Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/rekoleksi-ayd/

Rekoleksi AYD7: Satu Tubuh, Banyak Akar

Auditorium Driyarkara yang terletak di pinggir Jalan Affandi, Yogyakarta itu, Minggu, 18 Juni 2017 terlihat begitu semarak dengan suara nyanyian penuh semangat dari kurang lebih 600 orang panitia dan volunteer Asian Youth Day 2017. Dikomandoi oleh dua pemandu gerak yang begitu joyful dan powerful, semua penghuni Auditorium Driyarkara yang mayoritas mengenakan kaos berwarna merah bergoyang bersama. Hari itu lah rekoleksi semua panitia dan volunteer Asian Youth Day 2017 diadakan.

Kesibukan di depan Auditorium Driyarkara memang sudah terlihat sedari pagi, beberapa jam sebelum acara dimulai. Hilir mudik volunteer AYD terlihat tanpa lelah mempersiapkan acara rekoleksi bersama itu. Acara dibuka oleh Martha Sasongko yang hari itu kebagian tugas sebagai pembawa acara. Penyiar radio PETRA 105.7 FM Jogja dan juga sekaligus pendiri Lembaga Pelatihan Karya Dua Perempuan ini mengajak semua peserta yang hadir di auditorium untuk menemukan Tuhan dalam diri masing-masing.. Merasakan-Nya hadir dan telah menyetujui setiap derak langkah menuju Asian Youth Day 2017.

Sesi selanjutnya, Romo Yohanes Dwi Harsanto bersama Gerard Martin Thema menggebrak semua peserta dengan candaan-candaannya. Romo Santo mengajak untuk kembali mendefinisikan ulang, merekonstruksi ulang arti kegembiraan dalam mengikuti perhelatan temu raya orang muda ini. Romo Santo juga meminta untuk menuliskan harapan-harapan para panitia dan segenap volunteer dalam acara tiga tahunan ini. Dan, dipandu Gerard, peserta diajak untuk bertemu dengan keriaan yang dirasakan oleh calon-calon peserta AYD 7 dari pelbagai penjuru Asia. Melalui video yang ditampilkan, yaitu video kemeriahan World Youth Day dan video greeting dari orang muda Katolik Asia, segenap panitia serta volunteer menjadi ikut merinding sekaligus bangga bisa menjadi bagian dalam kesempatan ini.

Romo Andreas Setyawan SJ membuka sesi kedua dengan mengajak beberapa perwakilan dari beberapa divisi untuk berbagi pengalamannya di depan hampir 600-an orang. Memang masih ada beberapa kendala yang dialami baik segi teknis maupun dari segi konten kegiatan, tetapi itu semua bukan menjadi sesuatu yang menurunkan semangat. Gigih Adiguna, perwakilan dari Tim Publikasi AYD menggambarkan bahwa segenap orang yang terlihat dalam acara akbar ini ibaratnya adalah akar, akar yang sangat banyak, yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, akar-akar ini, bekerja untuk satu tubuh yang sama. “Itulah Asian Youth Day 2017”, imbuhnya.

Semakin sore acara semakin seru, Mgr. Pius Riana Prabdi yang ditemani Gerard, menggantikan Romo Setyawan di sesi selanjutnya untuk memberikan apresiasi dan penguatan kepada segenap usaha-usaha yang telah dan sedang dilakukan demi kesuksesan AYD 7 Indonesia ini. Gerard juga berbagi pengalamannya bagaimana dia yang dulunya adalah orang muda yang bisa dibilang memiliki masa lalu yang kurang mengenakan, kembali menemukan Tuhan lewat pelbagai jalan terjal yang dilaluinya.

Di sesi ini, haru pilu semua panitia tumpah ruah. Beberapa di antaranya juga tak kuasa menahan peluh yang menetes dari ujung mata. Semua saling berpelukkan, saling bergandengtangan, saling menguatkan. Suasanya yang Auditorium Driyarkara yang tadinya cerah dengan warna merah, mendadak menjadi haru biru. Peluh yang sempat tertetes bukanlah tanda keputusasaan, melainkan luapan saling menguatkan dalam rangka pelayanan untuk Tuhan.

Berbagi kehangatan dan semangat dalam mempersiapkan AYD 7 Indonesia. (Doc. Tim Dokumentasi AYD)

Namun, haru biru itu nyatanya tidak berlangsung lama. Kemunculan Mgr. Robertus Rubiyatmoko selaku Uskup KAS, nyatanya bisa kembali menceriakan suasana. Disambut dengan riuh tepuk tangan, Mgr. Ruby bersama Mgr. Pius memimpin para panitia dan volunteer yang hadir untuk bersama menyanyikan theme song Asian Youth Day. Keriaan, keakraban, canda, semua tumpah ruah di antara goyangan yang penuh gelora.

Sebelum, ditutup dengan makan malam. Mgr. Ruby menyempatkan memimpin misa. Perayaan ekaristi akbar bersama dengan 2 Uskup, 10 Imam, dan 1 Diakon ini semakin memantapkan perjalanan pelayanan para panitia dan volunteer Asian Youth Day. Dalam homilinya, Mgr. Ruby menanyakan esensi pelayanan para panitia dan volunteer hingga saat ini. Apapun motif dan tujuannya, semua yang ikut berkontribusi dalam kegiatan ini adalah anggota yang sama dan berkumpul menjadi satu tubuh di dalam Kristus.

Mgr Rubi bersama panitia dan volunteer menari dan menyanyikan lagu ThemeSong AYD. (Doc. Tim Dokumentasi AYD)

Sebuah kesempatan yang sungguh luar biasa dan membanggakan ketika bisa menjadi bagian dalam Asian Youth Day 2017. Terlepas dari esensinya sebagai sebuah acara, atau perayaan atau mungkin ajang perjumpaan, AYD adalah wadah bagi pelayanan kasih serta syukur kepada Tuhan. Kita di sini adalah satu tubuh, dengan banyak anggota dan satu tujuan demi nama-Nya. Salam Joyful Joss!

 

Penulis: Cahyok & Nita