Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/cerita-tentang-indonesia-yang-ber-bhinneka-tunggal-ika/

Cerita tentang Indonesia yang ber-“Bhinneka Tunggal Ika”

Foto ini diambil bulan Juli 2016 yang lalu, ketika kami Orang Muda Katolik Paroki St. Pius X Karanganyar berkunjung ke Pengurus Banser NU Karanganyar, untuk memberikan kenang-kenangan sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan yang telah mereka berikan untuk kelancaran Kirab Salib Asian Youth Day kala itu.

Ya, bulan Juli 2016 yang lalu, aku dikejutkan dengan kedatangan beliau-beliau berpakaian militer dan ada yang berbaju koko dan berpeci ke Gereja kami, ternyata mereka dari Banser Nahdlatul Ulama Karanganyar, kedatangan beliau-beliau ingin bertemu dengan Romo Paroki untuk meminjam tempat di depan Gereja kami dan akan dijadikan Posko Mudik Lebaran 2016 selama seminggu. Waktu itu memang bertepatan dengan Idul Fitri yang berlangsung awal bulan Juli. Romo Paroki pun mengijinkan dan memberi fasilitas tempat dan listrik yang bisa dipakai untuk berjaga. Wah, seperti kedatangan tamu terhormat saja waktu itu, karena Gereja kami juga jadi ramai didatangi oleh pemudik dan beliau yang berjaga di posko. Tidak hanya berjaga untuk membantu para pemudik, kami pun OMK dan umat juga merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka, karena mereka juga membantu menyebrangkan jalan dan membantu melancarkan arus lalu lintas ketika sedang ada misa di Gereja kami. Umat dan OMK di Gereja pun juga tidak sungkan untuk mengunjungi posko untuk sekedar berbicara dan memberi makanan kepada yang berjaga.

Nah, waktu itu ketika Idul Fitri kami pun juga sedang mempersiapkan suatu acara besar yang akan berlangsung selama seminggu, yaitu Kirab Salib Asian Youth Day. Dimana kami akan menyambut kedatangan Salib Asian Youth Day, Salib Orang Muda Katolik se-Asia. Acara itu untuk menyambut Asian Youth Day 2017 yang ke-7 yang akan berlangsung di Indonesia, tepatnya Kota Yogyakarta.

Pada malam hari kami setiap hari lembur membuat properti candi yang akan digunakan untuk acara esok. Dan teman-teman Banser pun melihat pula aktivitas kami karena mereka lalu lalang ke toilet Gereja yang juga disediakan untuk fasilitas posko. Karena melihat begitu giatnya kami mempersiapkan acara ini, mereka bertanya tentang kegiatan kami lembur ini untuk apa.

Posko Mudik Lebaran dari Banser NU Karanganyar pun telah usai, dan beliau-beliau pamit dan berterimakasih kepada Romo Paroki. Dan esoknya kami diberitahu Romo, teman-teman Banser malah menawarkan diri untuk membantu kegiatan kami esok apabila dibutuhkan. Dan betapa senangnya kami saat itu karena kami juga membutuhkan bantuan keamanan yang masih belum terkoordinasi dengan Polres Karanganyar kala itu.

Memang di akhir rangkaian kegiatan, kami berencana akan mengirab Salib AYD ini ke Gereja St. Stephanus Jumapolo dengan berjalan kaki yang diperkirakan akan menempuh waktu selama 8 jam perjalanan. Dan akhirnya kami pun menerima tawaran itu, dan ketika berjalan menuju Jumapolo membawa Salib Suci itu kami tidak khawatir karena sudah dikawal teman-teman Banser NU dan pihak Polres Karanganyar hingga akhirnya kami sampai dengan selamat.

Ya, seperti itulah kisahku tentang Indonesia yang ber-“Bhinneka Tunggal Ika” dan memberi kesan yang dalam kepadaku bahwa semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Dan kesan yang lebih mendalam lagi dimataku, bahwa Islam Nusantara ini adalah Islam yang toleran. Terlebih lagi Indonesia, yang menjunjung tinggi rasa persatuan, toleransi umat beragama, dan saling menghormati meskipun kita berbeda.

Asian Youth Day memang memberi semangat tersendiri untukku dan juga membawa banyak cerita yang menarik untuk diceritakan, walaupun sekarang masih pre-event namun semangatnya sungguh luar biasa membekas di benakku.

Ada satu hal yang slalu aku pegang tentang keberagaman Indonesia, yaitu:

“Karena pelangi indah bukan pada satu warna, tetapi karena perbedaan warna itulah yang menjadikan mereka indah untuk dipandang.”

Yogyakarta, 6 Februari 2017

Bernardinus Steven Damai Satyadarma