Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/sungai-kehidupanku/

Sungai Kehidupanku

Pada suatu akhir pekan, aku mengikuti kegiatan “Menyusuri Sungai Musa” bersama OMK Paroki Hati St. Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta. Dalam kegiatan itu, kami diajak merenungkan perjalanan hidup masing-masing yang dapat diumpamakan perahu karet yang mengarungi sungai dan menghadapi jeram-jeram kehidupan. Mengambil gagasan dari kisah Nabi Musa yang dihanyutkan di Sungai Nil dan menjadi utusan Allah, kami diantarkan untuk mensyukuri hidup ini dan beranjak menjadi garam dan terang dunia.

Aku termenung ketika menyadari bahwa pengalaman berarung jeram saat itu menunjukkan sikap pribadiku terhadap kehidupanku. Di sepanjang perjalanan, aku sibuk menengok ke belakang atau perahu orang lain. Sesekali aku mendesah kesal, mempertanyakan kenapa perahuku tak seperti ini atau itu. Perjalanan yang kuarungi pun tak seru. Berharap diri ini mendayung perahu lain kala itu. Saat perjalanan usai, sambil bercengkerama aku sibuk mengeluhkan kisahku.

Doc. Pribadi

Saat kuingat PR renungan dari pendamping kami, aku baru sadar bahwa aku lupa menikmati arus yang mempermainkan perahu karet kami. Sungai yang kami arungi, tujuan, jenis perahu, agen, arus dan deras sungai yang menghanyutkan kami sama. Lalu, kenapa rasa ini berbeda?

Lupa, itu jawabnya.

Lupa menikmati setiap detik dayungan di perahuku. Lupa membuat suasana seperti yang kita mau. Lupa menyapa orang dihadapanku. Lupa mensyukuri riak arus yang mewarnai perjalanan pengarungan ini.

Mungkin, seperti itu pula sungai kehidupan yang selama ini aku atau bahkan mungkin sebagian orang alami. Terlalu sibuk menoleh ke belakang dan mengingini kehidupan orang lain. Lupa menikmati dan mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri. Sibuk meminta dan mengeluhkan apa yang tak kita miliki.

Aku teringat akan sepenggal homili yang sederhana, namun cukup menggelitik bagiku disuatu pagi. Imam yang mengunjukkan Misa mengisahkan kunjungannya di suatu rumah sakit jiwa yang merawat dua jenis pasien depresi. Imam pun bertanya kepada umat, “Apa persamaannya orang yang depresi karena teringat-ingat masa lalu dengan orang yang depresi karena mengkhawatirkan masa depan?”.

Sejenak umat hening dan menebak-nebak jawaban imam. Aku pun berbisik kepada adikku, “Sama-sama tidak menikmati masa kini, saat ini.”

Saat itu aku dapat menjawab pertanyaan imam, tetapi ternyata aku sendiri sulit menerapkan jawaban itu. Tak hanya sebatas menikmati dalam hal waktu, tetapi juga dalam banyak hal, mulai dari apa yang aku miliki, pengalaman yang aku alami, tantangan hidup, dan masih banyak hal lagi, yang semuanya itu sesungguhnya sudah direncanakan sedemikian rupa oleh-Nya sehingga menjadi yang terbaik bagi diri kita masing-masing.

Akhirnya, dari tugas permenungan ini aku belajar untuk mensyukuri sungai kehidupanku. Sungai kehidupan yang berliku-liku, berarus kuat, dan banyak jeramlah yang justru menguatkanku. Sama seperti perbincangan dengan kawanku, ketika kami bisa melewati sungai ini, berharap bisa melewati sungai lain yang mungkin lebih menantang. Begitu pula dengan kehidupan ini, kami pun berharap bisa melewati sungai kehidupan berikutnya yang mungkin lebih banyak cobaan dan rintangan yang semakin mendewasakan kami.

 

Telah dimuat dalam Majalah UTUSAN No. 04 Tahun Ke-67, April 2017 halaman 37

 

Penulis: Veronica Pieta TyasTejaningrum

Sutodirjan GT II/906 RT 73 RW 21, Pringgokusuman, Yogyakarta