Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/aku-rindu-akan-tuhan-dan-kembali-menemukan-nya/

Aku Rindu Akan Tuhan, dan Kembali Menemukan-Nya

“Pengalaman iman”, frase yang sederhana, namun cukup sulit untuk mengingat-ingat pengalaman seperti apa yang harus aku ceritakan. Mungkin sepenggal cerita sederhana ini menjadi “pengalaman iman” yang paling berkesan dalam hidupku.

Dulu, sebelum aku dan keluargaku memutuskan untuk pindah ke Salatiga, aku termasuk anak yang cukup aktif berkegiatan di Gereja sebagai OMK, menjadi anggota koor, dan terlibat dalam kegiatan liturgi maupun yang sifatnya bukan liturgi. Rasanya seperti memiliki keluarga besar baru di OMK, meskipun beberapa dari mereka sudah terbilang dewasa dibandingkan aku dan teman-teman sepantaranku. Saat itu, keterlibatan OMK sangat dibutuhkan di parokiku yang dapat dibilang masih kecil yaitu St. Petrus dan Paulus, Bagansiapiapi, Riau. Saat itu  jumlah anggota OMK yang aktif saat itu hanya sekitar 20 orang saja. Maka dari itu, sangat terasa bahwa yang terlibat dalam OMK hanya itu-itu saja, padahal sebenarnya kami dengan sangat terbuka menerima kehadiran orang-orang muda Katolik lainnya.

Sebelum aku meninggalkan kota kelahiranku itu, aku sangat menikmati hidupku dan bersyukur atas segalanya yang aku dapatkan. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku dan keluarga selalu menyempatkan diri untuk berdoa bersama. Kami sangat antusias mengikuti misa pagi karena di paroki kecil itu belum ada Romo pengganti (Romo paroki telah berpulang ke pangkuan Bapa), bahkan mungkin sampai sekarang. Jadi kedatangan Romo di paroki kami merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Tidak hanya itu, setiap jam 12 siang aku dan teman-teman dekatku mendoakan doa Angelus di sekolah saat jam istirahat berlangsung.

Namun, seketika aku merasa bahwa hal itu jadi membosankan. Aku merasa tidak antusias lagi melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Aku mengalami krisis iman. Hal itu terjadi ketika aku mulai sibuk dengan kegiatan perkuliahanku. Sempat timbul dalam benakku untuk berdoa di waktu senggang; walaupun hanya berdoa sebelum tidur, tetapi rasa malasku selalu muncul dan akhirnya aku tidak berdoa dan memilih untuk langsung tidur. Beberapa kali, aku seperti menghafal doa, misalnya doa makan, doa sebelum menerima komuni dan sesudahnya. Ekaristi kudus hanya sebatas menjadi rutinitas. Lama-kelamaan aku menyadari bahwa aku semakin jauh dari Tuhan dan aku merasa kekatolikanku hanya sebatas identitas.

Kerinduanku akan Tuhan mendorongku untuk kembali mengikuti kegiatan kerohanian. Aku mulai mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian di Gereja tempatku berdomisili sekarang. Aku mulai terlibat dalam KMK, koor di gereja, dan sekarang aku terlibat dalam kepanitiaan AYD. Ini beberapa hal yang mungkin bisa membantuku memulihkan krisis imanku, dan mungkin sekarang aku jadi lebih natural menyampaikan doa-doaku saat misa, layaknya curhat dengan Tuhan dan sekarang aku mulai mencoba untuk melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatanku.

Oleh: Yohanes Bonar Novi Priatmoko