Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Keuskupan Surabaya

Keuskupan Surabaya

Keuskupan Surabaya

Kota Surabaya merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur, dikenal juga sebagai Kota Pahlawan. Kota ini terletak di tepi pantai utara Pulau Jawa dan berhadapan dengan Selat Madura serta Laut Jawa. Selain sebagai ibu kota Propvinsi Jawa Timur, Surabaya juga dijadikan nama salah satu keuskupan di jawa timur. Keuskupan yang lain bernama Keuskupan Malang yangterletak di sisi Selatan dan Timur Surabaya.  Saat ini, Keuskupan Surabaya dipimpin oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wicaksono yang menggembalakan umat dengan motto : Ut Vitam Abundantius Habeant  berasal dari kutipan Injil Yohanes 10:10b…”Supaya mereka memiliki hidup dalam kelimpahannya….” Pusat keuskupan ini terletak di Jl. Polisi Istimewa No. 17, Surabaya dimana kita dapat melihat sebuah bangunan gereja yang berdiri kokoh bernama Katedral Hati Kudus Yesus yang didirikan pada 21 Juli 1921. Keuskupan Surabaya merupakan keuskupan sufragan pada Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Semarang.

Keuskupan ini meliputi ± 145.000 umat Katolik yang tersebar di 44 paroki (2017)  yang dibagi dalam 7 kevikepan. Awalnya keuskupan ini hanyalah salah satu stasi dari Prefektur Apostolik Batavia (Jakarta), mengalami sejarah yang cukup panjang hingga kemudian berubah status menjadi sebuah Keuskupan pada 3 Januari 1961. Sedangkan bangunan gerej apertama berdiri di Kepanjen pada 12 Maret 1822 dengan nama Santa Perawan Maria.

Di Keuskupan ini juga terdapat satu tempat ziarah yang sangat terkenal yakni Gua Maria Lourdes Pohsarang yang dibangun pada tahun 1998. Tempat ziarah ini terletak di Kota Kediri sekitar 6 jam perjalanan dengan bus ke arah selatan. Tempat ziarah ini menggunakan nama Lourdes kerena patung Maria 3,5 m yang berdiri kokoh  di lereng Gunung Wilis ini adalah replika dari patung Maria Lourdes Perancis.

Kompleks ziarah ini merupakan bagian dari Gereja Pohsarang yang didirikan Romo Jan Wolters, CM pada tahun 1936. Gereja ini unik karena bentuk bangunan menunjukkan inkulturasi budaya lokal yakni bentuk bangunan Trowulan Kerajaan Majapahit dan bangunan barat  yang dapat dilihat dari susunan batu kali hitam. Banyak orang datang ke Pohsarang untuk bermeditasi, berrosario, atau ziarah makam para imam yang dimakamkan di sana.

Sekalipun menggunakan nama ibu kota propinsi Jawa Timur yakni Surabaya, di dalam Keuskupan Surabaya sendiri ada 3 paroki yang terletak di Propinsi Jawa Tengah yakni Paroki St. Petrus dan Paulus Rembang, Paroki St. Pius X Blora, dan Paroki St. Wilibrodus Cepu. Umat di Keuskupan Surabaya mungkin ada yang tidak tahu bahwa 3 paroki tersebut adalah bagian dari Keuskupan Surabaya, pun demikian dengan umat di Keuskupan Semarang. Mereka yang tidak tahu mengira bahwa 3 paroki tersebut adalahbagian dari keuskupan Semarang. Apakah 3 paroki tersebut lebih dekat jaraknya ke Surabaya? Jawabannya adalah tidak. Ambil contoh Paroki di Rembang, waktu tempuh dengan bus umum dari Rembang ke Surabaya adalah 5 jam sedangkan dari Rembang ke Semarang adalah 3 jam. Yang membuat 3 paroki tersebut masuk ke Keuskupan Surabaya adalah para romo yang merintis pembangunan umat di ketiga wilayah tersebut berasal dari Surabaya, lebih tepatnya para imam Lazaris (CM).

Selain itu, mengingat keterbatasan tenaga imam waktu dulu dan juga luasnya wilayah, dengan mengusung semangat Konsili Vatikan II, Mgr. Klosster, CM sebagai Uskup Surabaya waktu itu mentahbisakan 4 diakon awam pada tahun 1970-an untuk melayani umat di beberapa paroki. Pentahbisan ini menunjukkan pula besarnya peran kaum awam bagi tumbuh kembangnya Gereja di Keuskupan Surabaya. Peristiwa ini adalah pertama dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Sampai saat ini, Keuskupan Surabaya telah dipimpin oleh empat orang Uskup yaitu, Mgr. Johannes Antonius Maria Klooster, CM (1961–1982), Mgr. Aloysius Josef Dibjokarjono, Pr (1982–1994), Mgr. Johannes Sudiarna Hadiwikarta (1994–2003), Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono (2007– kini).

1 2