Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Exposure

Exposure

Pada hari ketiga ini, para peserta Asian Youth Day 2017 diajak untuk mengunjungi 25 titik exposure yang tersebar di pelbagai penjuru Yogyakarta. Keduapuluh lima tempat itu adalah:

  1. Seni Bela Diri Tunggal Hati Seminari (THS) dan Tunggal Hati Maria (THM)

THM / THS ini merupakan sebuah kelompok seni bela diri yang terdiri dari orang muda katolik yang menggunakan patron spiritual dari Yasus Kristus dan Bunda Maria. THS / THM ini didirikan oleh Romo Martinus Hadiwijoyo Sukomartoyo, seorang pastur dari Keuskupan Agung Jakarta.

THS / THM ini memiliki fokus pada pengembangan empat aspek diri, yaitu iman, fisik, mental, dan aspek rekreatif. Aspek-aspek yang difokuskan dalam kelompok ini berdasarkan ajaran kasih Kristus. Dengan kata lain, THS / THM sangat jauh sekali dari kekerasan yang begitu lekat sekali dengan nama kelompok bela diri.

 

  1. Gereja St. Antonius Padua Kotabaru

Pada awalnya gereja ini digunakan untuk memperkuat karya pastoral dalam bidang pendidikan. Namun, seiring waktu berjalan, paroki setempat menggunakan gereja ini sebagai tempat pengembangan kepemudaan hingga gereja ini akhirnya mendapat julukan gerejanya orang muda. Sinergi lintas generasi dan organisasi yang ada di dalam paroki menjadi sebuah tantangan nyata dalam pengembangan gereja ini. Lebih lagi, gereja dituntut untuk dapat bertahan di dunia yang dengan sangat cepat berubah, tetap kukuh tetapi fleksibel terhadap evolusi yang terjadi di dunia.

 

  1. Sekolah Dasar Kanisius Kokap

Sekolah Dasar Kanisius Kokap merupakan sebuah sekolah Katolik yang didirikan sejak taun 1928. Sekolah ini mampu bertahan sejak dari zaman penjajahan sampai sekarang dengan mengusung misi menyediakan pendidikan yang layak bagi warga lokal. Sekolah yang terletak cukup jauh dari daerah perkotaan ini, membuatnya sedikit mengalami kesulitan untuk mendapatkan calon murid yang memadahi saat ini. Sekolah ini kini hanya mengandalkan empat orang guru. Namun, dengan semangat mengajar yang tinggi dan semangat untuk melestarikan sekolah ini terbukti tetap mampu menjaga umur sekolah ini sampai sekarang.

 

  1. Sekolah Dasar Kanisius Pelem Dukuh

Sekolah yang didirikan sejak tahun 1968 ini terletak di Perbukitan Menoreh oleh beberapa tetua yang ada di daerah sekitarnya. Sekolah ini merupakan sekolah pertaman yang mengajarkan murid-muridnya untuk terus melestarikan kesenian lokal dan keindahan alam yang ada di Perbukitan Menoreh. Cara yang digunakan untuk melestarikan kedua hal ini adalah dengan adanya kegiatan ekstra kulikules seperti bercocok tanam dan pelbagai macam kesenian tradisional. Selama lebih dari 50 tahun ini, SD Kanisius Pelem Dukuh tidak hanya mengajarkan mengenai nilai-nilai kekatolikan, tetapi juga bagaimana Gereja, sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh, terus berupaya menjaga alam dan tradisi sesuai dengan sensus fidei.

 

  1. Gua Maria Sendangsono

Gua Maria Sendangsono ini juga terletak di Perbukitan Menoreh. Gua Maria Sendangsono ini menjadi salah satu bagian penting dari sejarang Gereja Katolik Indonesia karena menjadi saksi dari pembaptisan pertama dari 171 warga lokal yang dilakukan oleh Romo Van Lith, SJ di bawah Pohon Sono pada 14 Desember 1904. Dan, sejak saat itu jumlah pemeluk Katolik meningkat pesat. Barbanas Sarikrama merupakan salah satu sosok terpenting dalam peristiwa tersebut. 8 Desember 1929, sebuah patung Bunda Maria diletakkan di dalam gua setelah sebelumnya diberkati oleh Romo Van Kalken, SJ. Para peziarah rutin datang ke Sendangsono, berdoa di depan patung Bunda Maria. Mereka memiliki keyakinan bahwa Bunda Maria akan mendengar dan menjawab doa-doa mereka.

 

  1. Pusat Musik Liturgi (PML)

Pusat Musik Liturgi (PML) ini didirikan pada tahu 1995 oleh Romo Karl Edmund Prier yang lahir di Weinheim, Jerman. Beliau memiliki ketertarikan dengan music-musik liturgy, mengaransemen, dan membuat lagu-lagu liturgy. PML ini menjadi pusat musik liturgi yang ada di Indonesia di mana lagu-lagunya telah dinyanyikan di seluruh gereja yang ada di Indonesia.

 

  1. Penerbit dan Percetakan Kanisius

Penerbit dan Percetakan Kanisius ini didirikan pada tahun 1922 oleh Romo J. Hoeberechts, SJ. Sejak awal kemerdekaan Indonesia, Penerbit dan Percetakan Kanisius telah berkomitmen untuk selalu mendukung Republik Indonesia dengan menyediakan buku-buku berkualitas baik.  Mencapai usia 95 tahun, Penerbit dan Percetakan Kanisius ini masih setia dengan tujuan awalnya.

 

  1. Gereja St. Yosep Bintaran dan Majalah Paraba

Gereja St. Yosep Bintaran yang dibangun sekitar tahun 1933-1934 merupakan Gereja Jawa pertama yang ditujukan secara khusus untuk orang Katolik pribumi. Bangunan gereja ini menjadi salah satu bagian penting dari kultur budaya uang ada di Indonesia. Seorang sejarahwan pernah menyebutkan bahwa gereja ini pernah menjadi saksi perteman antara presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno dengan uskup pertama Indonesia, Mgr. Soegijapranata, SJ. Mereka bertemu di gereja ini untuk mendiskusikan tentang strategi melakan kolonial Belanda di Indonesia.

Bahkan, gereja ini pernah menjadi sebuah stasiun press untuk media Katolik yang mendukung penuh perjuangan mencapai kemerdekaan. Press memainkan peran penting untuk mengabarkan kepada penduduk lokal. Mgr. Soegijapranata juga mendirikan beberapa media seperti: Majalah Swara Tama; Majalah Peraba; Majalah Semangat; dan Radio Bikima. Motto yang diangkat dari semua media ini adalah 100% Katolik, 100% Indonesia, yang nyata-nyata mampu membuat para Katolik Pribumi ini menjadi bangga dengan identitasnya. Perbedaan ras, agama, budaya, dan etnik yang ada di negara ini tidak menjadi penghalang yang memisahkan melainkan menjadi sebuah jembatan yang menyatukan.

 

  1. Gereja St. Teresia Sedayu

Gerja St, Teresia Sedayu ini memiliki sebuah perkumpulan yang berisi para petani dengan nama “Petani Lestari”. Petani Lestari ini didirikan pada tahun 1991 oleh Romo Vincentius Kirjito dan Bruder Budi, SJ. Mereka tergerak untuk mendirikan laskar petani lestari ini karena prihatin melihat banyak areal sawah yang ada di sekitar Sedayu menjadi tidak subur karena telalu banyak menggunakan pupuk kimia. Laskar ini kemudian berkomitmen untuk selalu menggunakan benih lokal dan pupuk organic untuk tetap menjaga unsur hara di dalam tanah tetap awet.  Laskar ini yakin bahwa alam telah banyak memberi hal baik kepada keberlangsungan hidup manusia, dan maka manusia juga harus menjaga apa yang alam telah berikan, yaitu dengan menjaga kelestariannya. Laskar Petani Lestari ini tidak hanya terdiri dari orang-orang beragama Katolik saja, tetapi hampir semua warga Sedayu tanpa ada batasan.

 

  1. Gereja Hati Kudus Pugeran

Gereja Hati Kudus Pugeran ini pernah menjadi salah satu tempat bersejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai kamp penampungan para pengungsi. Letakknya berada di pusat kota, gereja ini dibangun berarsitektur campuran Belanda yang dipadupadankan dengan gaya khas Jawa.

 

  1. Gereja Candi Hati Kudus Ganjuran

Gereja ini dikenal sebagai sebuah gereja hasil akulturasi budaya Jawa yang dulu lekat dengan Hindu dengan Katolik. Pada kompleks gereja ini terdapat sebuah candi setinggi 10 meter yang di dalamnya terdapat patung Yesus.

 

  1. Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat)

Studio ini didirikan oleh Romo Jesuit yang memiliki ketertarikan pada bidang komunikasi pada tahun 1969. SAV Puskat ini mempunyai andil penting dalam penyebaran ajaran Yesus lewat media visual seperti video dan film. Sampai sekarang, SAV Puskat terus memproduksi film-film dokumenter untuk mengabarkan kabar sukacita Injil.

 

  1. Gereja Yohanes Rasul Somohitan

Gereja Yohanes Rasul ini didirikan sejak tahun 1930. Paroki setempat bertanggung jawab pada tumbuh kembang pemeluk Katolik di lereng Gunung Merapi. Penduduk dengan latar belakang beragam hidup damai dan tentram di Paroki Somohitan. Dikarenakan kondisi lingkungan sekitar yang sangat beragam, para pendiri gereja menaruh perhatian khusus pada pengembbangan sosio-ekonomi warga sekitar. Para pendiri gereja mencoba melakukan pelatihan penanaman, bercocok tanam, dan ternak untuk meningkatkan kondisi ekonomi. Ada pula komunitas likal yang fokus pada pengolahan tanah dengan cara yang natural. Komunitas ini antara lain: Paguyuban Gebang Asih, Air Sehat, Tani Asih, Maesasura, Saloka, dll.

 

  1. Majalah Basis dan Rohani

Majalah Basis adalah majalah yang terbit dwibulan yang berisikan tentang politik, ekonomi, kebudayaan, dan seni. Didirikan sejak 1951, majalah Jesuit ini mengajak para pembacanya untuk peka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Majalah Rohani merupakan sebuah majalan yang menceritakan tentang perjuangan dan refleksi harian dari para romo dan suster. Majalah ini membagikan cerita tentang bagaimana para romo dan suster berjuang melawan rintangan yang ada di dalam hidup mereka dengan harapan bahwa para pembacanya mendapat inspirasi untuk berdamai dengan masalah harian yang mereka hadapi.

 

  1. Sekolah Dasar Mangunan

Sekolah Dasar Mangunan merupakan sekolah dasar percobaan yang didirikan oleh Romo YB Mangun Wijaya pada tahun 2002. Romo Mangun mengimplementasikan konsep pendidikan bebas yang menekankan pada kedisiplinan dan kebebasan siswa. Seragam dan tata tertib membuat siswa seringkali mendapatkan hukuman yang mana tidak baik untuk tumbuh kembangnya. Ketakutan hanya akan mematikan kreatifitas dan kemampuan eksplorasi.

 

  1. Komunitas Sant’ Egidio

Komunitas Sant’ Egidio merupakan sebuah komunitas berjejaring internasional yang didirikan di Roma pada 7 Februari 1968, tepat setelah Konsili Vatikan kedua. Ajaran dasar dari komunitas ini adalah doa. Menyambungkan Injil yang ada di dalam hati ke dalam kehidupan berkomunitas. Komunitas ini juga berusaha berempati kepada mereka yang terpinggirkan dengan mengajak para orang muda untuk terlibat menjadi sukarelawan. Komunitas ini menyediakan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu yang ada di Yogyakarta dengan mendirikan Sekolah Damai.

 

  1. Festival Kesenian Kulonprogo (FKT)

Festival Kesenian Kulonprogo ini kali pertama diadakan pada tahun 2009 dan menjad sebuah acara tahunan yang menyuguhkan kesenian lokal. Orang Muda Katolik dilibatkan dalam pesta kesenian ini untuk unjuk gigi kemampuan mereka. FKT ini mengusung tema yang berbeda tiap tahunnya.

FKT ini bertujuan untuk menjadi salah satu ajang OMK untuk mengekspresikan deiri mereka, hidup dalam keberagaman secara harmonis, dan belajar kearifan lokal. FKT juga tidak jarang melibatkan orang lain dari berbagai macam latar belakang yang berbeda untuk bersama guyub rukun.

 

  1. Gereja St. Teresia Lisieux Boro

Gereja ini merupakan gereja impian dari Romo Prenthale, SJ yang ingin membangun gereja berdasarkan pada budaya Jawa dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi warga sekitar.

 

  1. Sekolah Dasar Pangudi Luhur Kalirejo

SD PL Kalirejo sekarang memiliki 38 siswa (dari kelas 1-6). Sekolah ini mengintegrasikan kehidupan sosial ke dalam kurikulum pengajaran mereka. Kebanyakan warga di sekitar sekolah, terutama orang tua murid, adalah petani. Maka, siswa diajarkan untuk mencintai alam dan menghargai pekerjaan sebagai petani itu. Mereka dilatih untuk bercocok tanam dan berternak. SD PL Kalirejo ini dipilih sebagai salah satu tempat exposure dengan harapan bahwa institusi pendidikan Katolik di mana saja mampu mengintegrasikan kehidupan sosial menjadi salah satu bagian dari kurikulum mereka.

 

  1. KARITAS Indonesia Keuskupan Agung Semarang

KARITAS KAS didirikan pada 12 Juni 2006, tepat dua minggu setelah gempa berskala 5.9 SR menggungcang Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Gempa ini menyebabkan lebih dari 6,235 orang meninggal, ribuan orang terluka, ratusan orang kehilangan rumah mereka. KARINA KAS didirikan untuk memberikan layanan darurat pada korban gempa bumi.

Dewasa ini, KARINA KAS berfokus juga pada pendampingan kepada mereka yang tersisih, lemah, miskin, termarjinalkan , dan kaum difabel.

 

  1. Gereja St. Peter dan Paulus Babadan

Gereja ini menjadi paroki tersendiri pada tahun 2009. Lokasinya dekat dengan beberapa Pondok Pesantren. Warga Katolik di paroki ini tergolong kelompok minoritas, tetapi baik umat Katolik maupun Islam punya tradisi yang baik. Ada pelbagai kegiatan lintas agama yang sering diadakan seperti: dialog lintas iman; pentas seni, dan lain-lain.

 

  1. Gereja Maria Assumpta Pakem

Berlokasi di kaki Gunung Merapi, Gereja Maria Assumpta Pakem secara resmi berdiri pada tahun 1965. Paroki setempat memiliki kepedulian lebih pada bidang perkebunan. Gereja mendorng para umatnya untuk mampu secara aktif bekerja bersama tanpa memandang latar belakang. Di paroki ini memiliki satu tradisi yang unik bernama “Merti Bumi” yang didasarkan pada gerakan ekologi budaya yang diselenggarakan oleh umat Gereja Maria Assumpta untuk menyuarakan kepedulian akan lingkungan.

 

  1. Sekolah Dasar Kanisius Kenalan

Sekolah ini didirikan pada tahun 1990 di lereng utara Perbukitan Menoreh. Letaknya yang berada di puncak bukit membuat SDK Kenalan ini mampu secara aktif terus menjaga tradisi kekatolikkan, bertani, dan tradisi kebudayaan Jawa lainnya. Sekolah ini berjuang melawan kebodohan dan berjuang memangkas anggapan bahwa orang desa itu tidak terdidik. Di sekolah ini, para siswa diajarkan untuk peka terhadap alam dengan cara merawat kebun dan ternak yang mereka miliki. Mereka juga diajarkan tentang berbagai macam permainan dan seni.

 

  1. Museum Misi Muntilan

Museum ini didirikan pada 23 Juli 1998 sebagai sebuah refleksi gereja yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Museum Misi ini merupakan sebuah institusi pastoral yang menekankan karyanya pada pengembangan dan pertumbuhan umat awa,, remaja, dan anak-anak. Museum ini juga memiliki perhatian khusus pada panggilan religius di antara orang muda.

 

  1. Sekolah Tinggi Seminari St, Peter Canisi Mertoyudan

Sekolah ini didirikan pada tahun 1912 dengan menjunjung tiga nilai utama Sactitas, Sanitas, dan Scientia. Para lulusan Seminari Mertoyudan ini diharapkan mampu hidup di tengah lingkungan yang beragam, dan dalam tiga tahun belakangan ini, Seminari Mertoyudan menyuguhkan kelas dialog lintas iman. Program ini mengharuskan para seminarian untuk tinggal dan mengikuti semua kegiatan yang ada di sebuah pondok pesantren dan Vihara Buddha selama empat hari.