Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/hamida-thahira/

Keberagaman Untukmu, Untukku

Justru jika agamamu kuat, kamu akan menghormati agama orang lain.

– @pidibaiq

Saya sedang scrolling twitter siang ini, kemudian membaca sebuah tweet yang cukup menarik perhatian saya. Di kicauan itu, seorang pemilik aku sedang mengumbar pandangannya mengenai toleransi beragama kurang lebih sama dengan pandangan saya. Di luar sana, banyak orang sedang berkoar-koar, meminjam agama untuk menyerukan ketidaksukaan bahkan kebencian. Padahal menurut saya, mereka tidak semestinya begitu. Agama itu murni, bersih, tidak patut untuk dinodai dengan kemurkaan. Apalagi mereka adalah orang yang mungkin pemahaman agamanya lebih dalam daripada saya.

Iya, saya adalah seseorang muslim, yang lahir dari keluarga Islam yang kental. Beruntungnya, saya berada di lingkungan keluarga yang sangat toleran.

Semasa kecil, orang tua saya selalu menasihati agar kelak saya tidak boleh membeda-bedakan orang berdasarkan keyakinannya. Saya tidak boleh memandang rendah orang lain hanya karena mereka memiliki keyakinan yang tidak sama dengan saya. Pun ketika banyak teman-teman saya yang berkeyakinan sama mengatakan “Mending diam deh daripada ikut-ikutan mengucapkan selamat Natal”, orang tua saya justru menyarankan untuk mengucapkan “Selamat berbahagia di hari Natal!” kepada teman-teman saya yang beragama Katolik maupun Kristen.

Perihal berteman dengan mereka yang beragama lain, jujur saja baru saya alami sejak menduduki bangku SMA. Saat TK hingga SD saya bersekolah di sekolah berbasis Islami, dan ketika SMP pun jumlah mereka sangat sedikit, dan saya tidak bisa sekelas dengan mereka, karena biasanya mereka dikumpulkan menjadi satu kelas agar lebih mudah mengatur jadwal saat ada pelajaran agama.

Di SMA, teman-teman yang berbeda agama dengan saya terbilang cukup banyak. Mungkin aneh, ketika masuk SMA entah mengapa saya justru sangat excited untuk bisa berkenalan dan berkawan dengan teman-teman dari berbagai agama. Rasanya seperti ada dorongan, rasa keingintahuan yang membuncah, untuk bisa memahami konsep agama dari sudut pandang mereka. Dari pertemanan itu lah saya jadi tahu teman-teman Katolik saya melaksanakan misa Jumat pertama setiap bulannya, saya menjadi tahu apa itu ekaristi, bagaimana prosesi ibadah Paskah, Natal, dan lain sebagainya.

Semakin saya tahu banyak, semakin saya merasa harus menghormati keyakinan mereka.

Bagi saya, tidak ada hubungannya menghargai agama orang lain dengan ketaatan diri saya di hadapan Allah. Menghormati agama lain tidak berarti saya menyimpang dan melanggar agama yang saya yakini. Keimanan bukan perihal apa yang kita perbuat terhadap orang lain, tetapi apa yang kita yakini atas diri sendiri. Karena agama menurut saya adalah ruang privat antara satu orang manusia dengan Tuhannya. Agama itu milik kita sendiri, sama halnya dengan bagian-bagian dari tubuh kita, pun jiwa kita ini. Dalam kitab Al-Quran sendiri sudah jelas diterangkan bahwa “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Oleh karena itu, saya tidak pernah membawa perkara agama di kehidupan sosial, terutama pertemanan. Saya ingin agama saya ya untuk saya sendiri, bukan untuk diumbar ke orang lain. Kecuali, kita memang telah sepakat untuk berdiskusi dan beropini mengenai agama satu sama lain.

Jika ada yang bilang, “Hati-hati berteman dengan yang bukan se-agama denganmu, nanti kamu bisa terjerumus,” dengan tegas akan saya katakan, “Justru saya harus berhati-hati jika berteman dengan Anda.” Saya tidak pernah berpikir teman saya berusaha mengajak saya masuk ke dalam agama mereka hanya karena mereka menjelaskan bagaimana cara mereka beribadah, menceritakan bagaimana hubungan mereka dengan Tuhannya. Lagi pula, mereka juga selalu menghargai saya dan teman-teman muslim lainnya ketika kami sedang berpergian bersama. Seperti saat kami meminta waktu untuk menunaikan sholat, dengan sabar mereka menunggu kami di beranda Masjid. Terkadang, mereka juga mengingatkan kami untuk sholat. Saat kami berpuasa, di antara mereka bahkan ada yang ikut berpuasa bersama kami.

Saya juga sebenarnya jadi penasaran, bagaimana ya pandangan teman-teman saya tersebut mengenai Agama Islam yang saya anut? Ya, saya sangat mengerti jika agama saya kemudian dinilai buruk, dengan menyaksikan keributan mengenai agama yang terjadi di Ibu Kota sana. Saya juga turut merasakan malu atas apa yang mereka lakukan. Dan jauh di lubuk hati terdalam, saya ingin teman-teman saya tidak melihat kami dengan sebelah mata, namun lihatlah dari lingkungan terdekat mereka. Karena selain saya, masih ada banyak orang yang mencintai keberagaman agama di sekitar kita.

 

 

Penulis:

Hamida Thahira

Mahasiswa Semester Akhir, Ilmu Komunikasi UGM