Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/blog/wajah-garang-hati-sayang/

Wajah Garang, Hati Sayang !

Keragaman Masyarakat

Bicara Keuskupan Surabaya, tidak terlepas bicara tentang masyarakatnya. Semua orang yang ada di Jawa Timur memang dapat dikatakan sebagaian besar adalah orang Jawa. Akan tetapi jika dilihat lebih detail lagi orang jawa yang ada di Jawa Timur ini terbagi menjadi 4 ragam budaya atau bisa disebut tlatah. Dari 4 ragam budaya ada 2 ragam budaya yang dominan dalam keuskupan Suarabaya.

Penting untuk dicatat pembagian ini tidaklah untuk menunjukkan pengkotak-kotakan melainkan untuk menunjukkan bahwa masyarakat dalam Keuskupan Surabaya itu sendiri unik, kaya akan budaya dan kearifan lokal. Apa saja 2 ragam budaya /tlatah yang dimaksud?

Mataraman

Wilayah ini mencangkup daerah-daerah di bagian barat Jawa Timur, yakni Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.

Diberi nama Matraman lantaran wilayah ini masih mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Kerajaan Mataram. Bila melihat dari adat istiadatnya, masyarakat di wilayah Matraman memang mirip dengan masyarakat di daerah Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta. Hal yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa Jawa yang masih terkesan halus meski tidak sehalus masyarakat di Yogyakarta dan Surakarta.

Di wilayah ini pun (terutama Bojonegoro, Blora, dan Cepu) terdapat satu kelompok masyarakat yang sangat unik yakni masyarakat Samin atau yang dikenal dengan Sedulur Sikep. Masyarakat ini ada/muncul dari sebuah gerakan perlawanan tanpa kekerasan terhadap ketidakadilan penjajahan Belanda pada abad 19. Gerakan perlawanan tanpa kekerasan ini ditunjukkan dengan pemboikotan terhadap kemajuan yang ditawarkan pemerintah saat itu serta upeti dan pajak. Mereka menolak mengunakan baik jalanmaupun kereta api yang dibangun oleh pemerintah Belanda dengan memilih membuat jalan sendiri. Mereka menolak membayar pajak dengan alasan tanah yang mereka pakai adalah milik leluhur mereka, mereka menolak menyekolahkan anak mereka ke sekolah dengan alasan sekolah sesungguhnya ada di alam sekitar mereka dan kehiduapan nyata yang mereka jalani.

Sehari-hari mereka pun mengenakan pakaian hitam. Sekilas wajah mereka tampak dingin dan tidak ramah. Tapi itu hanya keluaran saja. Rumah mereka tidak memiliki daun jendela dan daun pintu sebagai simbol bahwa semua milik bersama dan bentuk keterbukaan mereka. “Tidak takut kemalingan? Memangnya saya punya apa? Kalau kamu mau, butuh, ambilah! ” begitu kira-kira jawab mereka.

Arek

Di sebelah timur Matraman adalah tlatah arek yang menjadi wilayah kebudayaan yang cukup dikenal dengan ciri khas Jawa Timurnya. Sekilas jika bertemu dengan masyarakat Arek kesannya adalah blak-blakan, tidak ramah/kasar, tidak sopan dan bengal, suka mengumpat. Namun dibalik itu masyarakat Arek dikenal sebagai masyakarat yang egaliter dengan kekhasan semangat juang yang tinggi, terbuka, dan mudah beradaptasi. Kebengalan dan umpatan mereka menunjukkan sikap keterbukaan mereka yang meminta juga keterbukaan dari kita. Dan satu yang menjadi ciri khas masyarakat Arek adalah bondo nekat.

Bondo Nekat tidak sebatas selogan saja. 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan di seluruh Indonesia, muasal sejarahnya dari Kota Surabaya. Berawal dari usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, pasukan Indonesia terpaksa berhadapan dengan pasukan Inggris yang membantu Belanda untuk mempertahankan tanah jajahan setelah Jepang menyerah dalam perang dunia kedua. Sebuah insiden tidak bisa dihindari yakni bentrokan yang mengakibatkan Brigadir Jenderal Mallaby meninggal.Kematian seorang perwira tinggi ini menjadi noda hitam bagi Inggris karena selama perang dunia kedua Inggris  tidak kehilangan satu pun perwira tinggi. Pemerintah Inggris menanggapi peristiwa ini dengan ultimatum bagi tentara  Indonesia untuk menyerahkan senjata. Ultimatum yang ditolak oleh tentara Indoensia di bawah komando Bung Tomo. Maka meletuslah pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945 yang karena keterbatasan kualitas persenjataan membuat banyak pejuang  kemerdekaan Indoensia gugur,namun tekad dan kenekatan mereka membuat pula korban di pihak Inggris pun tidak sedikit.

Hingga saat ini Surabaya dan Malang menjadi pusat kebudayaan Arek. Kedua kota besar ini menjadi pusat kebudayaan Arek karena kondisi sosial masyarakatnya yang begitu komplek dan heterogen, bisa dikatakan menjadi pusat bidang pendidikan, ekonomi, dan parawisata di Jawa Timur. Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jawa Timur. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari ”gula” ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49 persen) aktivitas ekonomi Jatim ada di kawasan ini.

Selain itu di Surabaya juga dikenal kesenian yang biasa disebut dengan Ludruk, terutama tarian Ngremo-nya, kesenian ini menjadi maskot budaya khas Surabaya. Ludruk telah dikenal sejak tahun 1942, pada zaman penjajahan Jepang. Dalam Ludruk inilah Kebudayaan Arek ini juga tampak jelas muali daripernak-pernik panggung dan pakaian hingga tutur kata.  Sebetulnya, Ludruk adalah ragam kesenian pertunjukan semacam teater yang mengadaptasi dari kesenian ketoprak di daerah mataraman dan Jawa Tengah dengan menggunakan bahasa Suroboyoan dan semua pemain dalam kesenian Ludruk adalah laki-laki.

Madura dan Pandalungan

2 ragam budaya lain ialah Madura yang sebagian besar tinggal di Pulau Madura (sisi timur kota Surabaya) dan di kota-kota di bawah Pulau Madura. Dan Pandaluangan yang berada di ujung timur Jawa Timur. Maka, jika kita berada di Keuskupan Surabaya, tidak usahlah kita terkejut ketika melihat orang-orang dengan wajah yang hampir serupaya tapi berbicara dengan ragam bahasa berbeda. Karena Surabaya memang unik dan kaya.

1 2