjalan beriring dan membuahkan sukacita, silakan kirim kisah-kisah itu dalam tulisan, foto bercerita, dan video ke hello@asianyouthday.org atau bisa tulis di sini.

Pre Event 4
Asian Youth Day 2017
#ActToCare | St. John, 27 Desember 2016

Tingkat kesibukan masyarakat saat ini termasuk padat. Beberapa orangtua yang sibuk bekerja sering mengeluhkan waktu yang kurang terhadap anaknya yang di rumah. Begitu pula anak yang kurang waktu terhadap orangtua karena kesibukan kegiatan sekolah, kursus, dsb – hingga tidak punya waktu bagi keluarga. Jangankan kepada lingkungan sekitar (tetangga), meluangkan waktu di rumah saja terkadang sangat sulit.

Pola kehidupan masyarakat yang super sibuk, berdampak pada sikap acuh tak acuh terhadap dunia sekitar. Padahal, manusia hidup berdampingan untuk saling melengkapi. Apa yang mereka tidak bisa penuhi dan kita bisa, sepantasnya kita mampu menutupinya. Kehidupan di kota besar misalnya, gedung pencakar langit dibangun ditengah manusia berlomba mencari nafkah penghidupan. Namun, tidak jarang kaum miskin dan gelandangan juga terlihat di jalanan. Pemandangan tersebut lazim di negara berkembang termasuk di Asia.

Apakah nurani manusia sekejam itu?  Sesibuk apakah manusia sehingga tidak bisa meluangkan waktu bagi sesama yang membutuhkan?  Berbagai gerakan kemanusiaan masih ada hingga saat ini. Contohnya saja Indonesia Mengajar yang dicanangkan mantan Menteri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan, dan Sokola Rimba milik Butet Manurung. Namun, terkadang media belum bisa mengakomodir semua kegiatan sosial yang ada di Indonesia. Kami butuh ceritamu, dari daerahmu atau kegiatan sosial yang menginspirasi yang kamu temui di mana pun kamu berada.

Ceritakan secara lengkap secara naratif untuk dibagikan kepada kami. Berbagilah juga dengan dokumentasi foto agar lebih nyata, lebih menginspirasi kita semua. Wartakanlah kasih Yesus ke sesama manusia.

“Ingat ini, Aku bisa melakukan apa yang tidak kamu bisa, dan kamu bisa melakukan apa yang aku tak bisa, tetapi kita harus melakukannya bersama”

(Mother Teresa)

Yuk bikin aksi:

  1. Pilih kegiatan kasih kepada sesama ini dengan temanmu atau secara pribadi.
  2. Pilihkan orang-orang di sekitarmu, yang menurutmu membutuhkan uluran tangan, sapaan, bantuanmu. (Bisa dalam bentuk kunjungan kepada orang sakit, kepada mereka yang di penjara, mereka yang ada di panti asuhan atau panti jompo, atau juga membuat pelatihan atau karya bersama mereka)
  3. Carilah waktu yang sesuai untuk melakukan perbuatan amal kasih mu.
  4. Luangkan waktu dan perhatianmu untuk mereka yang kau kunjungi
    • Sediakan telinga dan hati yang terbuka lebar untuk menemani ngobrol mereka
    • Berikan sapaan yang meneguhkan dan menyemangati
    • Jangan lupa abadikan saat-saat indah bersama mereka
    • Ajaklah berdoa sebelum kalian berpisah dengan mereka, mohonkan segala kebaikan bagi mereka
  5. Ber-selfie/ber-groufie-lah dengan kegiatan kalian. Yang kreatif dan keren ya!
  6. Upload dan share foto kegiatanmu ke facebook, instagram, twitter, atau kirim ke hello@asianyouthday.org atau di sini. (list media sosial kita)
  7. Nah ide terpilih dan kreatif akan dijadikan pohon inspirasi di lokasi acara Asian Youth Day 2017 berlangsung. Yakin bakal banyak yang membacanya dan tergerak hatinya.

Kawan muda, dari hal yang sederhana kita bisa bikin perubahan.

PS: Jika merasa kesulitan mencari teman untuk diskusi, silakan ke media sosial AYD 2017. Kami tunggu, kita bisa bebas berdiskusi di sana.

Asian Youth Day 2017 #AYD7Indonesia

Social Media:
facebook: Asian Youth Day 2017
Instagram: @asianyouthday2017
twitter: @ayd2017