Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

https://asianyouthday.org/keuskupan-agung-semarang/

Keuskupan Agung Semarang

Sewaktu Mgr. Vrancken mengundang Jesuit datang ke Indonesia, program-nya sebenarnya cukup jelas. Imam-imam diosesan akan melanjutkan pelayanan di antara orang-orang Eropa di Pulau Jawa, para Jesuit membuka karya misi di antara penduduk pribumi. Terbatasnya jumlah imam di Indonesia, membaiknya relasi Gereja dengan pemerintah kolonial Belanda menjadikan program awal berubah dan menjadi amat fleksibel. Pelayanan sakramental dirasa mendesak tetapi permintaan untuk berkarya di antara penduduk pribumi juga harus segera ditanggapi demi alasan strategi-politis [24]. Di bawah Mgr. Vrancken inilah beberapa Kongregasi diundang untuk terlibat di tanah misi: OSU (Ordo Sanctae Ursulae, 1856 di Batavia), SJ (Societas Iesu, 1859), CSA (Congregatio Sancti Aloysii, 1862 di Surabaya, OSF (Suster-suster Santo Fransiskus, 1870 di Semarang), SCMM (Sororum Caritatis a Nostra Domina Matre Misericordiae, 1885 di Padang)[25].
Boleh dikatakan bahwa memang hanya Suster-suster Fransiskanes yang sejak awal kedatangan-nya ke Indonesia langsung berkarya di Keuskupan Agung Semarang. Para imam diosesan dan Jesuit pun tidak. Meskipun demikian, kalau melihat  bagaimana sebuah Tarekat mulai berkarya di suatu wilayah gerejani proses-nya kurang lebih sama. Pada awalnya, wilayah gerejani itu, entah paroki entah keuskupan, mempunyai rencana untuk mulai suatu karya pelayanan. Entah karena tenaga yang terbatas, entah bidang karya pelayanan yang mau dimulai itu memerlukan keahlian khusus, entah mau memperluas kerjasama dengan pihak lain kemudian pimpinan di wilayah itu menjalin kontak. Setelah melalui negosiasi yang tidak selalu mudah karena melibatkan beberapa pihak akhirnya dicapai kesepakatan. Bentuk dari kesepakatan ini bisa berbeda untuk masing-masing. Inilah yang di zaman kita disebut sebagai Surat Keputusan atau Kontrak Kerja atau Memorandum of Understanding[26].

Dalam konteks perjalanan Semarang sejak dari masa pra-vikariat (1809-1940), masa vikariat (1940-1961), dan masa Keuskupan Agung Semarang (1961- sampai sekarang) boleh dikatakan bahwa pelayanan paroki dan pendidikan berjalan beriringan. Pendidikan seakan menjadi pintu masuk dalam mengadakan kontak dengan masyarakat yang lebih luas sehingga kehadiran Gereja Katolik di Semarang sering diidentikkan dengan pendidikan. Tidak jauh dari bangunan gereja paroki biasanya terdapat bangunan sekolah. Sesudah pendidikan barulah menyusul pelayanan kesehatan (Rumah Sakit) dan sosial (asrama dan/atau Panti Asuhan).

1 2 3 4 5