Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Pre-Event VI – Raise Your Voice

Ilustrasi Video

Tampak dalam video ini, sekumpulan anak-anak muda menulis sebuah surat. Surat untuk siapa ya? apakah surat cinta untuk pacar? Ternyata, surat itu ditujukan kepada Romo Parokinya. Setelah mereka mencoba mengenal dirinya dan gereja, akhirnya mereka memberanikan diri untuk menyampikan idenya bagi gereja. “Kami ingin Gereja menjadi tempat menemukan kekayaan dalam perbedaan” menjadi inspirasi bagi Romo tersebut dalam menyampaikan kotbahnya.

Pengantar

Sebagai kaum muda kita dikaruniai sebuah kebebasan dalam berkreatifitas dan berinovasi, serta sikap terbuka dalam menerima segala perubahan. Kaum muda saat ini dapat dibilang beruntung, karena dewasa di masa kecanggihan teknologi dan berlimpah informasi. Keadaan tersebut memberikan peluang bagi kita, untuk mengambil peran penting dalam tatanan masyarakat guna menginisiasi perubahan. Kita tidak lagi terbelenggu oleh keterbatasan jarak dan waktu yang menjadi hambatan bagi generasi sebelumnya. Dapat dibilang bahwa, saat ini dunia ada dalam genggaman kita. Mau tidak mau, hal tersebut menuntut kita agar dapat terbuka dan tertantang untuk terlibat langsung perubahan.

Rasanya belum lengkap  ketika Gereja tidak diikutsertakan dalam mengenal, mencintai, dan menjaga seperti yang dibahas pada pre-event sebelumnya. Gereja dapat menjadi wadah terdekat bagi kaum muda, untuk menyuarakan segala harapan dan kegelisahan yang dialami. Suara yang diberikan oleh kaum muda bukanlah bentuk rasa ketidaksukaan, melainkan sebagai ungkapan cinta  bagi gereja yang kita hidupi.

Paus Fransiskus pernah mengatakan, bahwa “You are the future of the church!” Ungkapan ini dapat dijadikan sebuah pemantik bagi kaum muda untuk bersuara dang bagi gereja untuk mendengarkan. Marilah bersuara, marilah mendengarkan!

Tokoh Inspiratif: Santo Petrus

Petrus adalah pemimpin para rasul dan Petrus kita yang pertama. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, berarti batu karang. Nama tersebut mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya di atas Petrus. Seperti yang diungkapkan Yesus: “Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku.”

Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur, polos seperti anak kecil dan amat dekat dengan Yesus. Namun, ketika Yesus ditangkap Petrus merasa amat ketakutan. Rasa takutnya berbuah menjadi dosa, dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Petrus kemudian menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia menangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya, tetapi Yesus mengampuni Petrus.

Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus “Apakah engkau mengasihi Aku?” kemudian Petrus menjawab “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus mengetahui hal tersebut, kemudian dengan lembut Yesus berkata “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan demikian kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Kemudian, Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.

Pada hari Pentakosta, Petrus dan para rasul lainnya menjadi penuh dengan kuasa Roh Kudus. Mereka berkata-kata dalam bahasa roh sehingga membuat bingung banyak orang yang melihat mereka. Maka, bangkitlah Petrus dan menyampaikan kotbahnya yang pertama -setelah kebangkitan Yesus-. Para pendengarnya begitu terkesima dengan kata-kata nelayan dari Galilea  ini; yang penuh dengan hikmat dan kuasa. Dalam hari itu juga, mereka memberikan diri untuk dibabtis. Jumlah orang yang dibabtis pada hari itu sungguh luar biasa yaitu 3000 orang. (Kis 2 : 14 – 41)

Di kemudian hari, Petrus pergi mewartakan kabar gembira hingga ke kota Roma, kota terbesar dan juga ibukota dari Kerajaan Romawi. Petrus tinggal di sana dan mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon kepada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Dan sekali lagi, Petrus merasa ketakutan.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota Roma ketika berjumpa dengan Yesus di tengah jalan.  Petrus bertanya kepada-Nya, “Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?” Yesus menatapnya dan menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan lagi.”  Dan Petrus yang malang seketika jatuh tersungkur di kaki Yesus kemudian menangis tersedu-sedu.  Sama seperti saat ia menangisi penyangkalannya di Yerusalem, puluhan tahun yang lalu. Kini Petrus harus kembali menyesali rasa takutnya. Dengan berderai airmata ia berbalik dan kembali ke kota Roma.

Setelah kembali ke Roma, Petrus segera ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.  Karena ia seorang Yahudi dan bukan warga negara Romawi, maka sama seperti Yesus ia dapat disalibkan. Kini, Petrus sudah menguasai rasa takutnya. Kali ini Ia tidak lagi menyangkal Kristus, ia juga tidak lagi melarikan diri melainkan siap untuk wafat sebagai saksi Kristus. Petrus meminta agar ia disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian. Santo Petrus wafat sebagai martir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67.

Pada abad keempat, Kaisar Konstantinus membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Bersama Santo Petrus yang menjadi pemimpin para Rasul dan pemimpin Gereja, kita sebagai orang muda Katolik juga dapat turut membangun Gereja. Dengan membagikan kepedulian, gagasan, ide maupun inspirasi.

Aktivitas Pre-Event VI

Sebagai kaum muda yang peka dan kritis terhadap lingkungan termasuk Gereja, mari kita menulis surat cinta untuk Romo Paroki, Uskup atau bahkan Paus. Surat tersebut dapat berupa harapan dan kegelisahan yang dirasakan di dalam Gereja. Surat tersebut dapat bersifat pribadi atau perwakilan sebuah kelompok kaum muda. Kemudian, surat tersebut dapat ditujukan langsung kepada Gereja terkait.

Supaya kaum muda lainnya dapat ikut terlibat, unggahlah foto surat cintamu ke media sosial dengan tagar #RaiseYourVoice. Mention ke semua media sosial Asian Youth Day 2017. Tantang dirimu dan juga kelompokmu untuk membawa surat cinta ini menjadi bahan refleksi bersama dalam homili Gereja terkait. Jadikan harapan dan kegelisahanmu bersama kelompok didengarkan kepada umat lain sebagai bentuk kepekaan kaum muda dalam membangun Gereja yang lebih baik.