Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/keuskupan-agung-semarang/

Keuskupan Agung Semarang

KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG: MEDAN KERASULAN LEMBAGA HIDUP BAKTI

Pengantar

Bagi Gereja Keuskupan Agung Semarang tahun 2015 bukan hanya merupakan Tahun Hidup Bakti tetapi juga merupakan ulang tahun keuskupan yang ke-75; dua peristiwa yang tidak perlu dipertentangkan tetapi justru menjadi kesempatan untuk melihat kembali keterkaitan di antara keduanya. Dari satu pihak KAS merupakan medan keterlibatan Kongregasi, di pihak lain KAS berkembang menjadi seperti sekarang tidak terlepas dari sumbangsih dan peranan Kongregasi-kongregasi religius. Tulisan singkat ini merupakan upaya sederhana untuk merunut keterkaitan tadi di dalam perjalanan sejarah-nya. Perhatian terutama diberikan pada masa-masa awal bukan hanya karena tidak cukup diketahui tetapi juga sekaligus akan berfungsi sebagai bingkai dari tulisan-tulisan lain dalam buku ini yang biasanya –dan memang diharapkan demikian- sangat terfokus pada sejarah kongregasi-nya. Oleh karena itu tulisan ini akan berakhir pada tahun 1961 sewaktu Gereja Indonesia menjadi Hierarki Mandiri lewat Surat Apostolik Bapa Suci Johannes XXIII Quod Christus Adorandus. Periode sesudah 1961 akan lebih mudah dicari informasi dan pembahasan-nya karena telah banyak diulas.

Semarang di masa Pra-Vikariat
Tahun 1534 telah diterima sebagai tahun hadirnya Gereja Katolik di bumi nusantara, bumi Indonesia. Latarbelakang kesepakatan tersebut berkaitan dengan peristiwa pembaptisan seorang “sesepuh” kampung Mamula, di daerah Moro, di Pulau Halmahera[1]. Kehadiran Fransiskus Xaverius di wilayah tersebut sempat menjadikan karya misi berkembang dengan amat menjanjikan. Mengingat bahwa kepentingan penyebaran Kabar Gembira hanyalah salah satu dari sekian kepentingan lain dari pemerintah Portugal mengakibatkan karya misi tidak berjalan mulus. Datangnya kongsi dagang Belanda, VOC, yang tidak menghendaki adanya agama Katolik di wilayah kekuasaan-nya mengakhiri karya misi Gereja Katolik di wilayah Kepulauan Maluku tersebut. Singkat kata, karya misi di Kepulauan Maluku beraklhir di paruh kedua abad XVII. Bahkan bisa dikatakan bahwa selama masa dominasi VOC di nusantara kehadiran Gereja Katolik dianggap illegal[2].

Gereja Katolik di nusantara baru boleh melaksanakan kegiatan-nya kembali setelah VOC dinyatakan bangkrut pada akhir abad XVIII dan kekuasaan-nya diambil alih oleh pemerintah Belanda[3]. Periode kehadiran Gereja Katolik di bawah pemerintahan Belanda inilah yang akan berkaitan langsung dengan Sejarah Gereja Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Kisahnya dimulai dengan dua imam diosesan yang menyediakan diri untuk berkarya di daerah jajahan Belanda yang baru, Hindia Belanda. Sebenarnya mereka ditugaskan untuk berkarya di Afrika Selatan. Dua imam tersebut adalah Yakobus Nelissen dan Lambertus Prinsen. Mereka mendarat di Jakarta pada tanggal 4 April 1808. Untuk memberi wewenang-wewenang gerejani yang legal, Paus Pius VII mengangkat Yakobus Nelissen sebagai Prefek Apostolik Batavia pada tanggal 7 Mei 1807 [4].

Semarang. Sesudah hadir dan menetap di Batavia, tidak lama kemudian Semarang dipilih sebagai kota kedua tempat didirikan-nya “paroki” dengan Pastor Lambertus Prinsen sebagai gembala-nya. Karena belum memiliki gedung gereja, misa perdana untuk menandai kehadiran Gereja Katolik di Semarang dirayakan di gedung gereja Protestan pada hari Minggu, 18 Mei 1809 [5]. Selain di Semarang sendiri peristiwa baptisan di antara orang-orang Belanda mulai terjadi di beberapa tempat lain, seperti di Salatiga, Klaten, Yogyakarta, Tegal, Rembang, dll. Gereja Katolik baru memiliki gedung gereja sendiri sehingga dapat merayakan eksristi pada bulan Agustus 1824. Ketika Yakobus Nelissen meninggal di Belanda pada tahun 1817, Pastor L. Prinsen ditunjuk untuk menggantinya sebagai Prefek Apostolik Batavia tetapi masih tetap tinggal di Semarang[6]. Baru pada tahun 1828 beliau meninggalkan Semarang ke Jakarta atas desakan Komisaris Jendral de Ghisignies. Sebagai gantinya, Pastor Mouriks menjadi gembala di Semarang[7]. Setelah 22 tahun tinggal dan berkarya di wilayah tropis, kesehatan Pastor Prinsen mulai menurun. Pada tanggal 5 Pebruari 1830, beliau pun kembali ke tanah air Belanda dan meninggal pada tanggal 28 Oktober 1840[8]. Sesudah Pastor L. Prinsen kembali ke tanah air Belanda, pada tanggal 10 September diangkatlah Y.H. Scholten sebagai Prefek Apostolik Batavia yang ketiga[9].

1 2 3 4 5