Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/menjadi-pribadi-yang-terbuka/

Menjadi Pribadi yang Terbuka

Menjadi orang muda adalah tentang bagaimana menjadikan diri terbuka terhadap berbagai hal baru. Orang muda identik dengan serangkaian hal unik yang dapat ditemukan di banyak tempat. Begitu pula perasaan ribuan orang muda Katolik yang berbondong-bondong datang ke Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjadi saksi Asian Youth Day 2017.

Terhitung hari ini, Minggu, 30 Juli 2017, rangkaian pertama kegiatan Asian Youth Day 2017 dimulai. Days in Dioceses yang menjadi kegiatan pembuka memberi kesempatan bagi Orang Muda Katolik baik dari Indonesia maupun dari negara Asia lainnya untuk dapat berdinamika bersama kurang lebih tiga hari di 11 keuskupan yang ada di Indonesia.

Suka cita dan semangat orang muda tergambar jelas pada hari kedatangan. Bukan hanya datang dari peserta melainkan juga dari semburat senyum merekah tuan rumah penyelenggara. Boris Silvanus P Situmorang, salah satu panitia DID dari Keuskupan Bandung menceritakan bahwa ada lebih dari 100 orang muda Asia – dari dalam dan luar Indonesia, akan berproses bersama dalam sukacita menghidupi injil di Tanah Priangan.

Orang Muda Katolik dari Konferensi Uskup Taiwan dan Timor Leste bersama OMK setempat akan diajak bercengkerama langsung dengan pelbagai budaya maupun adat yang ada di Tatar Sunda, mulai dari bermain angklung sampai mengenal kerajinan Batik Megamendung.

“Semua proses tersebut bertujuan agar para peserta mampu mensyukuri dan memahami ragam kebudayaan yang ada di Asia, melalui perbedaan itu para peserta mampu menjadi sukacita di mana pun mereka berada.” Ujar RD Gandhi selaku Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Bandung.

Canda dan Suka

Para peserta menunggu jemputan ke rumah orang tua asuh sementara mereka dengan begitu antusias. Seperti yang terjadi di Keuskupan Surabaya, canda dan tawa tak henti-hentinya mengisi ruang tunggu.

“Sembari menunggu jemputan, para peserta dari Banjarmasin ini asyik menghibur diri dan teman peserta lain dengan bermain alat musik khas Banjarmasin: Panting.” kata Rm. Teddy Indrayana Aer, MSF.

Pribadi Terbuka

Indonesia dengan segala keanekargamannya menawarkan banyak hal menarik untuk digali lebih dalam. Tentang pertemuan-pertemuan antar etnik budaya, agama, suku, dan bahasa yang menciptakan harmonisasi kehidupan.

Rm Frans Kristiadi Pr, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Purwokerto, ketika menyambut kedatangan Konferensi Uskup Jepang dan Thailand, mengatakan bahwa Orang Muda Katolik diajak untuk mengenal, mengalami, berdialog, dan belajar dengan masyarakat yang beraneka ragam baik dari sisi agama, suku, bahasa, dan budaya. Keanekaragaman itu merupakan anugerah Tuhan dan kekayaan bangsa yang harus terus disyukuri, dilestarikan, dan dikembangkan.

Harapannya, ketika setiap orang muda sudah melakukan hal itu secara bersama, akan tercipta sebuah generasi orang muda yang sangat terbuka.

sexNewspapertimes Theme