Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Without You Church is Nothing!

Berawal dari sebuah Kisah

Tinus dan Tina adalah sahabat sejak kecil. Mereka kali pertama bertemu di sebuah taman kanak-kanak yang di desa mereka. Sejak kecil mereka berdua selalu ikut kegiatan di gereja, baik di PIA maupun PIR. Namun, bersama tumbuhnya waktu, Tina terlihat lebih aktif dalam pelbagai kegiatan gereja dibandingkan dengan Tinus, Tinus sering mengolok Tina  sebagai pecandu gereja. Tinus sendiri lebih sering menghabiskan waktunya dalam kegaitan sosial dan lingkungan, sehingga Tina sering bilang ke Tinus, “Sok aktivis” Hingga pada akhirnya mereka berdua kembali bertemu ketika mempersiapkan sebuah kegiatan besar di gereja.

Pertemuan dua sahabat kecil itu kembali merekatkan jarak mereka yang sempat renggang karena kesibukkan dari mereka.

“Aku sepertinya lihat kamu lewat depan rumahku kemarin”, tanya Tina kepada Tinus.

“Oh iya? “, jawab Tinus

“Iya, kamu terlihat buru-buru sekali”.

“Oh iya! Aku ingat sekarang. Iya kemarin itu aku buru-buru karena aku dengar ada seorang tetangga yang sakit dan butuh pertolongan di dekat rumahmu”.

“Eh, Tin aku boleh  tanya sesuatu?”, Tinus melanjutkan. “Waktu aku bantu tetanggamu itu, ia bilang kepadaku kalau dia ingin dibaptis terus tanya caranya gimana.  Nah, kalau mau mengajukan permohonan babtis di gereja gimana ya caranya?”.

“Ya ampun… Aku kira mau tanya apa. Gampanglah !! Kamu tinggal datang langsung ke sekretariat gereja atau ke Romo Paroki. Itu hal yang mudah, masak kamu enggak tahu. Jangan-jangan kamu bukan seorang Katolik ya..”, jawab Tina mengejek.

“Sembarangan ya kamu. Sekalipun nggak aktif kegiatan gereja, aku seorang Katolik ya. Aku amalkan Injil dengan membantu sebanyak mungkin orang termasuk tetanggamu itu! Emang kamu, Katolik yang cuma rajin ke gereja, hafal soal liturgi doang sampai nggak tau tetangganya sakit dan perlu ditolong!!”, cetus Tinus.

Menyadari kekurangan masing-masing mereka tertawa bersama-sama. Tina dan Tinus mengimani ajaran gereja dengan keyakinan mereka masing-masing. Tina yang lebih suka menghafal ayat-ayat suci menjadi tahu bahwa pelayanan gereja tidak hanya ada di dalam deretan doa dan seluk beluk dalam gereja saja. Tinus pun demikian, pelayanannya dalam masyarakat pun akan lebih bermanfaat jika dia bisa lebih paham soal ajaran-ajaran gereja lainnya dan kehadirannya dalam Gereja bersama umat yang lain.

Berdua. Mereka berjanji untuk saling melengkapi, tanpa mencoba menggurui satu sama lain.

Gereja yang Hidup di Tengah Masyarakat

Pelayanan di seputar altar dan pelayanan di luar Gereja, sering kali menjadi perdebatan mana yang lebih baik atau mana yang diutamakan. Bahkan tak jarang kedua bentuk pelayanan ini menjadi bahan olok-olokan masing-masing kubu terhadap kubu yang lain.  Dua kelompok itu sama-sama mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah perwujudan cinta mereka pada Allah dan Gereja. Mana yang benar? Yang benar adalah tertawalah seperti Tinus dan Tina yang menyadari kekurangan masing-masing! Kita semua sepakat bahwa kedua hal itu penting.

Gereja pada saat ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Pertama, tantangan ke dalam, seperti di Gereja Eropa, bagaimana mengajak umat masuk kembali ke Gereja mengisi bangku-bangku Gereja yang kosong dan hanya diisi oleh mereka yang lanjut usia? Apa yang membuat Gereja Asia ini berkembang sehingga tiap tahunnya umatnya bertambah dengan pesat bahkan Paus mengatakan masa depan Gereja berada di Asia? Atau dengan melihat Gereja sekitar kita yang biasanya umat yang datang selalu melimpah-ruah ketika Natal dan Paskah. Apa yang membuat kita atau umat tidak datang pada perayaan mingguan di Gereja? Kedua, tantangan ke luar, misalnya bagaimana Gereja menjawab segala pertanyaan kritis yang timbul dari pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi di satu sisi Gereja pun tidak mungkin mencegah perkembangan itu (contoh: siapa Allah dalam alam semesta yang tidak terbatas atau dalam sel-sel yang mampu dilipatgandakan?) atau apa tanggapan nyata  Gereja atas masyarakat yang semakin terfragmentasi saat ini?

Pertanyaan itu timbul (dan masih banyak lagi pertanyaan lain) karena Gereja menyatakan diri-Nya hidup di tengah dunia dan jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Gereja sungguh hidup di tengah dunia atau tidak. Tentu saja setiap zaman mempunyai jawabannya sendiri atas pertanyaan yang timbul dalam lingkungan mereka saat itu. Setiap jaman akan mencoba menghadirkan solusi  jika ada permasalahan yang timbul saat itu seperti yang dilakukan oleh Santa Caecilia.

Mari kita tengok kisah Santa Caecilia (diperingati setiap 22 November). Ia memperjuangkan imannya di tengah himpitan pemerintahan yang kejam. Ia membangun gereja kecil dengan suka cita, dan dari sana ia wartakan sukacita kepada orang lain. Bersama suaminya, ia pergi keluar rumah untuk merawat jenazah-jenazah korban kezaliman pemerintah. Karena hal itu keduanya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Kisah Santa Caecilia dapat membantu kita untuk lebih berefleksi: sejauh manakah kita ini mencintai Allah dengan segala daya kelebihan dan kekurangan? Sebatas pernyataan dan pengakuan, atau sudah sampai kepada aksi nyata dengan semangat suka cita? Mari kita lihat beberapa kejadian yang ada di sekitar kita, di negara kita masing-masing. Apakah kita termasuk kelompok yang mengatasnamakan pembela agama atau bahkan pembela Allah tapi kita justru melukai-Nya? (bdk. Yoh 2:13 – 25) Atau apakah kita justru termasuk dalam kelompok yang menderita karena kecintaan kita kepada Allah, seperti Santa Caecilia dan suaminya yang meninggal karena iman?
Bila kita ingin merujuk dan meneladan Santa Caecilia, beranikah kita membangun Rumah Allah dengan suka cita, mulai dengan menghadirkan suka cita dalam keluarga kecil kita, hingga menghadirkan “kerajaan suka cita” di tengah-tengah masyarakat?
Perlu ditambahkan di sini, Santa Caecilia adalah pelindung paduan suara. Paduan suara hanya akan menjadi lebih indah dengan suara yang beragam dan terpadu menjadi satu, bukan dari satu jenis suara saja. Jadi, apakah kita selama ini masih bergulat dengan “ke-aku-an” dan hanya berteman dengan yang segolongan saja atau telah berani untuk menjalin hubungan dengan orang-orang lain dari berbagai latar belakang? Marilah kita juga mampu memadukan setiap keberagaman yang ada di sekitar kita menjadi sebuah harmoni indah yang dapat dirasakan semua orang.
Santa Caecilia telah memberikan kepada kita suatu teladan untuk berani beriman sekaligus bermasyarakat. Marilah kita juga meneladannya dengan lebih berani mewartakan suka cinta kasih, baik di lingkup kecil maupun luas. Jika kawan-kawan mempunyai pengalaman tentang bagaimana beriman dan bermasyarakat dapat berjalan beriring dan membuahkan sukacita, silakan kirimkan kisah-kisah itu dalam tulisan, foto bercerita, dan video ke [email protected]

Pre Event Bulan ke-2 Asian Youth Day 2017
#Inspire |  Pesta Santa Caecilia, 22 November 2016

Tanpa Kamu Gereja is Nothing!

FYI, kawan-kawan, sampai hari ini Benua Eropa dan Amerika masih menjadi basis orang Kristiani di Dunia. Tapi tahukah kamu banyak Gereja di sana sepi. Saking sepinya banyak Gereja yang dijual, diubah menjadi kafe, bar, dan beberapa hanya menjadi tujuan wisata. Kemanakah mereka orang Kristiani? Apakah hidup menggereja sudah tidak menjadi gaya hidup mereka?

Lalu, apa kabar gereja Asia? Jangan-jangan akan bernasib sama. Tenang kawan-kawan, gereja di Asia hari ini masih ramai kok. Lihat saja, gereja masih penuh setiap misa akhir pekan. Apalagi perayaan Natal dan Paskah jangan ditanya lagi wuih! penuh banget gereja nggak bakal kuat nampung butuh tenda tambahan atau cari tempat dengan ruang yang lebih luas.

Mungkinkah gereja kita di Asia di masa depan akan mengalami permasalahan yang sama dengan yang terjadi di Eropa? Bisa terjadi kawan-kawan bisa terjadi, tidak ada yang tidak mungkin. Hmm.

Dari yang paling sederhana dengan logika yang sederhana saja deh. Misalnya, kemana mereka ya yang pergi misa Natal dan Paskah pas misa akhir pekan? Jangan-jangan banyak orang muda yang mulai mengamini menjadi pengikut umat napas (ikut misa Natal dan Paskah saja selebihnya tidak). Kira-kira apa yang akan terjadi jika seandainya jumlah mereka semakin bertambah? Nanti gereja sepi lho!

Jangan sampai gereja kita sepi. Ingat kawan muda, kita ini masa depan gereja. Tanpa kita, gereja is nothing! Yuk bikin aksi:

  1. Ajak kawanmu untuk mengenal gereja Parokimu
  2. Bahas bareng-bareng ada apa sih dengan gereja kita saat ini? Apa ada kemungkinan gereja kita sepi? Situasi gereja paroki kita bagaimana? Kenal nggak sih kamu dengan Romo kamu? Bosan nggak ke Gereja? Punya ide nggak biar gereja menjadi tempat yang menyenangkan?
  3. Rangkum apa yang menjadi temuanmu dalam diskusi
  4. Tuliskan singkat diatas kertas atau whiteboard. Gunakan dua bahasa pilihanmu dari semua bahasa di Asia, pakailah google translate (jangan takut salah, yakinlah bakal ada yang membantu)
  5. Ber-selfie/ber-groufie-lah dengan ide inspiratif kamu. Yang kreatif dan keren ya!
  6. Upload dan share foto inspiratifmu ke facebook, instagram, twitter, atau kirim ke [email protected] (list media sosial kita)
  7. Nah ide terpilih dan kreatif akan dijadikan pohon inspirasi di lokasi acara Asian Youth Day 2017 berlangsung. Yakin bakal banyak yang membacanya dan tergerak hatinya.

Kawan muda, dari hal yang sederhana kita bisa bikin perubahan.

PS: Jika merasa kesulitan mencari teman untuk diskusi,
silakan ke media sosial AYD2017. Kami tunggu, kita bisa
bebas berdiskusi di sana.