Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Pre-Event IX – Celebrating the Diversity

Ilustrasi Video

Dalam video ini terdapat banyak sekali gambaran serunya berbagai budaya Indonesia indaha, mulai dari wayang wahyu, tarian tradisional maupun modern, musik tradisional dll. Semua menampilkan kegembiraan dan sukacita karena kekayaan budaya. Multikultur Asia menjadi sebuah harta tak ternilai bagi kita semua. Saat semuanya disatukan dalam, kita merayakan sebuah keberagaman.

Aktivitas Pre-Event IX

Kita berasal dari budaya yanag berbeda, bahasa yang berbeda, bahkan bangsa yang berbeda, tapi dalam iman akan Kristus kita disatukan menjadi satu keluarga. Karena iman yang sama pula kita berani merayakan perbedaaan ini untuk membawa kebaikan. Untuk menutup kegiatan pre-event menyambut AYD 7, mari kita mendoakan dan mendukung kelancaran AYD 7 di Jogjakarta.

Buatlah doa AYD dalam bahasa daerahmu sendiri, atau buatlah secara khsusus doa untuk orang muda di Asia dalam bahasamu sendiri. Atau bila memungkinkan, silahkan menyanyian lagu AYD7 dalam bahasa daerahmu sendiri. Kemudian, silahkan upload doa atau lagu tersebut dan sematkan tagar #SoundOfAsia.

Kita akan kumpulkan semua doa dan lagu ini untuk menjadi dukungan bagi seluruh perwakilan OMK yang hadir di AYD ke 7.

Pengantar

Aku ada, kamu ada, kita semua ada, mari kira rayakan !

Dunia OMK sungguh unik. Kekhasan dunia masing-masing OMK adalah anugerah dan kesempatan

Di Pre-Event 9 ini, kami mengajak semua orang muda katolik melihat kembali perjalanan Pre Event kita dan tema-tema yangtelah disajikan sebelumnya. Masihi ngat Pre event 3? Dunia OMK membantang dari kisah pelayanan seputar altar hingga kisah pelayanan seputar  pasar, dari mereka yang bekerja di bidang  IT hingga yang tekun dan setia untuk mencangkul, dari yang tinggal di perkotaan hingga memilih tempat yang sunyi-sepi di pedalaman Papua. Inilah OMK kita, inilah wajah Gereja Muda. Semua patut disyukuri dan dirayakan. Kita semua adalah benih yang ditabur di tanah yang baik dan pelita yang ditaruh di kaki dian. Masing-masing OMK merayakan hidup yang dimiliki dengan menekuni  talenta-talenta yang dimiliki. Setiap daerah mempunyai kisah oarng mudanya  sendiri-sendiri, memeilki kekhasannya sendiri-sendiri.

Dari keanekaragaman ini,apa yang menghubungkan kita? Kita semua adalah pewarta kabar gembira dan yang membuat kita mau dan terlibat sebagai pewarta kabar gemibra adalah pengalaman kita masing-masing dalam diri orang muda katolik yaitu pengalaman akan cinta Tuhan. Inilah yang menghubungkan kita, inilah yang menggerakkan kita untuk hadir bagi Gereja dan dunia kita.

Budaya seluas hidup manusia, dan itulah medan hidup OMK. Bahkan anak muda punya budaya sendiri.

Dalam keunikan inilah, orang muda Katolik hidup bersama dalam masyarakat, dalam jejaring relasi yang menghubungkan individu-individu ,keluarga-keluraga, dan kelompok-kelompok yang ada melalui perjumpaan, pengetahuan dan sarana yang dimilikiinya, persekutuan dan pertukaran yang diusahakannya untuk mengusahakan hidupnya dan sesamanya.  Inilah medan hidup OMK, yang berdiri dalam dunia seolah tidak ada sekat, sangat luas, dan seolah terbuka berbagai kemungkinan untuk melakukan sesuatu entah seorang diri maupun bersama., yang melangkah seolah tidak ada batas cakrawala mana kala mata memandang. Ada banyak hal yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh orang muda Katolik. Dalam bentangan luas ini, Gereja pun hadir  untuk menyapa dan mendengarkan harapan dan kegelisahan orang muda seperti yang telah disaurakan dalam  Pre Event 5.

Bagi yang tidak mengenal orang muda, tidak mudah mendengarkan suara mereka. Mereka mempunyai cara,  jalan pikiran, tindakan mereka sendiri yang bagi orang yang tidak kenal orang muda, mungkin akan terkesan wagu, aneh, urakan, tidak santun, kurang ajar, tidak tahu tempat,atau dianggap di luar kerangka yang seharusnya. Sebagai contoh, kerja dalam keramaian (baca : ngafe) dan aktif dalam kegelapan (baca : malam)  Inilah budaya orang muda, inilah budaya kita. Maka hal ini menjadi tantangan pula bagi orang muda bagaimana  budaya orang muda itu sendiri mampu dipahami oleh orang-orang di luar lingkaran orang muda, bagaimana orang muda juga semakin terhubung dengan banyak orang yang ada di dekat dan disekitarnya.

Belajar dari Jemaat Efesus : “ Tak perlu curiga dengan “yang lain”

“Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.”  Kis 19:10

Kutipan ayat kitab suci di atas adalah penggalan dari sebuah perikop dalam Kisah Para Rasul mengenai kehadiran Paulus di Efesus. Yang menarik dari perikop ini adalah pewartaan kabar  gembira tidak hanya sebatas Jerusalem dan sekitarnya, tidak terbatas pada dualisme Yahudi atau bukan, pewartaan Paulus telah menjangkau semua penduduk Asia, masuk dalam ragam budaya yang sangat berbeda dari Paulus sendiri. Ini artinya apa? Ini menunjukkan bahwa kabar gembira, Injil itu untuk semua. Kabar Injil itu pun nyambung dengan lidah yang beragam.

Belajar dari Paulus dan jemaat di Efesus, orang muda membangun dirinya, membentuk identitasnya, tidak dengan menidak, (saya bukan si A, si B, si C), mencurigai kehadiran yang lain termasuk dunia tempat dia hidup sebagai anti tesis terhadap diri yang jangan-jangan akan menenggelamkannya. Hidup orang muda itu gembira, murah hati, punya banyak impian, dan terbuka. Ini dibangun dengan merangkul yang lain, membangun budaya kesalingan,  menunjukkan keterbukaan, dan bersama-sama merawat keberagaman dan mencari kedalaman, mengerjakan proyek hidup bersama. Singkat kata,  Orang muda ada itu untuk semua !

Makna Pentakosta

Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi jernih dan menuntun orang di jalan yang benar. Juga memberi kepekaan untuk bergaul dengan dunia yang asing. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam kekuatan-kekuatan gelap yang pergi datang begitu saja. Ada kekuatan baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka dunia baru. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka menjadi kaum (Gereja) yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Tidak melulu sibuk dengan urusan-urusan sendiri. Mereka bergembira dalam hidup mereka.