Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/keuskupan-agung-semarang/

Keuskupan Agung Semarang

Muntilan.

Selain melayani umat di Semarang, para misionaris juga mengunjungi  orang-orang Belanda di beberapa tempat lain, seperti di Salatiga, Klaten, Yogyakarta, Tegal, Rembang, Solo, Madiun, Pacitan, dll. Di Semarang pulalah sebenarnya benih-benih iman di antara penduduk pribumi mulai ditaburkan. Tetapi dengan pelbagai pertimbangan, pimpinan misi akhirnya memutuskan untuk memindahkan “pusat kegiatan di antara pribumi” itu ke Muntilan. Dari catatan yang tersedia, salah satu alasan pemilihan Muntilan antara lain: jauh dari lingkungan Eropa dan supaya memiliki kesempatan yang luas untuk kontak secara langsung dengan orang Jawa[16]. Romo van Lith, Mertens, Hoevenaars, Bruder Theodorus Kersten hanyalah beberapa nama misionaris yang mengawali dan terlibat dalam karya di antara orang-orang pribumi ini.

Dalam waktu singkat Muntilan segera menjadi pusat aktivitas yang penting. Dari jumlah tenaga misionaris yang ditempatkan di Muntilan saja, orang bisa menyimpulkan bagaimana Muntilah sungguh-sungguh mendapat prioritas. Semua jenis pelayanan ditemukan di sini, misalnya paroki (kontak langsung dengan pribumi yang menyebar di desa-desa dan kelak menjadi kantong-kantong komunitas Katolik), pendidikan dasar dan menengah (berkembang menjadi sekolah berasrama dengan pelbagai jenjang, dan praktis menjadi pusat kaderisasi tenaga-tenaga awam yang jangkauan-nya amat luas), kesehatan yang ditangani para Suster OSF, sosial-ekonomi, dengan upaya mengembangkan kerajinan rakyat. Pada periode awal ini, orang berbicara tentang Muntilan –khususnya dalam bidang pendidikan- tidak terpisahkan dari pusat misi lain, Mendut.

Dari Sekolah Guru di Muntilan inilah, atau biasa dikenal sebagai Kolese Xaverius, tenaga misionaris awam pribumi menyebar ke pelbagai wilayah, salah satunya adalah Yogyakarta [17]. Perkembangan Gereja Katolik yang begitu cepat di Yogyakarta ternyata akan mengambil peran Muntilan sebagai pusat. Apa yang sudah dimulai di Muntilan akan segera muncul dan dikembangkan pula di Yogyakarta. Jumlah paroki, yang mencerminkan jumlah pertambahan umat Katolik, berkembang cepat. Sekolah-sekolah Katolik dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi; bukan hanya jumlahnya yang cukup banyak tetapi juga diapresiasi masyarakat karena kualitas-nya (SJ, OSF, FIC, CB). Pelayanan kesehatan hadir dalam bentuk rumah sakit (CB). Membicarakan Yogyakarta dalam konteks ini tidak hanya sebatas Kota Yogyakarta, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah pinggiran, seperti Gunung Kidul, Ganjuran-Bantul, Wates-Kulon Progo. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam hal pendidikan Gereja Katolik lebih dahulu hadir di pelosok-pelosok daripada pemerintah; dalam hal ini rintisan sekolah-sekolah dilakukan oleh Yayasan Kanisius[18].

Semarang sebagai Vikariat

Pada tanggal 25 Juni 1940, Vikariat Semarang berdiri dan dilepaskan dari Vikariat Batavia. Gereja Randusari menjadi katedral dengan Mgr. Albertus Soegijapranata sebagai Vikaris, Uskup pribumi Indonesia yang pertama. Dengan pelbagai pertimbangan, masih dalam kurun waktu yang lama Vikaris Apostolik tinggal di Gedangan. Perlu diingatkan lagi bahwa baru pada akhir abad XIX para misionaris secara serius menggarap ladang Tuhan di Pulau Jawa. Sewaktu Vikariat Semarang berdiri, di Jawa sudah ada enam wilayah gerejani: Batavia, Malang, Surabaya, Purwokerto, Semarang, dan Bandung. Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda, dan karena itu umat Katolik yang ada juga merupakan campuran antara pribumi Indonesia dengan umat Eropa, khususnya Belanda. Sungguh merupakan catatan yang amat membanggakan dan sekaligus menantang bahwa dalam kurun waktu yang singkat itu (1900-1940) Semarang sudah menjadi sebuah vikariat. Apalagi pada waktu itu Vikariat Semarang sudah memiliki, antara lain Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari Tinggi Santo Paulus (=Seminari Code), rumah-rumah pembinaan dari Tarekat yang berkarya di Vikariat Semarang, imam-imam pribumi (Jesuit) dan calon-calon imam (diosesan), biarawan-biarawati pribumi, bahkan juga Kongregasi pribumi bruder dan suster (ADSK/AK dan Bruder Rasul)[19]. Dengan kehadiran Tarekat MSF, beberapa wilayah dipercayakan kepada MSF khususnya wilayah-wilayah pantai utara. Di samping pembagian wilayah pelayanan paroki, di Vikariat Semarang pada periode awal ini sudah berkembang pula bentuk-bentuk karya lain seperti pendidikan, kesehatan, sosial yang ditangani oleh pelbagai Tarekat.
Berikut sekedar daftar sekolah atau bidang pendidikan yang ada di Vikariat Semarang sewaktu dipisahkan dari Vikariat Batavia. Jumlah sekolah yang tidak sedikit dengan beragam jenisnya ditambah dengan jumlah murid yang dilayani membangkitkan kegembiraan dan kebanggaan apalagi kalau dibandingkan dengan masih sedikitnya umat Katolik pada waktu itu. Itupun sebagian masih merupakan umat Eropa.

Berikut adalah situasi jumlah umat Katolik di Vikariat Semarang pada tahun 1941, atau sekitar 45 tahun dari data pertama tentang jumlah umat Katolik di wilayah yang kemudian menjadi bagian dari Vikariat Semarang. Dengan sengaja dipisahkan antara umat Eropa dan umat pribumi sekedar untuk memperlihatkan bagaimana prosentase umat pribumi merangkak naik, dan bagaimana perbandingan Eropa-Pribumi di masing-masing wilayah yang nantinya menjadi paroki.

Sebagai konsekuensi pemisahan Vikariat Semarang dari Vikariat Batavia, Vikariat Semarang juga harus bertanggungjawab atas berlangsungnya dua lembaga pendidikan tenaga gerejani: Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius dan Seminari Tinggi Santo Paulus. Hal ini bukan perkara yang mudah karena pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia dengan segala konsekuensi-nya. Mgr. Soegijapranata tidak hanya harus mengurusi dua lembaga tersebut. Pemerintah Jepang menangkap dan memenjarakan para misionaris berkebangsaan Belanda yang dalam kenyataannya merupakan tulang punggung kehidupan Gereja Katolik pada waktu itu. Imam, Bruder, Suster pribumi masih sangat sedikit. Meskipun demikian bersama dengan tenaga awam yang ada Gereja toh bisa bertahan dan kehidupaan juga bisa berlanjut sampai akhir Perang Pasifik dan Jepang menyerah[20]. Dari peristiwa-peristiwa selama masa Jepang terbukti bahwa keputusan Mgr. Willekens untuk mempersiapkan tenaga pribumi merupakan pandangan yang visioner[21]. Begitu pula keberanian beberapa Kongregasi merekrut calon-calon pribumi merupakan kontribusi yang tidak kecil bagi Gereja Vikariat Semarang dan juga Gereja Katolik di Indonesia. Di atas semua itu ensiklik misi Paus Benediktus XIV, Maximum Illud, sekali lagi menegaskan kebenaran-nya[22].
Oleh karena itu kiranya baik untuk melihat dan merunut sejenak bagaimana Tarekat atau Kongregasi itu berkarya di Keuskupan Agung Semarang. Setelah kongsi dagang VOC dinyatakan bangkrut pada tahun 1799, wilayah nusantara diambil alih oleh pemerintah Belanda. Pada waktu Belanda sendiri berada di bawah kekuasaan Perancis. Dalam suasana politik itulah Prefektur Apostolik Batavia didirikan pada tahun 1807. Dua imam diosesan Belanda segera datang. Selama limapuluh tahun para misionaris diosesan ini menangani seluruh wilayah nusantara. Semarang menjadi wilayah pertama di luar Batavia yang mendapatkan gembala permanen. Kedatangan Jesuit di nusantara adalah upaya pimpinan Vikariat Batavia, Mgr. Vrancken, untuk menjaga kelangsungan pelayanan di Indonesia tidak hanya untuk warga Eropa tetapi juga untuk berkarya di antara pribumi. Sebelum kehadiran Jesuit, pada tahun 1856 Mgr. Vrancken telah berhasil mengundang Suster-suster Ursulin untuk berkarya di Batavia, khususnya di bidang pendidikan. Jesuit yang akhirnya datang di Indonesia pada tahun 1859 tidak menangani bidang pelayanan tertentu atau di wilayah tertentu pula. Vikaris Batavia yang lebih banyak menentukan ke mana para Jesuit berkarya. Dari dokumen yang tersedia, imam Jesuit pertama yang mendapat tugas di wilayah Semarang adalah Romo Joannes Franciscus van der Hagen, 1862-1867. Beliau ditugaskan untuk Ambarawa yang wilayah pelayanan-nya meliputi Ambarawa, Salatiga, Solo, Madiun, dan Pacitan [23]. Sejak itu Ambarawa ditangani oleh Jesuit, dan sejak itulah Jesuit berkarya di wilayah yang sekarang disebut Keuskupan Agung Semarang.

1 2 3 4 5