Asian Youth Day 2017

Joyful Asian Youth!

Pre-Event VIII – Sharing

Ilustrasi Video

Beberapa anak muda terlihat bermain-main di suatu daerah terbuka. Mereka membuat tulisan besar “The Real Happiness is in Us”. Mereka seakan mau bercerita, dalam masa muda ada kebahagiaan. Dan kebagiaan itu adalah kabar gembira yang hendak mereka ceritakan ke orang lain. Bersama banyak orang, terlihat mereka bergembira bersama, berjoged sambil menaburkan bubuk pewarna berbagai macam. Gambaran sukacita khas orang muda yang warna-warni. Saat warna-warni itu bertemu, menjadi paduan indah. Bahkan tulisan “sharing” yang mereka tebarkan dari berbagai warna, bisa menyatu menyerukan kabar gembira.

Pengantar

Hidupmu adalah Pelita

Tidak seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” Lukas 11:33

Kata “pelita mungkin tidalah akrab bagi telinga kita orang muda. Jika susah membayangkan seperti apa “pelita” itu, kita menmbayangkan sebuah lampu. Di mana kamu memasang lampu dalam rumahmu? Apakah kamu memasangnya di tempat tersembunyi sehingga tidak bisa dilihat oleh seorang pun? atau kita menggantungnya di atas sehingga cahaya lampu itu dapat menerangi seluruh ruangan?

Kabar gembira yang diwartakan oleh Yesus Kristus sesungguhnya adalah “pelita” yang kita butuhkan. Kabar gembira itu telah membuat kita yang mengimani dan mempercayainya tidak lagi tinggal dalam kegelapan. Tidak tinggal dalam kegelapan tidak hanya berarti kabar gembira itu memberikan keselamatan tapi juga cinta, harapan, dan kekuatan untuk berubah dan bertumbuh sebagai orang muda Katolik.

Kabar Gembira tak bisa disimpan dan dimiliki sendiri.

Kita sebagai orang muda Katolik, membuat terang “pelita” kita dengan mencintai orang-orang di sekitar kita dan berbagi kabar gembira dengan mereka pula. Terang “pelita” yang diberikan Allah kepada kita dengan cuma-cuma itu tidaklah untuk diri kita sendiri melainkan Allah juga memanggil kita untuk membagikan terang pelita itu bagi banyak orang. Itulah mengapa “pelita” itu diletakkan di atas kaki dian, supaya  kita semua melihat dan menjadi “pelita” itu. Jadi, yang diharapkan dari Allah dengan menempatkan pelita itu di kaki dian bukanlah semata-mata kesempurnaan diri sendiri yang kita kejar melainkan hidup yang menerangi lingkungan, lebih jelas lagi, kita menjadi saksi nyata kebaikan Tuhan lewat perbuatan baik yang dilihat orang sehingga orang yang melihat pun merasakan dan mengalami kebaikan yang sama. Hidup sebagai terang berpusar ke luar, tidak berputar ke dalam. Orang tak bisa tinggal hanya di dalam kelompok sendiri. Mau tak mau akan ikut berperan di dalam macam-macam tataran lain. Apalagi di era yang makin mengalami globalisasi ini, makin besar pula peran terang tadi. Yang tidak menjalankannya akan menjauhi kenyataan dan menjadi gelap, ambles, padam, tak masuk hitungan.

Kita pun ingat dalam khotbah Yesus di bukit, Yesus berkata di depan banyak orang bahwa “Kamu adalah terang dunia! (Mat 14). Kalimat ini menginatkan kita bahwa terang itu sudah ada dalam diri kita, orang muda katolik. Maka jangan biarkan padam, redup atau kita sembunyikan. Menjadi terang, berarti pula kita akan berhadapan dengan kegelapan. Itulah hidup !! Terang dan gelap adalah dua realitas yang tidak bisa kita hindari. Rasa takut, cemas, tidak percaya diri, iri hati, sombong, segala kelemahan dan kekurangan diri, dll akan menjadi gelap yang selalu mengintai langkah perjalanan “pelita” kita. Akan tetapi, dengan kesadaran bahwa gelap itu akan selalu mengintai justru menjadikan gelap sebagai peluang bagi diri kita untuk berubah dan bertumbuh dalam terang.

Saatnya OMK memberanikan diri sebagai murid Kristus, menjadi pewarta. Gunakan seluruh daya hidup mudamu!

Di dalam masyarakat modern pelbagai macam nilai bermunculan silih berganti, segudang gagasan dipasarkan, pelbagai keyakinan diperjualbelikan. Di hadapan semua itu orang bisa ikut arus dan akhirnya tenggelam. Acap kali ada yang memilih jalan mudah dengan menentang semua yang beredar di dunia. Itukah pengajaran bagi para murid? Pelita tidak mesti berkonfrontasi dengan dunia. Berkat pelita, kita bisa melihat bentuk, warna, dan segala kenampakan dimensi yang ada di dunia. Peran utamanya justru membuat dunia tak gampang membusuk dan malah semarak indah dilihat, bukan mencurigai dan memusuhinya.

Kerap kali sikap kurang menerima dan memusuhi dunia berawal dari kurang mengenali apa yang sedang terjadi. Maka tindakan yang paling bijak ialah dengan segala daya yang kita miliki,  kenalilah dulu dunia sekitar kita lalu membuat agar didengar dan dikenal terlebih dulu secara apa adanya. Jangan terburu-buru menghakimi dunia yang sejatinya belum kita kenali. Kita harus jujur dengan kapasitas diri kita dan terbuka pula pada kehadiran orang lain. Tanpa kejujuran,dengan mudah terjadi saling kecurigaan, saling meng-hoax  atau shaming mengenai itikad baik masing-masing dan kesetujuan-kesetujuan bersama susah tercapai. Memang dunia ini dengan tantangannya dapat mengakibatkan sikap apatis, luntur, ngikut aje, pindah-pindah. Tetapi justru terang bagi dunia itu akan menghilangkan kekaburan dan mengendalikan kesimpangsiuran.

Maka kaum muda, gunakankanlah  “pelitamu” untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Let’s to share to love

Temukan caramu untuk mewartakan Kabar Gembira dengan pertanyaan Seberapa terangkah kamu sebagai orang muda katolik?

Tokoh Inspiratif: St. Mark

Turn Back , MARK !

Santo Markus kita kenal sebagai penulis Injil yang pertama yakni sekitar tahun 60-an Masehi. Santo Markus ini adalah anak seorang umat kristen di Yerusalem dan ia juga saudara sepupu dari Santo Barnabas.

Mengenai kisah Markus sendiri dapat kita temukan namanya dalam Kisah Rasul paulus.  Jika membaca kisah hidup  Santo Markus dengan lebih teliti, yang menarik adalah Markus menemani perajalanan misi Barnabas dan Paulus. Akan tetapi, tampaknya,perjalanan misi itu bukanlah sebuah kisah yang indah bagi Markus. Tidak tahu apa sebabnya, dikisahkan bahwa Markus pulang dari perjalanan misinya (12:25; 13:13). Kepulangan Markus ini menyebabkan Rasul Paulus mencak-mencak marah dan menolak untuk mengajaknya lagi dalam misinya selanjutnya. Akhirnya Markus pergi dengan  Barnabas untuk mewartakan kabar gembira di Ciprus. Hubungan Paulus dan Markus akhirnya baik kembali setelah Markus mengungi Paulus di penjara Roma.

Dari kisah singkat di atas, pertama, Markus, mungkin  bukanlah seorang misinaris yang sukses karena kepulangannya atau ‘kalah’ tenar dengan Paulus. Tetapi kita melihat pula bahwa Allah memberi Markus sebuah kesempatan lain. Ia sukses membagikan kabar Gembira dengan untaian tulisannya yang kita kenal dengan Injil Markus. Kedua, isi dari Injil Markus sendiri banyak menggambarkan kelemahan dan kejatuhan yang di alami para murid. Apa yang mau ditampilkan Markus dengan kisah-kisah kegagalan kemuridan ini? Menjadi orang Kristen menurut Markus membutuhkan komitmen sekalipun itu tidak enak dan  mengecewakan.

Aktivitas Pre-Event VIII

Untuk kegiatan di pre-event ke-8 ini, silahkan lihat kegiatan di pre-event ke-7.