Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/kisah-keluarga-berbeda/

Kisah Keluarga Berbeda

Berbeda dalam keyakinan merupakan hal yang lumrah untuk keluargaku. Walaupun pasti ada kerikil-kerikil tajam yang cukup sakit jika terinjak, tetapi hal itu tidak akan pernah menggoyahkan kami untuk saling mengasihi.

Oh ya, sebelumnya perkenalkan namaku Constantia Nilam Sulistiana Barani. Aku terlahir dengan orangtua yang berbeda dari sisi keyakinan mereka dalam beragama. Bapakku adalah seorang muslim yang taat sedangkan ibuku adalah seorang Katolik. Aku memiliki seorang adik laki-laki yang saat ini masih duduk di sekolah dasar. Dia masih belum menentukan pilihannya, apakah akan menjadi seperti bapak atau ikut ibu.

Adikku bersekolah di sebuah yayasan Katolik, dia sangat rajin pergi ke masjid saban hari. Bahkan ia sering sekali diminta untuk mengabarkan bahwa waktu salat sudah tiba. Aku ingin adikku bisa menentukan apa yang baik untuknya sedari dini. Aku ingin dia mampu memilih keyakinannnya sendiri seperti yang aku jalani.

Tinggal di keluarga seperti keluarga ku tentu banyak tekanan yang datang silih berganti. Tekanan itu acapkali datang bukan dari lingkungan intern keluarga, melainkan dari orang lain. Bahkan, tak jarang mereka memberiku kalimat persuasif seperti,”Lam, nek kowe ra melu bapak mengko bapakmu lan kowe mlebu neraka.” Yang kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Lam, kalau kamu tidak ikut (agama) bapakmu, nanti kamu dan bapakmu akan masuk ke neraka.” Dan, kalimat ini nyata-nyata bisa menghantui aku selama bertahun-tahun.

Aku sangat mencintai bapak. Aku mengasihinya dengan sangat. Father is the first love for his daughter. Walaupun dulu, bapak sempat tidak mengizinkanku untuk dibaptis, tetapi itu tidak melunturkan rasa sayangku kepadanya.

Toh, kemudian aku tetap merasakan bagaimana baptis dewasa, aku tetap menerima komuni dan krisma. Dan itu semua tidak merubah apa pun di keluargaku. Malahan, makin hari aku malah merasa kasih sayang bapak terasa semakin besar walaupun nyata-nyata kami berbeda keyakinan.

Tinggal di lingkungan seperti ini membuatku merasakan sebuah hal yang luar biasa. Terlebih tiap peringatan hari besar keagamaan. Adikku yang menjadi rutin ke masjid, bapak yang tak pernah putus salat, aku serta ibu yang tak pernah absen datang ke gereja.

Setiap bulan puasa tiba, ibu selalu membuat sahur untuk bapak dan dapat dipastikan makanan berlimpah saat Idul Fitri. Saat lebaran pun, kami mengadakan open house karena bapak adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Sejak kecil, aku sudah dibiasakan untuk ikut merayakan Lebaran dan Natal. Dibiasakan untuk berhadapan langsung dengan perbedaan. Dan itu menyenangkan.

Berbeda dalam keyakinan merupakan hal yang lumrah untuk keluargaku. Walaupun pasti ada kerikil-kerikil tajam yang cukup sakit jika terinjak, tetapi hal itu tidak akan pernah menggoyahkan kami untuk saling mengasihi dan bertoleransi. Keluarga Ibu pun juga banyak yang berbeda agama, dan kami semua dapat hidup harmonis. Bahkan sekarang, bapak sering mengingatkanku untuk rajin berdoa dan pergi ke gereja.

Bapak pun juga kerap bilang “Lam, mbok ibumu diajak ke greja, diajak berdoa.” Yang kalau diterjemahkan, “Lam, ibu diajak ke gereja, diajak berdoa.” Ah sungguh damai kata-kata itu.

Kalimat bapak yang selalu membekas di kepalaku adalah saat bapak berdoa untuk ujianku, “Mbak, bapak doain kamu waktu ujian loh. Bapak pergi ke mushola lalu salat.”

Bagiku, agama adalah bahasa kasih. Ketika bapakku berdoa, pasti mendoakan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Agama adalah bahasa, yang memiliki kata-kata indah untuk berbicara dengan Tuhan Yang Maha Esa. Bapak merasakan kedamaian ketika bersujud, dan aku merasakan kedamaian saat aku mengikuti ekaristi.

Ajaran penting yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku adalah semua agama itu sama dan mengajarkan kebaikan. Mereka selalu mengajarkan, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai, mengalah ketika disakiti, memberi makan jika ada teman yang lapar, dan perbuatan baik lainnya.

Mereka, bapak dan ibuku, selalu mewanti-wanti bahwa bahwa selalu penting untuk berbuat baik kepada sesama. Karena itu adalah puncak dari beragama. Ibuku sekali waktu pernah berpesan,”lebih baik tidak beragama tetapi memiliki kasih dalam hidupnya.”

Penulis: Constantia Nilam Sulistiana Barani
Penyelaras Tulisan: Cahyok