Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/keterhubungan-keluar-jangkaulah-yang-lain/

Keterhubungan: Keluar! Jangkaulah Yang Lain!

Kisah Maria mengunjungi Elisabet, adalah pertemuan antara dua sosok wanita yang luar biasa. Dua wanita yang berjuang untuk mempertahankan hidup yang dimilikinya. Terbayang bagi saya sosok Maria, wanita yang sangat muda,  yang secara tiba-tiba ditemui malaikat dan diberitahu bahwa ia akan hamil dan anak yang dikandungnya adalah Anak Allah (Luk 1:26-35). Rasa berserah dan taat ketika menerima kabar bahwa ia mengandung dari malaikat memang terjadi saat itu (Luk 1:38), tapi kita semua tidak tahu dan hanya bisa membayangkan apa yang dirasakan Maria setelah malaikat itu pergi.

Sebagai seorang wanita muda yang tiba-tiba hamil, mungkin Maria tampak gelisah dan cemas. Jika masa kini saja wanita mengandung tidak dalam ikatan perkawinan saja jadi gunjingan orang, apalagi saat itu? Apalagi dikatakan “kamu hamil dan ini adalah Anak Allah!” Rasa getir dan cemas saya bayangkan tentu membayangi Maria di samping dalam lubuk hatinya ada sukacita. “Maria tak perlu khawatir, tak perlu cemas kan, ada Yusuf?” Jika seorang laki-laki telah dijodohkan atau jatuh hati dengan seorang wanita lalu tahu kemudian bahwa wanita itu hamil, apa reaksinya?” Yang terjadi, Yusuf bermaksud menceraikan Maria dari pertunangan ketika tahu bahwa Maria telah mengandung tapi malaikat mencegah niat Yusuf  dengan  hadir dalam mimpi Yusuf dan berkata jangan takut! (Mat 1:18-21). Kegamangan Yusuf ini seperti menunjukkan bahwa diawal kehamilan, Maria berjuang sendiri merasakan sukacita sekaligus kegetiran dan kegelisahannya.

Ia menanggungnya sebagai seorang wanita muda yang tentu saja mempunyai sejuta impian akan kebahagiaan hidup yang ingin dia raih. Kebahagiaan yang tiba-tiba lenyap oleh peristiwa yang hadir seperti mimpi tapi nyata. Maria sepertinya seorang diri, sepertinya tidak tahu kepada siapa Maria harus berkeluh kesah tentang pergumulannya yang diingatnya hanyalah dia mempunyai saudari perempuan (sepupu) yakni Elisabet yang dikatakan oleh malaikat mempunyai pengalaman serupa (Luk 1:36-37). Inilah mengapa akhirnya Maria memutuskan menempuh perjalanan berisiko “hanya” untuk bertemu saudarinya, berbagi kisah pergumulan yang siapa tahu meringankan beban gelisah yang ditanggung (Luk 1:39-56).

Mengapa perjalanan berisiko? Jarak yang ditempuh dari Nazaret ke sebuah kota (tidak ada namanya) di pegunungan Yehuda itu 120-140an kilometer, entah dengan 4-5 hari berjalan kaki atau 3 hari dengan karavan. Bagi seorang ibu hamil muda, itu perjalanan yang penuh resiko, melelahkan, membahayakan diri dan janin yang dikandungnya apalagi kalau itu jalan kaki. Untuk medan saja, Maria harus melewati perbukitan yang tidak semua rimbun.

Resiko yang lain adalah tidak tertutup kemungkinan dia dirampok di tengah jalan.  Tidak dikisahkan bagaimana Maria menempuh perjalanan panjang itu dan siapa yang menemaninya. Yang bisa kita tangkap dari membayangkan jauhnya perjalanan itu adalah kehendak kuat akan sebuah perjumpaan.

Mengingat Elisabet, menjadi seorang wanita yang tidak bisa mengandung dan mempunyai anak tentu bukan perkara yang mudah. “Aib!” itu lah kalimat yang diucapkan Elisabet tentang apa yang dia rasakan sebagai seorang wanita yang tidak bisa mengandung sampai sukacita menghampirinnya ketika malaikat menjumpainya dan mengatakan ia akan mempunyai anak dan anak tersebut akan menjadi seorang nabi besar (Luk 1:5-15).

Kehamilan membuatnya lepas dari derita entah itu pergunjingan orang maupun  rasa bersalah karena cap tidak mampu memberikan keturunan.  Akan tetapi, hamil di usia yang sudah senja, tentu saja bukan perkara mudah. Bagi seorang wanita tentu terasa getir jika suaminya sendiri yang adalah seorang imam tidak percaya bahwa istrinya bisa mengandung dan akan memberinya keturunan. Hal yang bertahun-tahun Zakharia mohonkan ketika berdoa itu terjadi, tapi dia tidak percaya dan akhirnya menjadi bisu. Sukacita dan rasa getir ini pun seperti Maria, hanya disimpan dalam lubuk hati tak ada orang yang bisa diajak berbagi.  Allah yang akan hadir di tengah-tengah manusia ternyata melalui pergumulan luar biasa dua wanita dengan sukacita dan derita yang mereka alami.

1 2