Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/kaum-muda-katolik-menanggapi-masyarakat-digital/

Kaum Muda (Katolik) Menanggapi Masyarakat Digital

Tahun lalu, Oxford Dictionaries menobatkan kata ‘post-truth’ sebagai International Word of the Year. Penobatan ini tidak lepas dari maraknya berita palsu (fake news) yang memantik krisis informasi sepanjang proses referendum Brexit dan pemilihan presiden di Amerika Serikat. Sebagian kalangan yang sinis bahkan menyebutkan ‘kebenaran’ telah resmi mati, dan ‘fakta’ menjadi usang dan tidak lagi relevan. Kalangan yang sama juga menyebutkan bahwa krisis berita palsu ini berpotensi menyebar ke ranah politik global.
Masih dalam tahun yang sama, penelitian yang dirilis oleh Stanford History Education Group (SHEG) menunjukkan makin rendahnya kemampuan kaum muda untuk membedakan iklan dari artikel berita dan untuk memilah informasi dari Internet. Mengambil sampel dari ratusan pelajar, bahkan ditemukan lebih dari 30% responden memandang akun-akun palsu jauh lebih dapat dipercaya daripada sumber informasi resmi karena mengandung elemen-elemen grafis tertentu.
Hal ini tentu mencengangkan dan menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin kaum muda sebagai generasi tech-savvy (melek teknologi; dibanding generasi terdahulu) justru memiliki kemampuan yang rendah dalam menyaring informasi? Apakah mungkin, mereka yang tumbuh bersama teknologi digital tidak menyadari bahwa kemampuan/penguasaan terhadap piranti tidak serta merta menumbuhkan daya kritis untuk membedakan fakta dari fiksi? Barangkali demikian.

Literasi Digital: Seberapa Diperlukan?
Di era yang semakin serba digital ini, literasi digital adalah salah satu prasyarat pokok yang kerap didengung-dengungkan oleh para pakar. Betapa tidak, tanpa kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam menemukan, memanfaatkan, membuat, dan mengkomunikasikan konten/informasi, seseorang akan tertatih-tatih dalam pengembangan dirinya sebagai seorang warga digital di tengah dunia ini.
Lantas, siapakah yang (wajib) menjadi subyek dari literasi digital? Tidak lain dan tidak bukan adalah semua pihak yang bersentuhan dengan layanan digital, tanpa terkecuali. Dalam kapasitas sebagai konsumen dan/atau kreator konten digital, setiap pihak perlu memandang literasi digital sebagai satu komponen penting dalam dunia digital; sebagai elemen yang mendukung setiap orang dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara konstruktif, meningkatkan produktivitas, serta berpartisipasi dalam pembangunan dunia yang lebih inklusif. Perkembangan pesat teknologi digital tanpa namun tidak diiringi oleh literasi digital yang memadai, potensial berdampak pada pemanfaatan teknologi yang bersifat merusak, mengorbankan banyak pihak, serta menuntun pada kehancuran.
Setidaknya, ada tiga aspek penting di dalam literasi digital, yaitu (i) kemampuan berpikir kritis (critical autonomy); (ii) pemahaman akan lingkungan digital, serta (iii) tata cara bertindak daring (online).
Kemampuan berpikir kritis adalah kunci. Diskresi pengguna untuk melakukan rasionalisasi terhadap lanskap informasi digital, untuk mempertanyakan dan mengevaluasi informasi, serta untuk mempergunakan informasi tersebut dalam cara-cara yang bermakna adalah pendorong bagi tercapainya ekosistem digital yang konstruktif.
Pemahaman akan lingkungan digital melingkupi pemahaman akan sejumlah hal terkait dengan keselamatan dan kenyamanan warga digital. Dalam hal ini, pemahaman mengenai data pribadi, privasi pengguna, maupun keamanan daring adalah pemahaman-pemahaman yang diperlukan seiring dengan merebaknya berbagai isu terkait cyberbully, cyberfraud, maupun isu lain yang terkait cybersecurity. Pemahaman ini secara langsung juga terkait dengan tata cara bertindak daring yang melingkupi kesadaran akan hak-hak dasar yang wajib dihormati para pengguna layanan digital. Kepekaan terhadap disposisi sosial untuk bertingkah laku secara etis dan bertanggung jawab dalam ranah digital termasuk dalam hal ini.
Bercermin pada ketiga aspek di atas, jelaslah bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup bagi seseorang yang hendak mempersiapkan diri untuk masuk ke ranah digital.

Literasi Digital dalam Masyarakat Digital: Cukupkah?
Masyarakat digital adalah keniscayaan, sama halnya dengan pernyataan bahwa teknologi pasti akan terus berkembang. Namun, mengatakan literasi digital (saja) cukup untuk menjawab persoalan-persoalan dalam masyarakat digital hari ini adalah sebuah bentuk sikap naif. Sebagai cara pandang personal untuk menyikapi arus informasi, literasi digital adalah pedoman penting. Namun, di hadapan tantangan-tantangan besar masyarakat digital hari ini, diperlukan lebih dari sekadar literasi digital.
Salah satu isu dasar yang penting disikapi oleh masyarakat digital adalah perihal akses. Saat ini, belum semua pihak terhubung ke dalam masyarakat digital. Dalam konteks Indonesia, tercatat hanya 51% penduduk yang terkoneksi ke dalam Internet (We Are Social, 2017), pun sebagian di antaranya terpusat di Pulau Jawa. Ketimpangan akses tentu problem besar bagi dambaan terwujudnya masyarakat digital yang inklusif. Jelaslah, dalam hal ini, langkah pertama dalam membangun masyarakat digital yang inklusif adalah menyediakan akses dan mematahkan rintangan untuk masuk ke ranah daring.
Hal lain yang juga menjadi isu besar adalah penjaminan hak-hak dasar warga digital sehingga terbentuk masyarakat digital yang inklusif. Misalnya, menjamin dan melindungi kebebasan berekspresi, melawan cyberbully, berita palsu, dan penyebaran ujaran kebencian, serta perlindungan privasi. Di luar isu-isu ini, masih terbentang beragam isu lain yang terkait dengan aspek legal, ekonomi, politik, maupun regulasi maupun dengan aspek-aspek sosial yang lain. Selain itu, upaya untuk tentu saja bagaimana mengupayakan agar mendorong bisnis-bisnis kecil agar dapat dapat tumbuh dalam masyarakat digital, dan tidak lantas dan tidak terlindas oleh mereka yang didukung modal besar.
*
Sebagai bagian dari kaum muda (Katolik), critical autonomy adalah modalitas penting untuk masuk dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat digital. Dengan menajamkan diskresi terus menerus, habit of being sebagai seorang individu Katolik akan tampak dalam berbagai ekspresi tindakan di ranah maya: penuh empati, berani menyuarakan yang benar dan mengkritik yang salah, bahkan ketika tidak seorang pun melakukannya.
Berani dan bertanggungjawab menjadi seorang warga digital adalah satu hal, namun pemberian diri yang jauh lebih besar bagi seorang Katolik adalah tatkala dia tidak berhenti pada kehati-hatian personal untuk bertindak dalam ranah masyarakat digital. Pemberian diri yang jauh lebih besar adalah memperjuangkan masyarakat digital yang inklusif, yang teguh melindungi hak-hak dasar para warganya serta tentu saja, memperjuangkan mereka yang belum tergabung untuk masuk menjadi bagian dari masyarakat digital yang inklusif tersebut. Ketika ia bertindak lebih (bersemangat magis) dan masuk dalam pengosongan diri semacam inilah, baru dia patut disebut sekaligus sebagai warga digital dan Katolik sejati.

***

 

Penulis: Leonardus K. Nugraha