Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Pre-Event V: Act to Love

Berbicara tentang orang muda pasti tidak ada batasnya. Dari semangat, daya juang dan penemuan jati diri pun tak bisa lepas dari orang muda. Tentunya banyak hal yang menarik mengenai orang muda. Apalagi berbicara soal sukacita orang muda. Tidak sedikit pula orang muda yang menyatakan bahwa dirinya adalah orang muda yang bersukacita. Namun ironisnya, orang muda yang mengaku bersukacita ini justru semakin banyak yang  individualis, acuh tak acuh, bahkan banyak orang muda yang mengikuti trend, misalnya gadget, Facebook, Twitter, Blog. Tak sedikit orang muda yang menggunakan jejaring sosial untuk menuliskan kegaluan mereka bukannya sukacita yang mereka alami.

Sekalipun banyak orang muda yang mengaku bersukacita dan menjadikan kata “sukacita” sebagai ajang untuk pencintraan. Masih ada yang mau menghidupi makna sukacita dengan sungguh-sungguh. Menjadi orang muda yang mewartakan sukacita dengan memberikan pelayanan di seputar altar dan juga pelayanan di tengah masyarakat.

Perwujudan dari sukacita kaum muda juga bisa dalam bentuk cinta dan juga pelayanan. Orang muda yang bersukacita juga berarti orang muda yang mau mencintai. Tentunya mengatakan “cinta” amat mudah dilakukan namun perlu kita ketahui bahwa sukacita kaum muda tak berhenti pada kata “mencintai” saja tetapi juga memberikan pembuktian. Tak hanya mencintai orang tua, kakak, adik , keluarga atau pacar tapi juga mencintai bumi ini. Dengan mencintai bumi berarti menjaga kelangsungan hidup kita dan tentu saja wujud bakti kita kepada Allah. (lih.1Kor 10:26. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.

Laudato Si

Belum lama ini, pada tanggal 24 mei 2015 Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si yang mengisahkan keprihatinannya pada lingkungan. Di dalam ensiklik tersebut juga tertulis bahwa  :

“LAUDATO SI ‘, mi’ Signore”, —“Terpujilah Engkau,  Tuhanku”.Dalam nyanyian yang indah ini, Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rerumputan”.12.  Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur.”

Tak hanya Santo Fransiskus saja yang mengingatkan kita untuk mencintai bumi layaknya saudari kita, tetapi Paus Fransiskus pun mengajak kita untuk tak sekedar prihatin namun turut ambil bagian dalam menjaga bumi. Bila akhir-akhir ini kita perhatikan, lingkungan yang awalnya tercemar pun kini makin tercemar. Tentu saja pencemaran lingkungan ini tidak begitu saja terjadi karena ada beberapa bentuk pencemaran yang terjadi setiap harinya. Contohnya saja Polusi udara. Polusi udara ini terjadi karena transportasi, asap industri, zat- zat yang memberikan kontribusi pada pengasaman tanah dan air, pupuk, insektisida, fungisida, herbisida dan agrotoxins pada umum- nya. akibat dari polusi udara  tidak hanya merusak lingkungan dan ekosistem tetapi juga mengakibatkan berbagai masalah kesehatan.

Juga perlu diperhitungkan pencemaran yang disebabkan limbah, termasuk limbah berbahaya yang mencemari lingkungan. Setiap tahun dihasilkan ratusan juta ton limbah, yang sebagian besar tidak membusuk secara biologis: limbah domestik dan perusahaan, limbah pembongkaran bangunan, limbah klinis, elektronik dan industri, limbah yang sangat beracun dan radioaktif. Sehingga tak hanya polusi udara yang terjadi namun juga pencemaran pada tanah dan air. Bumi, rumah kita, mulai makin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar. (lih. Ensiklik Laudato Si hal.16)

Tentunya banyak penyebab dari kerusakan alam. Salah satunya adalah budaya “membuang”. Membuang sampah sembarangan, membuang-buang air, membuang energi listrik dan terlebih lagi budaya membuang makanan.

Budaya membuang makanan ini amat merugikan karena setiap tahun, sekitar sepertiga dari makanan dunia hilang atau terbuang percuma. Hal ini dipaparkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Amerika Serikat. Mereka menjelaskan pula bahwa makanan yang terbuang, senilai hampir $ 1 triliun, sebenarnya dapat memberi makan sekitar 2 miliar orang (jumlah yang cukup mengejutkan), mengingat laporan lain menyatakan ada sekitar 800 juta orang kekurangan gizi di dunia.

Selain itu, membuang makanan juga memperpendek umur bumi karena menambah olahan sampah organik. Hal ini sejalan pula dengan pernyataan Paus Fransiskus yang merupakan bagian dari kotbahnya, dalam rangka memperingati Hari lingkungan hidup Sedunia yang dicanangkan PBB.

 “Our grandparents used to make a point of not throwing away leftover food. Consumerism has made us accustomed to wasting food daily and we are unable to see its real value. This culture of waste has made us insensitive even to the waste and disposal of food, which is even more despicable when all over the world, unfortunately, many individuals and families are suffering from hunger and malnutrition.Throwing away food is like stealing from the table of the poor and the hungry,”said Pope Francis.

Nasi Yang Menangis

Yogyakarta adalah salah satu daerah tujuan wisata yang menyimpan banyak tempat wisata seperti wisata alam, edukasi, budaya, pusat perbelanjaan dan tentu tak lepas dengan wisata kulinernya.Yogyakarta memang selalu ramai dengan wisatawan yang lalu lalang khususnya pada akhir pekan. Tak mau kalah dengan para wisatawan Tina, Tono dan kedua orang tuanya pun keliling menikmati romantisnya jogja. Setelah seharian jalan-jalan menikmati kota jogja, penat mulai terasa mereka pun melanjutkan mencari kudapan makan malam. Tina dan keluarganya pun memutuskan untuk makan malam dengan gudeg. Setelah pesanan datang, mereka pun terlihat asyik dengan menu makan masing-masing. Tina si penggemar gudeg krecek tampak menikmati pesanannya.Tono yang menyukai bubur gudeg pun mulai melahapnya. Demikian pula halnya dengan kedua orang tuanya.

Santapan malam milik Tina dan kedua orang tuanya telah habis dimakan.Namun sayang, baru beberapa suap Tono menikmati bubur gudegnya, ia telah meletakkan kembali sendok dan garpu di atas piringnya.

“Kenapa,Ton? Udah kenyang?” Ibu.

Tono mengangguk.

“Hm… kebiasaan Tono deh, gak baik lho dek” sahut Tina datar. Dia tak asing lagi dengan kebiasaan adiknya itu.

Kemudian Ayahnya menyahut, “abisin nasinya nak, kalau tidak dihabiskan nanti nasinya nangis“.

“Iya Ton, selain nasinya nangis,Ayah dan juga Ibu jadi sedih karena kamu tidak menghabiskan makanannya. Kita juga harus bersyukur dengan menghabiskan makanan apalagi diluar sana kan banyak yang kelaparan.” Ujar Ibu dengan sabar.

Menyadari kesalahannya Tono pun menghabiskan makanannya. Dan sejak saat itu Tono tidak pernah lagi membuang-buang makanan. Belajar dari pengalamannya saat itu Tono selalu mengambil sesuai dengan porsinya dan menghabiskannya. Tak berhenti pada diri sendiri, ia juga rajin membagi-bagikan makanan pada orang-orang yang tak seberuntung Tono.

Santo Paulus

Berangkat dari kematian dan kebangkitan Yesus, Santo Paulus kembali mengingatkan kita bahwa kematian dan kebangkitanNya juga menjadi sukacita sebab tercipta suatu pendamaian di antara manusia dan dunia dengan Allah. Dari kematian dan kebangkitanNya tercipta pulalah relasi yang baru, relasi yang kemudian mendekatkan kita pada Allah dan juga alam(bdk. 1 Kor 15:20-28) . Sehingga perikop “Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. (lih.1Kor 10:26)” membawa kita kepada suatu kesadaran untuk lebih peka dalam menjaga alam dan segala isinya. Kita sebagai manusia tidaklah berdiri sendiri melainkan terhubung pula dengan ciptaan lain.
Kita pun bisa belajar dari Santo Paulus (diperingati 25 Januari) mengenai pertobatannya (Lih .Kis 9:1-22).  Di mana perjumpaannya dengan Yesus menyadarkannya untuk bertobat (metanoia). Tak berhenti pada pertobatannya, Santo Paulus pun membagikan pengalaman perjumpaan dengan Yesus tersebut dengan menjadi pewartanya yang ulung. Ia mengajak orang-orang yang dijumpainya untuk memulihkan relasinya dengan Allah yang telah rusak karena dosa. Dalam konteks kita sekarang bisa diartikan seruan mengembalikan relasi yang telah hilang dengan mencintai, merawat dan menjaga bumi beserta segala isinya. Membangun kembali suatu relasi yang baru.
Dari pertobatan Santo Paulus ini kita pun diajak  memberikan sumbangan yang nyata untuk kelangsungan hidup seluruh alam ini. Sehingga dapat melahirkan suatu gaya hidup yang baru sebagai wujud dari rasa sesal atau pertobatan kita.

Pre Event 5 Asian Youth Day 2017
#ActToLove | St. Paul, 27 Januari 2017

Penting untuk diketahui, kawan muda, bumi kita semakin hari semakin panas. Rata-rata kenaikan suhu dalam satu abad ini adalah 1,5 ° C. Perubahan kecil suhu bumi dapat diartikan bahaya bagi bumi, karena kenaikan suhu bumi diiringi dengan perubahan iklim dan cuaca. Banyak tempat sudah mengalami perubahan Di satu tempat ada yang mengalami curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan banjir dan tanah longsor sedangkan ditempat yang lain mengalami kekeringan yang mengakibatkan gagal panen, kurangnya sumber air, gagal panen dan kebakaran hutan. Selain itu juga, perubahan suhu ini menyebabkan pencairan es di kedua kutub dan kenaikan permukaan air laut yang mengakibatkan terancamnya kehidupan manusia karena kemungkinan tenggelamnya pulau-pulau di bumi. (lih. www.climate.nasa.gov/evidence/ )

Kawan muda, setiap dari kita adalah agen perubahan! Nah, sebagai wujud nyata dari  pertobatan kita, marilah kita mencintai alam ini dengan membangun gaya hidup baru. Mencintai bumi tak harus melakukan hal-hal yang rumit. Mencintai bumi juga dapat dibuktikan dengan menghabiskan makanan, mematikan listrik ketika tidak digunakan, mematikan kran air saat tidak diperlukan dan hemat sumber daya. Bagikanlah pengalamanmu kepada semua orang dengan mengirimkan tulisan dan video mumengenai pengalaman-pengalaman yang menginspirasi ke [email protected] atau bisa langsung ditulis di sini. Bersama kita merawat bumi.

Mari selamatkan bumi kita. Ingat kawan muda! Apa yang kita lakukan saat ini adalah nasib kelangsungan bumi kita. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Yuk bikin aksi:

  1. Ajak kawanmu untuk bersama merawat bumi.
  2. Sebentar lagi akan memasuki masa Pra Paskah. Di masa ini, kita biasanya melakukan pantangan sesuai kemampuan kita. Beranikah kamu menantang diri sendiri untuk tidak memakai kantong plastik (#OneDayWithoutPlasticBag), demi mewujudkan bumi yang lebih bersih? Selain #OneDayWithoutPlasticBag tentunya kamu bisa melakukan hal-hal lain yang menunjukkan kepedulianmu akan kondisi lingkungan sekitarmu.
  3. Ber-selfie/ber-groufie-lah dengan kegiatan inspiratif kamu. Yang kreatif dan keren ya!
  4. Upload dan bagikan foto kepedulianmu ke facebook, instagram, twitter, atau kirim ke [email protected] 
  5. Nah ide terpilih dan kreatif akan dijadikan pohon inspirasi di lokasi acara Asian Youth Day 2017 berlangsung. Yakin bakal banyak yang membacanya dan tergerak hatinya.

Kawan muda, dari hal yang sederhana kita bisa bikin perubahan.

PS: Jika merasa kesulitan mencari teman untuk diskusi, silakan ke media sosial AYD2017. Kami tunggu, kita bisa bebas berdiskusi di sana.

Asian Youth Day 2017 #AYD7Indonesia

Social Media:
facebook: Asian Youth Day 2017
Instagram: @asianyouthday2017
twitter: @ayd2017