Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/elok-negeriku-karena-tak-sewarna/

Elok Negeriku Karena Tak Sewarna

Setiap kata dalam tulisan ini ku untai dengan penuh binar kebahagiaan. Betapa bahagianya kita terlahir di negeri gemah ripah loh jinawi, Indonesia. Perkenalkan namaku, Agus Sri Giyanti. Nama depanku merupakan nama panggilanku. Satu lagi identitasku yaitu aku adalah seorang perempuan yang memiliki keterbatasan penglihatan atau yang lumrah disebut tunanetra. Apakah terlintas di benak kalian bagaimana caranya aku bisa menulis dengan piranti komputer jinjing seperti ini? Ketahuilah teman, aku menulis surat ini dengan jemariku sendiri, bukan orang lain. Aku tidak mengalami kedisabilitasan dari kecil.

Penglihatanku menghilang semenjak tahun 2008 lalu. Demam yang terlampau tinggi memaksa syaraf mataku lepas satu demi satu. Dengan menceritakan ini, tidak lantas aku ingin kalian mengasihani. Tuhan itu maha adil dan bertanggung jawab penuh atas takdir yang Ia jatuhkan pada hambaNya.

Dengan demikian, mungkin kalian akan menyebutku berbeda. Ya, aku hanya berbeda kemampuan tetapi bukan berarti aku tidak berdaya. Setuju kah kalian bila aku menyebut ini merupakan bagian dari keanekaragaman yang ada di Indonesia? Ya, maksudku, selain ada suku, agama, ras, dan budaya, aku ingin menawarkan satu keragaman lagi: kedisabilitasan.

Kalian mungkin sering melihat orang yang berjalan dengan tongkat kecil, orang yang kaki atau anggota badan lainnya hilang salah satu atau lebih, atau orang yang tidak bisa mendengar dan berbicara, mereka lah yang disebut disabilitas. Jika aku boleh mengajukan satu permintaan, tolong jangan sebut kami dengan sebutan cacat. Dunia internasional telah memilih kata “disabilitas” sebagai pengganti sebutan “cacat” yang tidak tepat lagi.

Bagaimana kami hidup? Aku adalah salah satu disabilitas yang beruntung. Di Jawa Tengah tempatku tinggal, disabilitas sepertiku diberi banyak kesempatan. Salah satu di antaranya adalah pendidikan. Meski aku tunanetra, aku tetap bisa mengikuti perkuliahan di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang.

Namun, kenyataan ini tidak berlaku untuk semua penyandang disabilitas. Bagi penyandang disabilitas di daerah lain, mereka masih tertatih-tatih melawan stigma. Masyarakat masih beranggapan bahwa orang dengan disabilitas itu tidak berdaya. Sahabat, aku yakin kalian adalah orang-orang yang bijak dan mampu menerima perbedaan, tetapi tidak dengan beberapa orang yang masih sering kami temui. Tidak jarang kami mengalami diskriminasi. Kami sulit mengakses fasilitas umum, mendapatkan pekerjaan dan dibatasi dalam pergaulan masyarakat. Itu adalah perjuangan kami. Ingin rasanya kami mendapatkan perlakuan yang layak. Kami bisa memperoleh pendidikan, pekerjaan dan kesempatan bersosialisasi di masyarakat sama dengan non-disabilitas.

Apabila Indonesia dikatakan terdiri dari berbagai macam suku maka seharusnya perbedaan tidak menjadi masalah. Ingat kah kalian akan warna pelangi? Tidakkah fenomena alam nan indah itu memukau kalian? Warna-warni yang tak sama yang memancarkan pesona keindahan bersama. Dan dengan logika yang sama, tidak kah warna kulit, bentuk fisik, keyakinan dan budaya hidup yang berbeda seharusnya mampu menjadi sebuah hal yang mempesona? Namun, kenyataannya kita tahu sendiri. Ketidaksamaan tersebut masih sering memicu konflik di negeri kita ini.

Jika kita memandangi lambang Negara Indonesia, betapa gagahnya Burung Garuda itu. Bhinneka Tunggal Ika yang ia cengkeram seolah selalu berpesan bahwa kita sejatinya SAMA.

Kita adalah pemegang kekuasaan di masa yang akan datang. Adakah kalian bercita-cita sama denganku? Menjadi penguasa yang bertoleransi tinggi, menjunjung tinggi persamaan hak dan menghapuskan diskriminasi. Mungkin kita mempunyai gagasan yang berbeda dan cara kita bertentangan karena budaya, tetapi atas nama cita-cita bangsa yang luhur marilah kita duduk bersama merangkul saudara kita di mana pun berada untuk memperoleh pendidikan yang setara, kesempatan pekerjaan dan kedudukan yang sama di mata hukum.

Aku begitu menghargai perbedaan. Begitu pula yang aku harapkan pada kalian. Kerusuhan di negeri kita ini tidak sepantasnya terjadi hanya karena masyarakat Indonesia terdiri dari multi budaya.

Aku memiliki pengalaman selama tinggal di kos. Kebanyakan dari penghuni kos tersebut adalah mahasiswa dari berbagai daerah dan menganut agama yang tidak sama pula. Tetapi kami dapat hidup berdampingan tanpa mempermasalahkan perbedaan itu. Pemeluk agama non Islam tidak pernah merasa keberatan meminjamkan kamar pribadinya sebagai tempat salat. Pemeluk agama Islam pun turut mengingatkan temannya yang beragama Kristen atau Katolik untuk beribadah ke gereja. Kekaguman yang pantas diteladani anak muda lain adalah tidak adanya batas disabilitas dan non-disabilitas. Di tempat tinggal sementara tersebut, mahasiswa tunanetra dan mahasiswa non-disabilitas hidup bersama tanpa membeda-bedakan.

 

Bagi kami, di mata Tuhan kami sama dan tidak ada yang pantas dibandingkan.

 

Tidak peduli apa agama kita, dari suku atau ras mana kita berasal, disabilitas atau tidak, kita tinggal di satu atap bumi Indonesia. Kedamaian dan keharmonisan adalah idaman seluruh saudara kita di tanah air Indonesia. Multi budaya merupakan keelokan yang dimiliki negeri kita.

 

Penulis: Agus Sri Giyanti