Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/smpk-promasan/

Kunjungi Lansia: Siswa SMPK Promasan Isi Ruang Kosong

Tidak biasa. Itulah kata yang bisa menggambarkan keadaan pagi itu di Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Promasan, Kulon Progo, Yogyakarta. Sebuah sekolah yang letaknya di sebuah desa nan asri —Kalibawang— karena  dikelilingi Perbukitan Menoreh yang banyak dimanfaatkan sebagai areal pertanian dan perkebunan.

Pagi sekitar pukul delapan itu ketujuh puluh delapan siswa-siswanya bahu-membahu melaksanakan kegiatan bersama masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah. Mereka membagikan bibit sayuran serta beberapa sembako kepada warga lansia yang tinggal di sekitar Paroki Promasan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Kirab Salib Asian Youth Day 2017 yang pada kesempatan itu singgah di Paroki Promasan.

Siswa SMPK Promasan bagikan bibit dan sembako (doc. SMPK Promasan)

Diwawancari melalui pesan singkat, Ibu Puji, Kepala Sekolah SMPK Promasan mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan rasa kepedulian terhadap orang lain sejak usia dini. “Terlebih lagi, Dewan Paroki juga ikut terlibat, dan keterlibatan ini bisa menumbuhkan rasa senang pada warga lansia,” beliau menambahkan.

Tidak ada hal yang sangat istimewa dari upaya pembagian bibit sayuran dan sembako ke warga lansia ini. Namun, hal ini dirasakan begitu sangat istimewa bagi segenap waga lansia yang tinggal di Paroki Promasan karena siswa dan guru SMPK Promasan datang dan membawa sukacita kepada mereka tepat seminggu setelah perayaan hari kasih sayang. Perjumpaan ini tidak bisa diukur dengan nilai mata uang manapun.

Mereka –para lansia—itu jarang sekali merasakan keramaian seperti saat dikunjungi siswa-siswa SMPK Promasan ini. Selain karena kondisi wilayah tempat tinggal mereka yang sepi, kemampuan fisik mereka pun jauh berkurang seiring usia yang semakin menua. Belum lagi keluarga mereka—anak dan cucu—yang lebih sering menghabiskan waktu dengan mencari nafkah.

Tak ayal, kunjungan ini lah yang membuat mereka sering menitikkan air mata, karena haru dan sangat merasa bersyukur bahwa di usia senja mereka, masih ada orang-orang muda yang mau hadir untuk mengisi ruang kosong yang mereka rasakan.

Penulis: Pipin