Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/sekelumit-tentang-islam-di-indonesia/

Sekelumit Tentang Islam di Indonesia

Tugas untuk berbicara tentang Islam di Indonesia di depan umat Katolik dari beberapa negara dalam acara 7th Asian Youth Day (AYD), saya kira, adalah tugas yang sangat berat. Bukan rahasia lagi jika agama selalu menjadi topik yang sangat sensitif untuk dibicarakan, salah sedikit memicu konflik. Wajar jika kemudian saya was-was dan berpikir bagaimana kalau demikian dan bagaimana kalau demikian ketika mendapatkan tugas itu. Apalagi dalam acara AYD itu saya harus menjalankan tugas tersebut di dalam sebuah bus yang menempuh perjalanan dari Jogja Expo Center menuju perbukitan Menoreh di Kulon Progo. Bukan kombinasi yang bagus untuk saya yang gampang mabuk perjalanan.

Memang, saya ditemani oleh seorang rekan sehingga kami dapat berbagi tugas terkait materi yang dibicarakan, namun menurut pengakuannya sendiri dia juga tidak mempunyai banyak persiapan. Pada akhirnya, hal yang dapat saya lakukan adalah mengalir mengikuti keadaan. Saya percaya pada pengetahuan tentang Islam di Indonesia yang telah saya dapatkan di sekolah dan berharap dapat menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana pada rekan-rekan Katolik itu, dikandung maksud agar mereka mendapat gambaran bahwa Islam di Indonesia senyatanya berbeda dari Islam yang identik dengan kekerasan sebagaimana diberitakan oleh media.

Dan begitulah, ketika roda-roda membawa kami menjauh dari hiruk-pikuk kota Yogyakarta yang padat menuju perbukitan Menoreh, setelah mempersilakan rekan saya untuk mengambil bagiannya terlebih dahulu, saya pun mulai berbicara. Saya tidak menyangka bahwa saat itu, kata-kata mengalir begitu saja dari mulut saya. Saya menyapa para peserta AYD, mengucapkan selamat datang di Indonesia, Yogyakarta khususnya. Saya menyinggung pernyataan rekan saya sebelumnya, bahwa penyebaran awal Islam di Indonesia dilakukan melalui pernikahan dan penerimaan atas seni serta budaya lokal. Muslim awal merangkul adat istiadat setempat untuk mengambil hati masyarakat, baru kemudian menghembuskan nafas Islam ke dalamnya. Cara ini kemudian diwariskan secara turun-temurun sehingga menghasilkan wajah Islam yang jauh berbeda dari wajah Islam di daerah lain.

Saya juga mengatakan bahwa saya mulai mempelajari (sekaligus mempraktekkan) Islam sejak kecil. Berdasarkan pelajaran tersebut, saya menyimpulkan bahwa aspek moral Islam jauh lebih penting daripada aspek ritual formalnya. “My teacher taught me to be kind to our neighbour, other creatures and even our environment. As in the quote ‘if you got hit on your left cheek then you should give the other’, that I’m sure you are familiar with,” papar saya.

Seorang peserta AYD bernama Aloy lalu mengajukan pertanyaan tentang bagaimana cara saya menjalin hubungan dengan rekan-rekan yang berbeda agama dan apa tanggapan saya atas kejadian di luar sana ketika sekelompok muslim diberitakan telah melakukan kekerasan. Maka saya menjawab, bahwa tentu saja harus ada pembedaan yang tegas soal keyakinan. “Keyakinan saya adalah milik saya, dan keyakinan Anda dalah milik Anda. Akan tetapi tidak seharusnya perbedaan keyakinan itu kemudian menimbulkan pertikaian. Di luar apa yang kita yakini itu, kita adalah manusia. Saya manusia dan Anda juga manusia, maka kita sama-sama punya kewajiban untuk memanusiakan manusia yang lainnya,” terang saya dalam bahasa Inggris.

Saya juga menambahkan bahwa memang ada beberapa kata dalam teks utama agama Islam (ayat Al-quran) yang menyatakan untuk membunuh. Akan tetapi ayat tersebut berkenaan dengan keadaan umat muslim yang hendak diserang dan ragu-ragu untuk membela diri oleh karena yang hendak menyerang mereka masih terhitung kerabat sendiri. Maka Tuhan menyeru untuk berperang, dalam arti membela diri. Ayat tersebut tentunya tidak relevan jika digunakan sebagai dasar untuk menyikapi orang-orang non-muslim di Indonesia saat ini. Mereka yang tekstual tanpa memerhatikan konteks akan terjebak dalam pemahaman yang salah dan berujung tindakan kekerasan atas nama Islam. Hemat saya, mereka harus belajar lebih dalam lagi, agar tidak hanya mengerti teks tetapi juga konteks.

Saya yang sempat khawatir kehabisan kata di tengah jalan, akhirnya mengembangkan senyum lebar-lebar karena tak lama setelah mengutarakan jawaban itu sebuah gereja di kaki perbukitan menoreh telah menyambut kami semua. Itulah tempat kami semua berhenti untuk kemudian transit dan mengikuti acara selanjutnya.

 

Penulis: Hari Taqwan Santoso