Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/berkat-itu-ada-ketika-kamu-bersungguh-sungguh/

Berkat itu Ada Ketika Kamu Bersungguh-Sungguh

Bagi sebagian besar orang, menghabiskan hari-hari di tempat ibadah bukan merupakan hal yang digemari, terutama bagi anak muda. Terdapat anggapan bahwa orang-orang yang memberikan waktu lebih di tempat ibadah seperti itu terkesan “sok suci”. Di zaman serba modern ini anak-anak muda semakin ahli untuk membuat gagasan “nongkrong” yang kekinian, namun sayangnya nongkrong di rumah ibadah tidak pernah masuk daftar kegiatan kekinian bagi anak muda.

Pandangan itu ditepis habis oleh GAMStA. Ya GAMStA, Grup Akustik Mudika Santo Alfonsus. GAMStA merupakan kumpulan Orang Muda yang berkumpul karena kegemaran yang sama, dalam hal ini bidang musik. Berawal dari kegemaran yang sama itu mereka sering berkumpul bersama di gereja dan bermain musik bersama. Lagu-lagu yang mereka bawakan biasanya lagu-lagu dari Puji Syukur atau Madah Bakti. Tak disangka, kegemaran yang sama itu kemudian membawa keberuntungan bagi mereka.

Pada tanggal 28 Oktober 2012, mereka berkumpul bersama untuk merayakan acara sumpah pemuda. Saat itu mereka diminta untuk menyumbangkan sebuah lagu dan mereka menyanggupinya. Dari yang awalnya hanya perkumpulan kecil untuk sekedar melepas penat atau stress, mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk menunjukkan bakat mereka di depan umum. Di sana ternyata respon dari penonton sangat luar biasa. Riuh tepuk tangan memenuhi tempat itu. Rasa haru dalam dada menyeruak keluar, personil GAMStA merasa sangat bangga ketika mendapat respon sebaik itu pada penampilan pertama mereka.

Setelah itu mereka berkumpul dan memutuskan untuk membentuk sebuah grup akustik yang mewartakan kabar gembira melalui lagu. “Kita gabung yang pertamanya ada yang megang gitar, ada yang megang organ, nah akhirnya digabung jadi satu”, ujar pemain gitar dan melody sekaligus juru bicara GAMStA, Yoseph Ardi Wibowo Junarko. Mereka memutuskan untuk membawakan lagu-lagu dari madah bakti dan puji syukur seperti awal. Mereka berpikiran bahwa lagu-lagu tersebut cukup asyik bila dibawakan di perkumpulan orang-orang muda, bukan hanya untuk dibawakan saat misa saja. GAMStA terus mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. Mulai dari aransemen ulang lagu hingga membuat ciri khas atas grup mereka. Setelah itu mulai banyak tawaran untuk tampil, mulai dari peluncuran buku  Indonesian Youth Day di Sanggau, hingga acara gathering OMK se-Jabodetabek. Hingga saat itu mereka masih tidak percaya bahwa banyak sekali orang yang menyukai hasil karya mereka. Mereka tidak menyangka bahwa hasil karya dan keseriusan mereka dalam bermusik dapat memberikan dampak positif bagi banyak orang. Selain itu lagu-lagu yang mereka bawakan ternyata dapat memberikan semangat dan kebahagiaan bagi banyak orang.

Grup yang berdiri sejak 28 Oktober 2012 ini awalnya beranggotakan Etus (Vokal), Joseph dan Julius (Gitar), Andrey (Bass), Bosco (Keyboard), Ferdi (Cajon), dan Ude (Manager). Ide sederhana yang mereka usung adalah bagaimana lagu-lagu di Madah Bakti dan Puji Syukur tersebut dapat dibawakan hanya saat misa kudus saja, tetapi juga pada saat kumpul OMK. Mereka menginginkan lagu-lagu tersebut dapat dibawakan di mana saja dan kapan saja. Sehingga kaum muda dapat lebih memaknai arti dan pesan yang disampaikan dari lagu-lagu tersebut. Bagi mereka, lagu-lagu Puji Syukur dan Madah Bakti tersebut sama bagusnya dengan lagu-lagu pada umumnya. Lagu-lagu tersebut dapat menjadi penyemangat dan renungan ketika senang atau sedih sama seperti lagu-lagu yang biasanya didengarkan oleh anak muda. Yoseph menyebutkan, dengan berkumpul bersama dan membawakan lagu puji-pujian, mereka dapat mengekspresikan masing-masing individu melalui lagu.

 

Kesempatan Makin Besar, Ketika Keluar dari Zona Nyaman

Setelah banyak berkat positif yang menghampiri GAMStA, ada sebuah mukjizat yang menghampiri GAMStA untuk kesekian kalinya. Pada Februari 2014, pada saat mereka sedang fokus kepada tablo di gerejanya, GAMStA dihampiri oleh seorang perempuan. Pada saat itu perempuan itu memberikan ajakan sekaligus tantangan kepada GAMStA. Mereka diajak untuk mengisi acara berskala Internasional, yaitu Asian Youth Day di Korea. Rasa kaget sekaligus tidak mengangka bercampur menjadi satu. Mereka meringis menahan tawa menganggap itu hanya candaan belaka. Namun, perempuan itu menegaskan bahwa hal ini bukanlah candaan. Segala upaya mereka lakukan untuk dapat memenuhi tantangan itu. Meskipun ditantang untuk mengisi acara, namun GAMStA harus mengumpulkan dananya sendiri. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik. Mulai dari latihan setiap hari, menyiapkan lagu apa yang harus dibawakan, belum lagi konsep apa yang akan dibawakan, seperti apa penampilan mereka nantinya, hingga mencari informasi mengenai AYD6, tata cara ibadat, sampai detail untuk pertunjukan yang akan dibawakan. Selain itu mereka juga harus membagi waktu mereka untuk latihan dan mengumpulkan dana. Dana yang harus mereka kumpulkan tidaklah sedikit. Hal ini menyebabkan waktu mereka cukup terkuras untuk mencapai target itu. Mulai dari ngamen di gereja-gereja, hingga membuat album kemudian menjualnya.

Dalam mencapai target itu banyak kendala yang harus mereka lewati, bukan hanya kendala waktu, tenaga dan lainnya, tetapi juga kendala yang ada dalam diri mereka sendiri. Belum lagi masalah waktu yang mereka hadapi, karena beberapa dari mereka telah bekerja, sehingga agak susah untuk membagi waktu antara bekerja, latihan, dan pencarian dana. Namun hal ini tidak membuat semangat mereka pudar. Meski ada yang tidak bisa untuk ikut dalam beberapa kegiatan itu, sebisa mungkin mereka saling meng-cover satu sama lain. “Yang terpenting sih komunikasi harus lancar dan nggak mikiririn ego masing-masing”, ungkap Yoseph.

Dalam pertunjukannya, GAMStA membawakan musik kotemporer yang di dalamnya memuat lagu dan tarian. “Pada awalnya untuk musik kita mainkan semua alat musik menggunakan alat musik tradisional, seperti sape’, gambang, rebana, dan masih banyak lagi. Semua musik pokoknya tradisional”, jelas Yoseph. Selain itu, tarian yang dibawakan juga berasal dari berbagai budaya yang ada di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menampilkan segala macam budaya dan suku bangsa yang ada di Indonesia. Namun, meski telah mempersiapkan segala materi, mulai dari musik hingga tarian, akan tetapi terjadi masalah ketika gladi bersih. Terdapat kendala pada salah satu alat musik tradisional yang akan dibawakan, yaitu sape’. Sementara, porsi sape’ di lagu yang akan dibawakan cukup banyak. Maka panitia tidak ingin mengambil resiko karena pada saat itu acara akan disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi dari Vatikan. Saat itu GAMStA diberikan pilihan oleh panitia, tampil untuk penyambutan Paus namun tidak live atau tampil secara live namun setelah Paus meninggalkan tempat. Hal ini tentu menjadi pilihan yang cukup sulit bagi GAMStA saat itu. Mereka pun berunding dan menurunkan ego mereka masing-masing. Mereka akhirnya memilih untuk tampil dalam penyambutan Paus, namun tidak secara live.

Tidak hanya sampai di situ, meski tampil tidak secara live namun GAMStA mendapatkan kesempatan yang tidak terduga. Mereka berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus. Saat itu posisi mereka berada di depan panggung, pada sisi sebelah kanan. Pada saat itu yang mengisi acara untuk penyambutan Paus hanya dari dua delegasi, yaitu Korea dan Indonesia. “Kami (GAMStA) persis di sebelah kanan panggung dan tim Korea Persis di sebelah kiri panggung dengan menghadap ke penonton yang berjumlah 2000 orang, ga kebayang deh bangganya pada saat itu hehe”, jelas Yoseph. Pada saat Paus datang, ia berhenti untuk memberi sapaan kepada tim dari Korea yang tepat berada di depan tim dari Indonesia. kemudian ia melihat ke sebelah kirinya dan tanpa diduga ia melambaikan tangannya ke arah tim dari Indonesia. Awalnya mereka tidak menyadari bahwa itu sebuah tanda agar mereka maju. Namun, mereka kemudian digiring oleh tim protokol dari Vatikan untuk menghadap Paus. “Pada awalnya salaman seperti biasa, tetapi setelah salamannya itu, kami semua tim pemusik langsung nangis terharu”, ucap Yoseph. Rasa terkejut, syukur dan haru bercampur menjadi satu. Bagi mereka itu adalah momen terbaik dalam hidup mereka selama ini. Berawal dari menghilangkan ego mereka untuk tidak memaksa tampil secara live, mereka mendapatlan hadiah yang tidak akan pernah terlupakan.

Saat GAMStA tampil di AYD 6 dan bersalaman dengan Bapak Paus. (doc. FB Angel Ratna Hadikusumah)

 

Penampilan GAMStA selalu mendapat sambutan meriah. (doc. FB Angela Ratna Hadikusumah)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Segala kesuksesan yang telah didapat oleh GAMStA bukan merupakan akhir dari perjalanan mereka, melainkan awal atas level baru yang harus dihadapi. Setelah bersalaman dengan Paus, mereka didatangi oleh salah satu Pastur dari Lampung dan ia berkata “Tugas kalian makin berat, bro”. Kata-kata itu menjadi dorongan bagi GAMStA untuk terus berkarya dan terus membagikan sukacita yang mereka dapatkan ketika AYD6. Mulai dari hari itu mereka berusaha untuk konsisten membagikan perjuangan dan suka cita bagi semua OMK yang ada di Indonesia. “Bahwa kita Orang Muda Katolik, mau apapun tujuan dan rencananya, selama proses tersebut dilakukan dengan sepenuh hati dan kerja keras, pasti Tuhan telah menyiapkan yang lebih baik dari apa yang kita sudah pikirkan”, ucap Yoseph.

 

Penulis: Yuni Indra Chatarina