Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/berkaca-dari-korea/

Berkaca Dari Korea

Ini kisahku sebagai relawan atau istilah kerennya volunteer di acara temu orang muda se-Asia yang kita kenal sebagai Asian Youth Day (AYD). Tahun 2017 ini, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah dengan mengangkat sukacita OMK dalam menghidupi injil di tengah keberagaman. Keberagaman di sini maksudnya adalah keberagaman budaya, keberagaman suku, keberagaman bahasa serta keberagaman agama dari sabang sampai merauke.

Pada awal bulan September, aku mendapatkan info tentang AYD dari grup komunitas dan grup OMK. Tertarik? Iya pakai banget. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar dan ku ajak juga teman-temanku. Kenapa? Karena aku mempunyai harapan akan bertemu Paus Fransiskus di Asian Youth Day nanti.

Tidak lama dari pembekalan pertama gelombang pertama, aku langsung mendapatkan telepon dari Rm. Dominicus Donny Widiyarso, Pr selaku ketua OC dari tim Publikasi. Aku ditawarkan oleh beliau masuk ke dalam tim Publikasi. Tanpa pikir panjang aku bilang “Ya, aku mau,” karena ini adalah hal yang baru dan menjadi tantangan tersendiri bagi diriku.

Jobdesk tim Publikasi sendiri adalah mengelola web dan sosmed AYD, selain itu kami mencari dan menerima berita serta sharing dari teman-teman OMK se-Asia untuk kami posting.

Di hari H sendiri, tim publikasi berkerja sama dengan dokumentasi untuk live streaming dan membuat berita kegiatan selama AYD, sehingga OMK yang tidak hadir di AYD dapat merasakan semangat AYD juga. Kerjaanku di tim publikasi adalah sebagai tim peliput, orang yang keliling mencari berita tentang acara yang berkaitan dengan Asian Youth Day.

Awalnya semangat mencari berita dan meliput, sebagai halnya meliput kirab salib di Kevikepan Yogyakarta. Hampir semua kirab salib, aku liput bersama-sama dengan tim publikasi.

Selama kirab salib ada suka dan dukanya. Sukanya, aku belajar banyak dari setiap OMK yang kutemui untuk wawancara. Di situ aku merasa Tuhan Yesus hadir secara nyata menyapa mereka. Aku semakin bersyukur apa yang telah kualami ini.

Dukanya di saat alam tidak bersabahat, seperti hujan, medan yang berat, naik turun gunung. Aku belajar dari meliput kirab salib ini, bahwa setiap paroki memiliki keunikannya sendiri. Sama halnya dengan setiap manusia yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Mempunyai keunikan sendiri dan itu adalah pemberian Tuhan yang sangat luar biasa. Bagaimana manusia hidup dengan keberbedaan itu? Sangat menarik sekali bukan? Pengalaman yang sangat berharga dan aku syukuri itu.

Ada di mana fase aku sebagai volunteer berasa di titik jenuh. tetapi aku kembali disentuh oleh Tuhan Yesus. Dia menyapaku secara nyata saat pembekalan volunteer Asian Youth Day.

Rm. Herman Singgih Suntoro, Pr yang mengisi sesi memutarkan video dari teman-teman Korea Selatan yang menceritakan pengalaman mereka saat Asian Youth Day 6.

Aku merasa tersentuh kembali walau aku sudah pernah melihat video tersebut. Video tersebut menjelaskan bahwa butuh tenaga ekstra dalam menghelat Asian Youth Day, dan mereka selalu tersenyum dalam kondisi apa pun, karena mereka menyakini bahwa yang peserta yang mengikuti AYD adalah Yesus sendiri. Lalu, timbul motivasi dan semangat atas diriku, mungkin ini adalah campur tangan Roh Kudus.

doc. pribadi

Hal yang sangat menyentuh lagi, saat kumpul per divisi. Romo Donnny menguatkan kami (volunteer) yang masuk dalam tim publikasi dengan cerita dari Angela Ratna Hadikusumah yang biasa dipanggil Mbak Ratna. Beliau adalah aktivis yang selalu mendampingi OMK, pernah bekerja di Komkep KWI.

Cerita yang sama seperti diceritakan oleh Rm Andreas Setyawan, SJ saaat misa penutup pembekalan. Ceritanya seperti berikut:

”Di bulan April 2014, tepat 4 bulan sebelum AYD6 di Korea Selatan dilaksanakan, ada satu musibah besar menimpa warga Korea yaitu tenggelamnya Kapal Ferry bernama Sewol yang tujuan akhirnya adalah Jeju. Dalam musibah itu ada 300 lebih penumpang tidak terselamatkan, dan mayoritas adalah Orang Muda Katolik dari kota Ansan. Bulan Oktober tahun lalu, aku (Mbak Ratna) bersama Rm. Donny dan Rm. Herman mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota Ansan tersebut. Kami diundang hadir untuk mempromosikan AYD7 di kota tersebut yang letaknya 2 jam dari ibukota Seoul. Di suatu pagi, kami diajak oleh Rm. John (Romo paroki Ansan) untuk mengunjungi Museum atau Memorial Place untuk mengenang para korban tenggelamnya kapal tersebut. Gedung memorial itu dari kejauhan bentuknya seperti kapal laut terbalik. Ketika kami masuk, kami diminta untuk menulis buku tamu dan kami diberikan setangkai Bunga Krisan besar berwarna putih. Di dalam gedung memorial tersebut, terpajang dengan rapi foto-foto para korban tenggelamnya kapal Ferry Sewol.

“Mereka masih sangat muda.” Ungkapku (mbak Ratna) dalam hati ketika melihat nama dan usia tercantum dekat foto-foto tersebut. Di bawah foto-foto tersebut ada barang-barang favorit mereka, seperti buku diary, gelang karet, rosario gelang, buku komik, dan masih banyak lagi yang tidak bisa ku ingat satu persatu, juga beberapa tangkai Bunga Krisan putih. Jadi bunga yang diberikan pada saat menulis buku tamu adalah bunga untuk diberikan kepada korban yang ingin didoakan. Dengan terdiam kami menelusuri satu persatu korban tersebut. Sampai aku terdiam di hadapan satu foto, orang muda berusia 15 tahun dengan foto tersenyum cantik dan dalam diary-nya dalam tulisan Bahasa Korea, namun ada satu baris ia menuliskan “I wanna be a violist. You know it Mother Mary. I love you.” Cukup lama aku memandangi fotonya dan berdoa untuknya, kutinggalkan Bunga Krisan itu untuknya.

Di salah satu sudut gedung memorial, ada beberapa rolling banner dengan foto-foto situasi terakhir di mana para OMK itu sedang menghadapi maut, kapal mulai miring, air laut masuk ke dalam kapal. Foto-foto itu sempat terkirim oleh mereka kepada para orang tua atau keluarga mereka menjelang ajal menjemput.

Ada sms salah satu OMK pada orang tuanya: “ibu, sepertinya kita tidak akan bertemu lagi.” (diterjemahkan oleh romo John). Di situ aku tidak tahan lagi menahan tangis. Aku bisa merasakan ketakutan luar biasa yang mereka hadapi saat itu, bagaimana mengharapkan pertolongan datang, kepanikan tidak tahu harus bagaimana harus menyelamatkan diri.

Kami keluar dari gedung memorial itu dan Rm. John bercerita bahwa, pada saat AYD6 di mana mereka seharusnya menjadi bagian dari kegembiraan bersama OMK Asia lainnya, hal itu tidak bisa terjadi. “Paroki kami berduka pada saat AYD6,” begitu kata Rm. John.

Orang muda yang ada di kapal itu adalah siswa-siswi dari sekolah Katolik di Paroki Ansan yang sedang karya wisata ke Jeju. Yang terpikir olehku saat itu adalah, aku ingin mempersembahkan AYD7 untuk mereka, aku memberikan yang terbaik dalam setiap bentuk keterlibatanku dalam kepanitiaan AYD7 sebagai ungkapan melayani OMK selagi aku hidup. Setiap lelah dan frustrasi yang menghampiri ketika mempersiapkan AYD7 rasanya tidak sebanding dengan OMK-OMK itu yang kehilangan kesempatan untuk berjumpa dan berkarya di dunia. Semoga mereka turut bergembira melihat kita semua nanti di AYD7 merayakan suka cita yang hidup dalam diri setiap OMK. Tuhan memberkati.”

 

Remember20140416

 

Aku berkaca dari mereka. Dari OMK Paroki Ansan di Korea Selatan yang bahkan mereka belum merasakan kebahagian bersama OMK se-Asia. Seperti Mbak Ratna, aku hanya bisa berharap bahwa teman-teman OMK seluruh Asia terkhusus Indonesia, mampu mempersembahkan AYD7 ini untuk mereka.

Salam Joyful.

Michael Ivan